PERANAN "STUNTMAN" (PEMERAN PENGGANTI)
DALAM KEHIDUPAN KELUARGA KITA
Dalam dunia film action kita mengenal satu istilah yakni "stuntman" atau pemeran pengganti. Mereka menggantikan pemain tertentu untuk aksi yang cukup berbahaya atau jika pemeran utama tidak sanggup melakukannya.
Keluarga kita juga kadang butuh stuntman seperti ini. Kehidupan keluarga yang kita bangun tak bisa sempurna. Selalu ada kekurangan atau keterbatasan kita di area tertentu. Sebagai contoh, kemampuan kita mengajari anak-anak kita ilmu matematika atau ilmu science di sekolah. Ketika ia mengalami kesulitan, dia minta bantuan kita, tetapi kita tidak sanggup menolongnya, sebab pemahaman kita terbatas. Untuk itu kita memberikan dia les matematika dan science, agar guru lesnya bisa membantu (tentu tidak semua kita les-kan – ini hanya ilustrasi). Guru les inilah yang saya maksudkan sebagai stuntman (pemeran pengganti) kita dalam area matematika atau science bagi anak.
Cukup banyak single parents (kaum Ibu) yang datang konseling ke kantor LK3 (Layanan Konseling Keluarga dan Karier). Mereka mengeluh karena anak laki mereka kadang minta perhatian lebih atau kurang mau mendengarkan sang Ibu. Saya memberikan salah satu saran agar sang Ibu mencarikan si anak "stuntman", yakni para pria yang bisa mengisi kekosongan figur ayah pada si anak. Figur itu bisa dicari pada guru sekolah minggu, pembina remaja, guru di sekolah, atau paman dari keluarga sendiri. Tentu stuntman yang dicari adalah figur yang cukup baik bagi si anak, bisa menjadi role model. Ini tentu tidak mudah, tapi hal ini sangat penting melengkapi keadaan kita yang terbatas.
Saya sering memberikan seminar di sekolah sekolah kristen untuk parents (ortu). Di IPEKA, Sekolah Pelita Harapan, Sek Dian harapan, BPK Penabur dll. Tak jarang sesudah seminar ada ortu yang mengeluh: "Pak, maunya tema ini diberikan pada anak-anak kita. Kalau kita yang ngomong mereka tak mau dengar". Atau, "Pak, kita sih udah ngomong sama anak, tapi anak tidak mau dengar. Habis suami juga tak mau terlibat dalam megasuh anak-anak di rumah".
Kondisi di atas adalah salah satu pendorong kami mengadakan Youth With A Vision. YWAV 1 (retret konseling remaja usia 14-19 tahun). YWAV akan kami adakan tanggal 3-6 Januari 2008 di Ciawi. Kami mengundang beberapa pembicara yang kami kenal baik, yang dapat berbicara langsung dengan para remaja tentang 20 isu penting dalam kehidupan mereka. Ini juga salah satu stuntman dalam kehidupan kita, yakni komunitas. Kelompok (komunitas) yang dapat memberi inspirasi, motivasi dan visi hidup kepada mereka. Terima kasih jika Anda mau berdoa untuk acara retret konseling remaja LK3 ini dan tindak lanjutnya, dan juga menginformasikan kepada yang membutuhkannya.
Salam konseling !
Julianto Simanjuntak & Roswitha
Komentar-Komentar
beri komentar baru