Apakah Seseorang Yg Sudah Diselamatkan Dapat Meninggalkan Iman dan Terhilang (2)

Sword of Spirit's picture

4. Semua Berkat yang Terkait dengan Keselamatan Adalah Milik Saya Karena Saya Ada Dalam Kristus Banyak pendukung "sekali selamat tetap selamat" (SSTS), menggunakan argumen-argumen yang bersifat emosional, yang sesungguhnya tidak lulus jika dicermati secara Alkitabiah. Mereka menggunakan argumen seperti: "Agar saya dapat kehilangan keselamatan saya, saya harus merebut jiwa saya sendiri dari tangan Allah, membongkar meterai Roh Kudus, menyangkal bahwa saya anak Allah, membatalkan kewargaan saya di surga, dan lain-lain." Argumen seperti ini menunjukkan salah pengertian yang mendalam tentang gambaran yang sebenarnya di mata Allah.


Alkitab mengatakan bahwa semua berkat yang kita miliki, kita miliki dalam Kristus! "Terpujilah Allah dan Bapa Tuhan kita Yesus Kristus yang dalam Kristus telah mengaruniakan kepada kita segala berkat rohani di dalam sorga" (Ef. 1:3). Bacalah Efesus 1:1-14, dan penekanan perikop itu adalah tentang apa yang kita miliki "dalam Kristus," termasuk semua berkat, pemilihan kita, status kita sebagai anak, penebusan, pengampunan dosa, dan meterai Roh Kudus. Kita memiliki semua ini bukan karena kehebatan kita sendiri ataupun karena kita layak, tetapi karena kita berhubungan dengan Kristus. Dengan kata lain, ketika Allah Bapa melihat kita, Ia melihat kita sebagai anak-anakNya, bukan karena sesuatu dalam diri kita sendiri, tetapi karena kita terhubung dengan Kristus. Baca Galatia 3:29 "Dan jikalau kamu adalah milik Kristus, maka kamu juga adalah keturunan Abraham dan berhak menerima janji Allah." Perhatikan kata "jika"!! Jika kamu milik Kristus, kamu memiliki semua janji Allah. Jadi, barangsiapa tidak ada di dalam Kristus, maka ia tidak memiilki janji-janji itu. Pertanyaannya ialah, bagaimanakah kita bisa berada dalam Kristus atau terhubung dengan Kristus? Jawabannya adalah dengan iman!!

Kristus disebut Adam kedua. Kita terhubung dengan Adam pertama melalui proses kelahiran, dan kita akan mati karena hubungan kita kepada Adam pertama itu. Kita dapat terhubung pada Adam Kedua, bukan melalui kelahiran, tetapi melalui iman (kelahiran kembali). Jadi, kondisi berada dalam Kristus, itu bergantung pada iman kita padaNya. Jika kita tidak memiliki iman, kita tidak ada dalam Kristus. Mereka yang beriman adalah mereka yang ada dalam Kristus. Efesus 3:17 sangat jelas, "sehingga oleh imanmu Kristus diam di dalam hatimu dan kamu berakar serta berdasar di dalam kasih." Alkitab penuh dengan referensi bahwa kita berada dalam Kristus, atau terhubung dengan Kristus, melalui iman.

Jadi, sungguh adalah kesalahpahaman jika ada yang berkata, "kamu tidak dapat terhilang lagi, karena kamu adalah anak Allah, kamu memiliki kewargaan surga, dll." Argumen seperti ini seolah-olah menyatakan bahwa semua berkat tersebut adalah sesuatu yang melekat pada diri saya karena diri saya sendiri. Tetapi Alkitab berkata bahwa di luar Kristus, kita bukanlah apa-apa dan tidak dapat melakukan apa-apa (Yoh. 15:4-5). Jadi, jauh lebih Alkitabiah untuk melihat semua berkat tersebut bukan melekat pada diri orang itu, tetapi berkat-berkat tersebut datang karena ia ada "dalam Kristus." Jadi, jika seseorang lepas dari Kristus (karena tidak beriman) maka hubungannya dengan Kristus akan hilang, dan demikian juga semua berkat keselamatan. Seseorang yang adalah warga surga, ia warga surga karena ia ada dalam Kristus. Jika ia lepas dari Kristus, ia bukan warga surga lagi. Seseorang yang dimeteraikan Roh Kudus, ia dimeteraikan karena ia percaya (beriman), dan ada dalam Kristus. Jika ia lepas dari Kristus, maka meterai tersebut dicabut dari dirinya.

