Teologi: "Sebuah Definisi Ilmu"

"...Theology is taught by God, teaches by God, and leads to God."

Seseorang pernah menceritakan pengalamannya kepada saya setelah ia mengikuti beberapa sesi ceramah teologi. Katanya: "…Tapi [ceramahnya-red.], memang bagus sih. Hanya pembicaranya suka memakai istilah-istilah yang sulit dimengerti oleh "encim-encim dan kawan-kawannya". He…he...he... Tetapi biarlah Roh Kudus yang bekerja. Tiada yang mustahil bagi Tuhan kan?!

Kemudian saya menjawabnya: "Teologia memang barang 'impor'. Sesuai dengan asal-usul penggunaaanya, seringkali istilah-istilah dan bahasa-bahasa yang digunakan memerlukan penjelasan yang panjang dan luas. Bahkan untuk menjelaskan satu istilah, bisa menghabiskan waktu bertahun-tahun dan berjilid-jilid buku; baru dapat dipahami dengan baik? Belajar teologi tidak sama dengan belajar Alkitab. Pada dasarnya, untuk belajar teologi secara efektif, harus dimulai dari pengenalan dan pemahaman istilah-istilah teologia itu sendiri. Sebagai contoh, penggunaan istilah 'teologi'. Secara sederhana, mungkin orang akan menjawab 'ilmu tentang Allah' tetapi ketika penelitiannya mendalam dan luas, maka akan ditemukan istilah-istilah yang secara awam tidak lagi sederhana. Apalagi istilah teologi itu bukan berasal dari Alkitab, bahkan bukan istilah Kristen." Demikian, jawabku.

Sahabatku itu tertarik dengan penjelasanku. Katanya: "Terus untuk belajar mengenai 'teologi' itu mulai dari mana? Jawabku: "Mulailah dengan mempelajari definisi dan perkembangannya secara menyeluruh. Artinya, untuk belajar teologi, harus dimulai dengan mempelajari istilah 'teologi' dan perkembangan penggunaanya."

Demi menolong sahabatku itu untuk mengerti atua memahami ilmu teologia, maka saya memberikan penjelasan teologi secara definitif di bawah ini.

Definisi Teologi

Istilah teologi, dalam bahasa Yunani adalah "theologia". Istilah yang berasal dari gabungan dua kata "theos, Allah" dan "logos, logika". Arti dasarnya adalah suatu catatan atau wacana tentang, para dewa atau Allah. Bagi beberapa orang Yunani, syair-syair seperti karya Homer dan Hesiod disebut "theologoi". Syair mereka yang menceritakan tentang para dewa yang dikategorikan oleh para penulis aliran Stoa (Stoic) ke dalam "teologi mistis". Aliran pemikiran Stois yang didirikan oleh Zeno (kira-kira 335-263 sM.) memiliki pandangan "teologi natural atau rasional", yang disebut oleh Aristoteles, dengan istilah "filsafat teologi", sebutan yang merujuk kepada filsafat teologi secara umum atau metafisika.

Sejarah Penggunaan Istilah Teologi

Walaupun Filo (20 sM.-50 M., seorang Yahudi Helenis dan pemimpin komunitas Yahudi di Aleksandria. Filo juga seorang pengarang yang produktif. Ia menafsiran Pentateukh secara alegori), menyebut Musa seorang "theologos", yakni seseorang yang berbicara tentang Allah atau seorang juru bicara Allah, tetapi tidak ada bentuk bahasa Yunani yang menunjukkan istilah ini di dalam Perjanjian Lama Saptuaginta (LXX) atau di dalam Perjanjian Baru (Kecuali sebutan "theologos" di dalam manuskrip Wahyu kepada Yohanes). Istilah teologi mulai digunakan oleh kaum Apologis (sebuah kelompok kecil para pengarang Yunani abad kedua yang mengadakan pembelaan bagi kekristenan pada masa penganiayaan, fitnahan, dan serangan intelektual). Teologi kadang-kadang "merujuk kepada sesuatu yang ilahi", "sebutan Allah", sebuah makna yang seringkali muncul dalam perdebatan tentang keilahian Kristus (Christology) dan Roh Kudus. Pada tahun 200 M., kedua istilah Yunani dan istilah Latin untuk teologi disesuaikan terjemahannya untuk dipakai dalam pengajaran, biasanya dalam pengajaran Kristen tentang Allah. Athanasius, memakai istilah teologia sebagai cara untuk memahami tentang keberadaan Allah, yang dibedakan dengan dunia dan sebagainya, seperti yang dilakukan Agustinus untuk mengajarkan tentang Allah. Sesekali, dalam tulisan-tulisan bapak-bapak gereja istilah teologi merujuk kepada pemahaman yang luas dari doktrin-doktrin gereja. Dalam komunitas-komunitas iman, tidak ada pemisahan antara pengajaran tentang Allah dan pengetahuan (misalnya, pengertian dan pengalaman) tentang Allah. Dalam hal ini, teologia dapat berarti "memuji Allah".

