Tantangan Yesus

Dari Abu-abu Menuju Hitam Putih
(Matius 16:24: ‘Setiap orang yang mau mengikut Aku, ia harus….’)

ISTILAH ‘abu-abu’ biasanya terdengar dalam pemilihan, baik Pileg, Pilkada maupun Pilpres. Istilah ‘abu-abu’ dipakai untuk menyatakan seseorang yang belum jelas pilihannya, misalnya, apakah ia akan memilih PD atau PDIP: belum jelas; apakah ia akan memilih Fauzi Bowo atau Alex Nurdin: belum jelas. Apakah ia akan memilih si A atau si B untuk sebuah posisi. Kalo abu-abu ada enaknya ada pula nggak. Enaknya adalah dia bisa berteman ke mana saja dan kalau misalnya Fauzi Bowo yang menang dia nggak dimusuhi dan kalau Alex Nurdin yang menang, ia juga nggak dimusihi. Nggak enaknya adalah kalau Fauzi Bowo yang menang dia nggak dapat keuntungan, kalau Alex Nurdin yang menang, ia juga nggak dapat apa-apa!

Selain dalam pemilihan resmi, istilah abu-abu juga dipakai untuk menyatakan sikap seseorang dalam berteman. Mungkin dalam sebuah lingkungan RT ada geng. Ada geng Bu Saodah yang terdiri dari mayoritas orang Betawi, ada pula geng Bu Broto yang mayoritas adalah orang Jawa. Seorang penghuni baru di RT tersebut, mau tak mau dipaksa untuk memilih masuk ke geng yang mana? Kalo dia menemani dua-dua itu artinya dia abu-abu! Ini pun ada enaknya ada pula nggak enaknya. Enaknya, dia tidak punya musuh. Nggak enaknya, adalah: dia bisa nggak punya teman dekat.

Lalu, yang dimaksud dengan Hitam Putih adalah memilih dengan jelas! Kalau tidak milih Fauzi Bowo ya Alex Nurdin, pilih satu saja. Kalau tidak Bu Saodah, ya Bu Broto! Ini namanya Hitam atau Putih. Kalau sudah hitam ya hitam! Kalau sudah putih ya putih! Menurut saya dalam berteman tidak perlu pilih-pilih. Tapi tidak dapat dipungkiri, dalam berteman kita pasti memilih mana yang kena buat kita. Mana yang ada ‘Chemistry’-nya! Dasar atau alas an kita untuk memilih mana tentunya bermacam-macam. Ada yang karena cocok saja. Karena kebetulan! Karena dari pertama sudah dekat! Dll.

Yesus menantang kita untuk menjadi Hitam atau Putih. Kalau abu-abu, artinya kita masih ragu, apakah ikut Yesus atau tunggu dulu. Kalau ikut Yesus berarti, seluruh hidup kita mulai kita arahkan kepada Yesus. Kalau kita bekerja adalah untuk melayani. Kalau kita ikut arisan adalah untuk melayani. Kalau kita ke gereja adalah untuk melayani. Kalau menjaga cucu dan memberi makan cucu adalah karena kasih sayang. Jadi seluruh hidup kita adalah pelayanan. Memang tidak berarti seluruh hidup kita langsung sempurna. Ini menuntut ketekunan dan kesabaran!

Kategori: Bahan Renungan Alkitab

Keywords Artikel: Pembaharuan

Topic Artikel: Renungan dan Artikel