Dapatkah seorang yang sudah percaya lepas dari Kristus? Jawabannya, menurut Alkitab adalah YA yang lantang, lihat Galatia 5:1-6 (sudah dikutip di atas), dan juga Yohanes 15:4-9: "Tinggallah di dalam Aku dan Aku di dalam kamu. Sama seperti ranting tidak dapat berbuah dari dirinya sendiri, kalau ia tidak tinggal pada pokok anggur, demikian juga kamu tidak berbuah, jikalau kamu tidak tinggal di dalam Aku. Akulah pokok anggur dan kamulah ranting-rantingnya. Barangsiapa tinggal di dalam Aku dan Aku di dalam dia, ia berbuah banyak, sebab di luar Aku kamu tidak dapat berbuat apa-apa.

Barangsiapa tidak tinggal di dalam Aku, ia dibuang ke luar seperti ranting dan menjadi kering, kemudian dikumpulkan orang dan dicampakkan ke dalam api lalu dibakar. Jikalau kamu tinggal di dalam Aku dan firman-Ku tinggal di dalam kamu, mintalah apa saja yang kamu kehendaki, dan kamu akan menerimanya. Dalam hal inilah Bapa-Ku dipermuliakan, yaitu jika kamu berbuah banyak dan dengan demikian kamu adalah murid-murid-Ku." "Seperti Bapa telah mengasihi Aku, demikianlah juga Aku telah mengasihi kamu; tinggallah di dalam kasih-Ku itu."


Pertama-tama, perhatikan perintah untuk tinggal di dalam. Yesus mengatakan semua ini kepada orang yang sudah percaya. Mereka sudah "ada dalam Kristus," barulah bisa ada perintah untuk "tinggal di dalam." Jika orang percaya tidak mungkin tidak "tinggal," maka tidak akan ada perintah untuk "tinggal." Adanya suatu perintah, tentunya berarti bahwa ada kemungkinan untuk tidak melakukan perintah itu. Jika seorang tidak tinggal dalam Kristus (yaitu terus percaya padaNya), maka ia diperhadapkan pada penghakiman yang digambarkan dengan kata-kata "dicampakkan ke dalam api lalu dibakar." Ini adalah acuan pada hukuman kekal. Keith Piper mencoba untuk mengelak dengan berkata bahwa yang dikumpulkan untuk dibakar adalah perbuatan orang tersebut, bukan orangnya sendiri. Jadi, menurut Piper, yang terbakar adalah "perbuatannya," bukan orangnya. Pemikiran seperti ini salah dalam minimal tiga hal. Pertama, konteks perikop ini bukan berbicara mengenai perbuatan seseorang, perikop ini berbicara mengenai ranting, yang diidentifikasi dalam perikop sebagai orang yang percaya pada Kristus. Jadi, bukan perbuatan yang disorot di sini, tetapi orangnya.


Kedua, ranting tersebut dikatakan "dibuang keluar seperti ranting dan menjadi kering." Jelas, yang dibuang adalah ranting, dan bukan buah (perbuatan). Ranting menjadi kering karena tidak lagi ada dalam pokok yang benar, yaitu Kristus. Ketiga, jika apa yang dikatakan Piper benar, bahwa orang yang bersangkutan masih masuk surga maka lucu sekali akan ada orang yang "di luar Kristus," tetapi masuk surga. Ide seperti itu sama sekali tidak ada dalam Alkitab.


5. Janji-janji dalam Alkitab selalu bersyarat pada Iman
Masih berhubungan dengan argumen di poin sebelumnya, ingat bahwa semua yang kita miliki, kita miliki dalam Kristus. Kita berada dalam Kristus karena kita percaya padaNya (beriman padaNya). Jadi, semua janji dalam Alkitab sebenarnya bersyarat pada percaya! Nah, percaya macam apa yang dimaksud?