Perkembangan Penggunaan Istilah Teologi

Istilah "teologi" dipakai oleh para penulis Sholastik (istilah yang digunakan oleh kaum humanis dan pada abad ke-16 digunakan oleh para sejarahwan filsafat untuk menjelaskan pandangan para filosof dan teolog pada abad pertengahan) dan universitas-universitas Baru di Eropa, di mana teologi menjadi sebuah pelajaran yang sangat sistematis, sebuah ladang studi dan pengajaran, bahkan sebagai sebuah disiplin atau sebuah ilmu. Pemakaian istilah teologi tidak sepenuhnya baru -- ini telah dimulai sebelumnya oleh komunitas Yunani Kristen dan beberapa di dalam tulisan-tulisan bapak-bapak gereja, tetapi hal ini masih merupakan bayangan perkembangan teologi sebagai sebuah disiplin akademis yang tidak hanya menjadi bagian dari komunitas Kristen. Pada saat yang sama para pelajar di universitas-universitas memperluas perbedaan antara macam-macam teologia yang beragam, di samping pembedaan umum antara teologi dan filafat, seperti halnya perbedaan antara iman (faith) dan alasan (reason). Walaupun para Reformator secara umum tidak sabar dengan perbedaan yang dibuat oleh para pelajar di universitas-universitas, namun para pendahulunya, pada zaman Konfesional Ortodoksi atau Protestan Skholastisme telah mengadopsi atau mengembangkan sebuah kategori yang luas tentang macam-macam teologi.

Istilah Teologi di Era Modern

Di era modern, teologi sering di pakai dalam pengertian yang luas dan cakupan yang komprehensif, yang merangkum semua disiplin ilmu, baik di universitas-universitas maupun dalam pelayanan-pelayanan gerejani (contohnya, bahasa alkitab, sejarah gereja, homiletika, dll.). Teologi adalah sebuah disiplin akademik, contohnya, literatur atau fisika. Lebih tepat, istilah teologi merujuk kepada pengajaran tentang Allah dan hubungannya dengan dunia dari penciptaan sampai penyempurnaan (consummation). Pengajaran ini telah dirangkum dalam sebuah catatan rasional yang dibuat secara spesifik oleh seseorang atau lebih dari suatu kualifikasi yang luas, yang mengindikasikan gereja atau tradisi termasuk, Monastik, Katolik Roma, Reformed, Evangelikal, Ekumenikal. Bahan-bahan dasar teologi, seperti alamiah, alkitab, konfesi-konfesi, simbol-simbol (misalnya, didasarkan pada sebuah 'simbol' gereja, yang artinya di sini adalah kredo-kredo, dll.). Teologi mengandung doktrin, seperti, doktrin baptisan, doktrin Trinitas, dll. Pusat organisasi atau motif atau fokus teologi, misalnya, perjanjian (covenan), liberasi, inkarnasional, feminisme, teologi salib -- masing-masing merujuk kepada lebih dari satu pokok bahasan. Tujuan teologi untuk memberi keputusan bagi pendengarnya, misalnya dalam apologetika, polemik, dll.

Penggunaan Istilah Teologi Hari Ini

Disiplin utama studi teologi hari ini dikelompokkan ke dalam beberapa bagian, di antaranya, teologi biblika, teologi historika, teologi sistematika, teologi filsafat, teologi pastoral dan teologi praktikal dan yang kurang dikenal secara luas, seperti teologi dogmatika (dogmatic theology), teologi liturgika dan teologi fundamental. Sebenarnya, lebih banyak lagi ragam teologi; setidaknya bersifat konfesional atau mencirikan suatu denominasi.

Jadi, Apa Arti Teologi?

