Sehelai Daun Busuk, Pohon Ditebang?

dianpra's picture

Topic Blog: Leadership, Renungan dan Artikel

Komunitas Umum: Network Kepemimpinan, Network Renungan dan Artikel

Keywords Blog: harto, kepemimpinan, kristen, mengampuni, Suharto

SuhartoMasih ingat waktu Pak Harto meninggal. Yang ada saat itu kebanyakan adalah sanjungan atas jasa-jasanya selama beliau hidup. Beda dengan keadaan selama ia hidup setelah jadi mantan presiden, bertubi-tubi caci maki diarahkan padanya setelah ia lengser keprabon tahun 1998 lalu. Bahkan, ada juga beberapa pihak yang masih dendam padanya dan menuntut agar sidang perdatanya terus digulirkan.

Pertanyaannya sekarang? Apa pantas ia diperlakukan seperti itu, setelah beliau meninggal barulah disanjung-sanjung, mengapa hal seperti itu ngga dilakuin dulu-dulu waktu ia masih hidup, toh beliau memang berjasa, meski beliau punya salah juga. Dulu, selama jadi mantan presiden, beliau dicela-cela ngga ada habisnya. Jasa-jasanya seakan dilupakan begitu saja. Padahal kalau dipikir, dulu waktu masih dipimpin Pak Harto, harga sembako ngga mahal. Malahan negara kita bisa membantu negara lain. Sekarang kebalikannya, malahan negara kita yang dibantu.

Memang gampang sekali bagi kebanyakan dari kita untuk terus mengingat-ingat kesalahan orang lain. Saat orang lain salah, kebaikannya seakan tidak dianggap dan diperhitungkan lagi. Bahkan, ada juga perumpamaan yang cocok banget sama situasi semacam itu: "Karena nila setitik, rusak susu sebelanga."

Lalu apa pantas bagi kita, orang Kristen, untuk berbuat seperti itu. Aku rasa tidak. Sebagai orang Kristen, kita diajar untuk mengampuni, setahuku begitu. Allah saja mengampuni kita dengan mengirim Yesus untuk menebus dosa kita, padahal kita ini penuh dosa. Ia melakukan itu karena Ia mengasihi kita, begitu bukan?! Jadi, apa salahnya jika kita belajar untuk mengampuni orang yang salah dengan kasih. Berat memang, tapi pengampunan bisa terbantu terwujud saat kita tidak hanya fokus pada kesalahan orang lain, tapi juga kebaikan-kebaikannya.

Setiap orang, termasuk pemimpin, pastilah punya kesalahan. Musa pun sebagai pemimpin besar juga pernah salah. Daud pun juga pernah melakukan kesalahan saat ia berselingkuh dengan Betsyeba. Terus apa pantas kalau kesalahan itu menghapus semua prestasi dan jasa yang udah mereka capai? Jangan karena satu daun busuk lalu kita menebang seluruh pohonnya.

Komentar-Komentar

evie's picture

ada tanggung jawab

Mengampuni tidak sama dengan membiarkan orang yang bersalah tidak bertanggung jawab dengan kesalahan yang telah dibuat.
Musa sering melakukan kesalahan, Tuhan mengampuninya, namun dia tetap harus bertanggung jawab dengan kesalahan yang telah ia buat. Daud pun demikian.
Pak Harto pun demikian. Ampuni dia sebagai sesama manusia, namun tetap harus bertanggung jawab dengan semua kesalahannya untuk menjadi pelajaran berharga bagi anak cucu bangsa Indonesia dikemudian hari .......

dianpra's picture

Hai Mba Evie

Aku ngerti maksudmu Mba, aku juga ngga mempermasalahkan kalau Pak Harto dihukum, hanya caci makinya itu loh, rasanya koq ngga patut.

MAYAT BERKARUNG-KARUNG

Era Orba ada mayat dikarungin hampir tiap hari, dibuang ke kebon-kebon. Sejak era reformasi kejadian itu sudah berakhir. Syukurlah.

Orang-Orang hilang itu sampai saat ini entah kemana, dimana?, GONE LIKE THE WIND.

-pen0nt0n-

beri komentar baru

CAPTCHA
This question is for testing whether you are a human visitor and to prevent automated spam submissions.
+ tujuh = sembilan
Kerjakan soal tersebut dan masukkan jawab dengan angka bukan huruf. Contoh : "dua tambah empat = ?" masukkan "6".