Mayoritas janji-janji Allah yang tercatat dalam Alkitab, menggunakan kata kerja present tense ketika mengacu pada "percaya" yang mendatangkan hidup kekal. Beberapa contoh cukup:
ù "supaya setiap orang yang percaya kepada-Nya beroleh hidup yang kekal." (Yoh. 3:15)
ù "Karena begitu besar kasih Allah akan dunia ini, sehingga Ia telah mengaruniakan Anak-Nya yang tunggal, supaya setiap orang yang percaya kepada-Nya tidak binasa, melainkan beroleh hidup yang kekal." (Yoh. 3:16)
ù "Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya barangsiapa mendengar perkataan-Ku dan percaya kepada Dia yang mengutus Aku, ia mempunyai hidup yang kekal dan tidak turut dihukum, sebab ia sudah pindah dari dalam maut ke dalam hidup." (Yoh. 5:24)
ù "Kata Yesus kepada mereka: "Akulah roti hidup; barangsiapa datang kepada-Ku, ia tidak akan lapar lagi, dan barangsiapa percaya kepada-Ku, ia tidak akan haus lagi." (John 6:35)
ù "Sebab inilah kehendak Bapa-Ku, yaitu supaya setiap orang, yang melihat Anak dan yang percaya kepada-Nya beroleh hidup yang kekal, dan supaya Aku membangkitkannya pada akhir zaman." (Yoh. 6:40)
ù "Domba-domba-Ku mendengarkan suara-Ku dan Aku mengenal mereka dan mereka mengikut Aku, dan Aku memberikan hidup yang kekal kepada mereka dan mereka pasti tidak akan binasa sampai selama-lamanya dan seorangpun tidak akan merebut mereka dari tangan-Ku." (Yoh. 10:27-28)


Semua kata kerja yang dicetak tebal di atas adalah dalam bentuk present tense. Sebagaimana diketahui oleh semua murid Yunani, present tense berarti aksi yang terus menerus. Jadi, keselamatan itu bersyarat, bukan pada iman yang hanya sekali waktu, tetapi iman yang terus menerus pada Yesus.


6. Manusia Tidak Kehilangan Kehendak Bebas Ketika Ia Percaya
Doktrin SSTS pada dasarnya menghilangkan kehendak bebas dari manusia ketika ia menjadi percaya. Ironisnya, kehendak bebas ini hanya dihilangkan dalam hal keselamatan. Pendukung SSTS akan mengakui bahwa ada kehendak bebas dalam semua aspek kehidupan lainnya (seorang Kristen dapat mundur imannya, dapat melakukan hal-hal yang menyedihkan hati Tuhan), tetapi sama sekali tidak punya kehendak bebas dalam hal menolak iman yang pernah ia terima.


Pendukung SSTS mencoba untuk memaksakan bahwa orang yang percaya itu permanen percaya, dengan mengutip ayat-ayat seperti Yoh. 5:24,
"Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya barangsiapa mendengar perkataan-Ku dan percaya kepada Dia yang mengutus Aku, ia mempunyai hidup yang kekal dan tidak turut dihukum, sebab ia sudah pindah dari dalam maut ke dalam hidup."
Nah, kata mereka, ayat ini memproklamirkan bahwa orang percaya "tidak turut dihukum." Tetapi mereka lupa bahwa ayat ini memberikan janji tersebut kepada orang percaya. Sebagai perbandingan, mari kita lihat Yohanes 3:36: "Barangsiapa percaya kepada Anak, ia beroleh hidup yang kekal, tetapi barangsiapa tidak taat kepada Anak, ia tidak akan melihat hidup, melainkan murka Allah tetap ada di atasnya."

Kalau kita bandingkan:
Yohanes 5:24 Yohanes 3:36
barangsiapa....percaya barangsiapa....tidak taat [tidak percaya]
tidak tidak
turut dihukum akan melihat hidup

Picirilli menyatakan: Secara grammatis, jika [pernyataan] yang pertama berarti bahwa keadaan orang percaya tidak dapat berubah, maka [pernyataan] kedua juga berarti bahwa keadaan orang yang tidak percaya juga tidak dapat diubah.


Sebenarnya, kedua perikop ini tidak sedang berbicara tentang itu [apakah keadaannya dapat diubah] ... Setiap janji tersebut berlaku dengan kuasa yang sama pada mereka yang terus menetap pada keadaan yang digambarkan [percaya atau tidak percaya].


Hal yang sama dapat dikatakan tentang semua janji bahwa orang percaya "tidak akan binasa." Saya kutip lagi satu pemikiran:
"Tidak ada yang berani mengatakan, bahwa karena orang yang tidak percaya dinyatakan tidak akan melihat hidup, maka ia secara permanen terikat tanpa pengharapan pada kondisi itu. Sebenarnya, adalah benar bahwa sebagai seorang yang tidak percaya, ia tidak akan melihat hidup, tetapi jika ia kemudian menjadi percaya, maka ia akan melihat hidup. Nah, kalau kata-kata "tidak akan melihat hidup" yang diterapkan pada orang yang tidak percaya, ternyata tidak dilanggar jika orang tidak percaya tadi menjadi percaya dan akhirnya melihat hidup, maka mana kontradiksinya jika seorang percaya dikatakan "tidak akan binasa," tetapi jika ia menjadi tidak percaya, maka ia binasa? Faktanya, sebagai seorang percaya, selama ia tetap percaya, ia tidak akan binasa."