Definisi yang sangat baik untuk teologi yang diekspresikan oleh Thomas Aquinas, adalah, "theology is taught by God, teaches by God, and leads to God." Tertarik belajar teologi?
----
Sumber: S.B. Ferguson, D.F. Wright, J.L. Packer (Eds.), NDT: "Theology" (Downer Groves, Illionis: InterVarsity Press, 1988), 680-681. Baca juga di http://www.pesta.org/node/683

Sola Gratia,
Riwon Alfrey

Kategori: Teologi

Keywords Artikel: Definisi, Teologi

Topic Artikel: Teologi dan Alkitab

Comments

Anda membuat teologi tidak

Anda membuat teologi tidak bicara tentang Allah, tetapi tentang istilah-istilah, seperti biologi dengan istilah-istilah latinnya.
Itulah sebabnya kenapa saya tidak suka orang-orang teologi.
Kalian (termasuk Anda) orang-orang yang suka memakai istilah untuk sesuatu yang sederhana. Makin banyak istilah yang anda tulis makin pusing saya membaca. Karena memang bagi kalian teologi itu hanyalah istilah-istilah membingungkan.
Usul, pakai bahasa yang sederhana. Tidak perlu mutar-mutar.

Teologi Koq Dibuat?

Salam

Teologi tidak dibuat? Teologi itu dikembangkan dan diajarkan. Untuk belajar teologi memang tidak cukup hanya 3 bulan atau membeo kemudian menjadi teolog. Hanya menyebut nama Yesus saja, orang sudah berteologi. Mengapa, karena anda memerlukan penafsiran lagi tentang apa arti nama Yesus itu. Diperlukan waktu seumur hidup untuk berteologi. Yah, kalau berteologia untuk merusak kebenaran sih mudah aja. Selain itu, teologi memang bidang khusus yang sarat dengan istilah-istilah yang memang kadang-kadang aneh atau membingungkan. Makanya langka orang-orang yang menjadi ahli dan menulis risalah teologi. Oleh sebab itu, kamus teologi dibuat. Biar nggak "mutar-mutar", mulailah dengan memahami istilah-istilah teologia berdasarkan kamus-kamus teologi dan Alkitab yang tersedia.

Selamat belajar dan jangan alergi dengan istilah.

Demikian

surat terbuka

dear penulis,

Kenapa Anda tidak menggunakan istilah yang mudah dimengerti oleh orang awam?

Saya memang tidak memiliki latar belakang teologi (dan juga pengunjung lainnya), oleh karena itu saya berharap bisa membaca artikel teologi yang mudah dimengerti. Tidak lucu jika saya membaca sebuah artikel dan membuka kamus teologi puluhan kali hanya untuk mencari arti sebuah istilah.

Apakah sebuah artikel teologi ditulis hanya untuk orang teologi juga? malang benar nasib saya.

salam penuh kasih

Teologi Terbuka Untuk Dipelajari

Salam

Sejujurnya, untuk mempelajari suatu ilmu, kita harus memulainya dengan istilah. Mengerti terlebih dahulu istilah-istilah yang dipakai. Dulu, waktu saya belajar di SD-SMU, saya dibiasakan terlebih dahulu menghafal definisi sebelum mulai mempalajari materi lebih dalam. Misalnya, Biologi, dari kata 'Bios', mahluk hidup dan "Logos", Ilmu. Sampai saat ini, setiap kali saya mengucapkan kata itu, saya mengerti, bahwa 'Biologi' itu artinya 'ilmu tentang mahluk hidup'.

Tetapi, jangan lupa! Ada juga orang yang mengucapkan kata yang sama, tetapi tidak paham artinya. Jadi, belajarlah mulai dengan sebuah istilah.
Tidak ada cara yang paling aman dan benar dalam berteologi, kecuali mengikuti pengertian konsep teologi itu sendiri yang sudah disepakati oleh para ahli sebelumnya -- termasuk dari Alkitab. Dalam berteologi, kita tidak boleh mengubah suatu istilah dengan makna yang tidak jelas dan tidak disepakati - teologi itu "sakral". Seperti halnya membaca Alkitab, apakah kita akan mengubah bagian Alkitab yang tidak sesuai dengan keinginan kita dan tidak mau tunduk serta memahami makna berdasarkan Alkitab itu sendiri. Demikian juga dengan istilah teologi, ada istilah-istilah tertentu yang jika di sesuaikan artinya dengan keinginan pembaca atau penafsir, maka artinya akan menyimpang. Contohnya: Suatu kali seorang pendeta berkhotbah dan bertanya, ..."Amin" saudara..., (maksudnya: benar, sungguh, pasti...), jemaatnya menjawab, "Amin (nama seseorang) tidak hadir...!"

Sederhana saja, jika mau belajar Teologi. Anda cukup menyebutkan tema, atau judul, atau istilah yang anda tidak ketahui dan nanti kita akan belajar bersama-sama. Belajar teologi sama artinya "memuji Allah". Jadi, sama dengan ketika anda ikut kebaktian dan mendengarkan Pendeta berteologi atau seperti anda membaca Alkitab dan mendengarkan lagu rohani. Atau sederhana sekali, seperti anda menyebutkan istilah "puji Tuhan, Haleluya....".