Pada akhirnya:
ù Jika seseorang dapat menerima atau menolak Kristus sebelum ia diselamatkan, mengapa, kapan, dan bagaimanakah ia kehilangan kehendak bebas itu? Jawaban Alkitabiah adalah bahwa ia tidak kehilangan kehendak bebas itu dan masih dapat meninggalkan iman.
ù Jika keselamatan itu bersyarat pada awalnya (seseorang harus percaya Kristus), sejak kapan, mengapa, dan bagaimanakah sifat keselamatan itu tiba-tiba berubah menjadi tidak bersyarat kemudian? Jawaban Alkitabiah sekali lagi adalah bahwa keselamatan masih bersyarat pada iman.


7. Ada begitu banyak Firman Tuhan yang mendukung Kemungkinan Meninggalkan Iman

Perikop-perikop ini terbagi menjadi beberapa kategori:
A. Perikop yang dengan jelas mengacu pada kejadian meninggalkan iman
ù 1 Tim. 4:1
ù 1 Tim. 1:18-20
ù 2 Tim. 2:16-18


B. Perikop yang memperingatkan bahaya murtad atau meninggalkan iman (yang berarti ada kemungkinannya)
ù Ibr. 6:4-6
ù Ibr. 10:19-39
ù 2 Pet. 2:20-22
ù Yoh. 15:1-9
ù Ibr. 12:25
ù 2 Tim. 2:11-13
ù 2 Yoh 1:9


C. Perikop tentang keselamatan yang diperoleh atas syarat iman yang terus menerus
ù Kolose 1:21-23
ù 1 Kor. 15:1-4
ù Ibr. 3:6, 14
ù Ibr. 10:38
ù Gal. 5:1-6


Ijinkan saya untuk memotong sebentar di sini untuk menunjukkan suatu poin kebenaran yang sangat penting.
Dalam sebuah dokumen, katakanlah sebuah kontrak, atau surat persetujuan antara dua pihak, maka jika suatu syarat dinyatakan dengan jelas di salah satu bagian kontrak atau persetujuan tadi, syarat itu berlaku dan mengikat, walaupun hanya satu kali dinyatakan!!


Di bawah ini saya berikan suatu contoh fiktif, yaitu sebuah surat imajiner dari seorang raja kepada rakyatnya:
Rakyatku yang ku kasihi, saya menulis untuk memberitahukan kalian suatu kabar baik. Untuk memperingati ulang tahunku yang kelima puluh, yang akan jatuh satu bulan dari sekarang, saya telah memutuskan untuk membagikan banyak hadiah dan berkat. Hadiah dan berkat ini adalah bagi semua yang turut memperingati ulang tahunku. Anda harus memakai pita yang akan saya bagikan dalam satu bulan ini.


Barangsiapa yang memakai pita, maka ia berhak atas semua hadiah dalam pesta ulang tahun saya. Apa saja hadiah yang saya sediakan? Bagi semua kalian yang berhutang uang pada negara, maka saya telah mempersiapkan uang pribadi saya untuk melunasi hutangmu. Ketahuilah bahwa dana saya tidak terbatas, dan saya dapat membayar hutang semua orang. Selain itu, orang yang ikut merayakan ulang tahun saya juga akan saya pekerjakan di pabrik saya. Saya ingin tegaskan, bahwa saya akan memberi gaji yang sangat bagus untuk pekerja pabrik saya. Lowongan pekerjaan tidak akan habis. Ingat, jangan takut akan semua hutangmu, karena saya akan bayarkan itu semua. Hadiah saya juga termasuk hak untuk menikmati taman saya yang indah setiap hari. Kalian juga boleh memanggil saya dengan panggilan khusus, yaitu Tuan yang Baik. Sungguh, kalian mendapatkan hadiah yang sedemikian hebat. Ingat, bahwa kalian harus memakai pitaku hingga akhirnya, jika tidak sia-sia saja kalian mendapat pita. Tetapi saya menulis kepada semua pemakai pitaku, bahwa kalian dapat tahu dengan pasti, bahwa hutang kalian semua telah dibayarkan untuk selama-lamanya.


Nah, ini hanyalah suatu surat imajiner yang pendek. Saya bukan ingin mengatakan bahwa surat ini persis sama menggambarkan keselamatan yang kita terima dari Allah, tetapi surat fiktif ini membuat sebuah poin. Walaupun janji sang Raja banyak sekali, dan sangat indah dalam dokumen ini, juga ada syarat (memakai dan terus memakai pita) yang dinyatakan dengan jelas. Jadi, tidak peduli ada berapa janji yang diberikan dan diulangi lagi setelah ini, syarat itu berlaku, walaupun syarat mungkin tidak disebut ulang bersama tiap janji.


Hal yang sama terjadi dalam Alkitab. Alkitab adalah satu dokumen. Jika Allah dengan tegas menyatakan syarat keselamatan dalam minimal satu bagian Alkitab, maka syarat tersebut berlaku pada semua janji Alkitab mengenai keselamatan. Nyatanya, dalam Alkitab lebih indah lagi: Allah menyatakan syarat yang Ia tuntut untuk mendapatkan keselamatan yang Ia sediakan, bukan sekali, bukan dua kali, tetapi berulang-ulang kali. Syarat yang dimaksud adalah iman, dan bukan iman yang hanya bertahan satu detik, satu hari, satu tahun, tetapi iman yang terus sampai akhirnya. Juga, sama sekali tidak masuk akal untuk berkata, "ya, sekali saya beriman, saya tidak bisa kehilangan iman itu." Kalau demikian, mengapa Allah berulang kali memperingatkan orang percaya!! tentang tanggung jawab mereka untuk tetap tinggal dalam iman? Jika seorang percaya tidak dapat meninggalkan iman, maka sama sekali tidak perlu untuk memperingatkan dia tentang hal itu. Mengapa perlu memperingatkan seorang anak untuk tidak melompat terlalu tinggi hingga sampai ke bulan? Wah, itu hal yang konyol, anda berkata, mungkin bahkan dalam kategori membohongi anak kecil. Ya, memang benar demikian. Karena tidak mungkin ia melompat sampai ke bulan. Allah juga tidak menipu orang percaya dengan cara memperingatkan kita tentang hal yang tidak mungkin terjadi. Allah tidak memberikan peringatan palsu.


D. Perikop yang memerintahkan kita untuk tinggal dalam Kristus atau memegang teguh iman kita (yang berarti ada kemungkinan tidak mentaati perintah ini)
ù Yohanes 15:4-6
ù Yudas 1:21
ù Wahyu 2:10
ù Matius. 10:22
ù Ibrani 10:35


E. Perikop yang menyatakan kekhawatiran Paulus bahwa jerih payahnya akan sia-sia (karena bahaya bahwa mereka yang telah ia menangkan bagi Kristus meninggalkan iman)
ù Filipi 2:15-16
ù 1 Tesalonika 3:5
ù Galatia 1:6; 4:9-11

Ada begitu banyak ayat yang jelas mengajarkan kemungkinan murtad, atau meninggalkan iman, atau menolak Kristus setelah pernah menerima Dia. Lalu mengapakah banyak orang menentang doktrin ini? Ya, sebenarnya karena mereka sudah diajarkan doktrin yang bertentangan. Mereka telah diajarkan berbagai ayat yang seolah-olah mendukung SSTS, dan SSTS sudah mendarah daging dalam diri mereka, sehingga mereka menolak untuk melihat bukti yang begitu banyak menentang SSTS. Sama seperti seorang Kalvinis yang telah dicekoki dengan doktrin Limited Atonement (bahwa Yesus mati bukan untuk semua manusia).

Ketika kita menunjukkan pada mereka ayat-ayat yang mengajarkan bahwa "Yesus mati untuk semua manusia," apa respons mereka biasanya? Mereka akan berkata, "Semua tidak berarti semua."


Pendukung SSTS mempertunjukkan pola yang sama. Ketika kita menunjukkan kepada mereka ayat yang berkata, "murtad," mereka berkata, "ya, murtad tidak berarti murtad....tapi mereka belum pernah percaya." "Lepas dari Kristus" itu bukan artinya mereka belum pernah percaya Kristus. Jadi, mereka mendefinisikan ulang kata "murtad," dan pengertian "lepas dari Kristus," bertentangan dengan aturan bahasa yang berlaku. Cara menafsir seperti ini tidak jujur terhadap fakta Alkitab, dan datang dari pikiran yang mati-matian membela kepercayaan yang sudah dipegang. Apakah yang akan anda pertahankan? Saya lebih suka mempertahankan kebenaran, walaupun itu berarti mengubah kepercayaan saya. (Bersambung)

Kategori: Alkitab