Jangan berpikir bahwa semua orang awam tidak mengerti teologi....aku juga orang awam, tetapi aku mau belajar. Ilmu memang harus dipelajari khan...
Mau belajar bersama?

Demikian

 

Allah sebagai subjek atau objek?

Sebenarnya kutipan tema di atas adalah bentuk teologia yang betul-betul Kristiani. Dalam hal tersebut Allah benar-benar menjadi subjek dan kita belajar dariNya untuk mengenalNya lebih dekat.
Namun makna harafiah teologi menempatkan Allah sebagai objek ilmu. Baik dasar sejarahnya, metode-metodenya, sampai istilah-istilahnya adalah pendekatan ilmiah yang mempelajari Allah sebagai sebuah objek.
Jadi bagaimanapun akan kembali pada orangnya sendiri yang mau mempelajari teologi. Bisa jadi benar kalau memang ingin diajar oleh Allah, dan bisa salah kalau hanya ingin mempelajari Allah. Jadi pertanyaannya, bagi Anda, Allah itu subjek atau objek?
T. Budiman
Bandung

Metode Teologi

Salam

Wah...nanti istilah-istilah saya diprotes pembaca lagi nih....pak.
Tetapi, demi pembelajaran kita bersama saya ingin memberi respon, seperti ini:

Bagi saya, teologi adalah "penemuan", "penyusunan" dan "penyajian" mengenai kebenaran-kebenaran tentang Allah. aya pikir, definisi ini mengacu kepada suatu sistem ilmu atau pendekatan yang rasional yang mengandung arti, (1). Pemikiran. (2). Pengajaran, dan (3). Praktika.

Nah, jika kapasitas teologi itu adalah sebagai ilmu atau disiplin atau sistem, biasanya ada tiga pendekatan atau metodologi yang digunakan, yaitu:

  1. Pendekatan Obyektif; berdasarkan "penyataan" dan "pernyataan".
  2. Subyektif. Berdasarkan interpretasi, asumsi dan presuposisi [presupposition] - anggapan-angapan dasar - yang mengutamakan rasio, emosi dan hati nurani.
  3. Penggabungan, subyektif dan obyektif.

Dari tiga metode atau pendekatan teologi ini, tidak satu pun yang direkomendasikan sebagai "satu-satu"nya metode yang valid untuk berteologi secara sempurna. Walaupun demikian, pendekatan berteologi obyektif ke subyektif adalah yang cukup berpengaruh. Obyektif, karena bersumber dari Allah, sedangkan subyektif, karena memerlukan interpretasi. Dalam interpretasi, subyektivitas sangat sulit dihindari. Selain itu, hampir tidak mungkin berteologi murni secara obyektif. Alasanya, wahyu Allah bersifat progresif. Oleh sebab itu, saya mengakui kekuatan berteologi dengan pendekatan atau metode Obyektif ke subyektif; pendekatan teologi "inkarnasional". Para ahli, seperti Agustinus, Thomas Aquinas, para Reformator, Karl Barth dan beberapa lagi yang lainnya tidak bisa menghindari pendektan ini.

Untuk kasus ini, saya memberikan sebuah contoh mengenai metode para teolog dalam mengulas Doktrin Kritus - Kristologi.

"Sulit untuk menetapkan metodologi yang permanen dalam Kristologi. Metodologi apa yang cocok? Apakah metodologinya harus didasarkan pada sisi kemanusiaan-Nya atau dari sisi ilahi-Nya? Sampai saat ini memang ada dua metode dominan yang sering digunakan untuk interpretasi Kristologi, yakni Christology "from below" dan Christology "from above". Metode Kristologi modern menggunakan metode "from below", dengan alasan, Kristologi harus didasarkan pada apa yang diketahui - revealed. Pendekatan ini, dipakai oleh Emil Brunner, tokoh utama Dialectic Theology, dan Heinrich Vogel (Cristology and Dogmatic). Pendekatan Christology "from below", adalah metode yang digunakan oleh gereja abad pertengahan. Para ahli yang menggunakan metode ini di antaranya: Marthin Luther (Incarnational Christology), tokoh-tokoh Rasionalisme dan Schleiermacher. Pada abad ke-19, digunakan oleh Albrecht Ritschl, Wilhelm Herrmann, Werner Elert, Paul Arthaus, Carl Heinz Ratschow dan yang paling khusus adalah Friederich Gogarten dan Gerhard Ebeling. Lain halnya dengan Karl Barth (Church Dogmatic), ia menggunakan metode Christology "from above" to Christology "from below". Kedua pendekatan Kristologi ini sama- sama tidak dapat mempertahankan keilahian Kristus dan juga tidak membela kemanusiaan-Nya atau sebaliknya.

Demikian

Rujuk Alkitab

Umumnya Alkitab sendiri mempunyai maksud2nya yang tersendiri yang bukan dari perspektif kita tetapi dari perspektif alkitab itu sendiri. Domba dalam alkitab sudah merupakan satu kata yang biasa bagi semua orang tetapi dalam Alkitab secara kompleksnya istilah domba itu satu yang membawa makna tersendiri sudah tentu maknanya bukan dari perspektif kita tetapi dari perspektif alkitab.
Memang tidak hairan kalau teologi memang menggunakan istilah2nya sendiri yang memang tidak di fahami oleh umum melainkan mempelajarinya satu demi satu.
Ketika Yesus dalam pelayanan-Nya, Dia gunakan kata yang biasa tetapi tidak di fahami oleh kebanyakan orang awam kerana Yesus berbicara dari segi Alkitab dan bukan dari segi minda kebanyakan pendengar-Nya. Namun yang ada keinginan utk mempelajarinya mendapat tahu akan kebenaran-Nya demikian juga rasanya dalam teologi ini.
sekadar pendapat.

julius tarigan's picture

Kita Semua Perlu Bijak dalam menyikapi Ilmu Teologia

Teologia memang seringkali disalahfahami, baik oleh mereka yang membidanginya maupun oleh mereka yang awam tentangnya. Mereka yang disebut pertama itu terkadang suka lupa bahwa kalau mereka sedang berbicara di luar lingkungan keakademisan mereka atau terhadap orang kebanyakan (yang awam secara teologia), mereka seharusnya tidak berbicara seperti ketika atau kepada lingkungan keakademisan mereka tersebut. Sedangkan, mereka yang disebutkan kedua itu pun sering juga menjadi terlalu peka (gampang meradang)ketika mendengar atau membaca uraian teologia yang "rada njlimet", yang memang ditujukan untuk orang-orang di dalam bidang tersebut. Jadi, nasehat saya, demi penghargaan yang semestinya terhadap ilmu teologia itu dan, karenanya, demi kebaikan bagi semua umat Kristen, marilah semua orang yang berada di kedua sisi (dari ilmu teologia) ini, sama-sama menahan diri. Atau, sama-sama tahu diri. Atau lagi, sama-sama bijak-bijak untuk membawakan diri. Demikian saja tanggapan saya untuk tulisan (yang sebenarnya lumayan bagus untuk kalangannya) ini.

Teologianya Tdk Salah, Manusianya .......

Teologia memang diperlukan dlm kehidupan Kekristenan, krn tanpa Teologia org Kristen spt org buta yg meraba raba dan akhirnya terjerumus dlm lubang atau tersesat entah kemana. Sebenarnya tanpa disadari saat seseorang berbicara atau membahas hal-hal yg berhub dgn kebenaran Firman Tuhan sdh berTeologia.
Memang lebih baik kalau bisa mempelajarinya melalui suatu lembaga pendidikan khusus spt : Sekolah Teologia, Institut Teologia dll, krn akan lebih mudah mempelajari nya dengan komunitas yg ada
Sbg salah satu contoh : Untuk mengerti dgn benar apa yg dimaksud oleh Firman Tuhan kita perlu mengerti bahasa aslinya shg tdk sampai salah mengartikannya (yg dpt berakibat fatal)
Banyak org yg mengatakan tdk perlu belajar Teologia, andalkan Roh Kudus, nanti Roh Kudus akan beri pegertian yg benar. Bgm Roh Kudus beri pengertian kl tdk mau belajar? Alkitab sendiri mengajarkan spy kita rajin menggali kebenaran Firman Tuhan.
Sebaliknya banyak mereka yg lulusan Sekolah Teologia menjadi Sombong Rohani spt Ahli Taurat & Org Parisi.
Apalagi kl sdh bergelar Doktor, Prof dsb, merasa lebih hebat dr org lain, shg sok Teologis dlm pembica raan atau kotbahnya (bukan dlm rangka pembelajaran, tp u/ pamer ilmu). Mereka lupa bhw Urapan Roh Kudus lebih Utama.
Lalu yg terbaik bgm? Ya andalkan Roh Kudus jg terus belajar sambil minta Tuntunan Roh Kudus.
Intinya belajar bukan u/ kejar Gelar/Cari Ilmu semata, tetapi spy lebih mengerti kebenaran dan melakukannya dlm hidup se hari-hari, jg u/ jadi berkat bagi org lain.
Maju Terus Pantang Mundur !