Mengapa Mengritik?

julius tarigan's picture

Topic Blog: Leadership, Teologi dan Alkitab, Yayasan dan Gereja

Keywords Blog: gereja, kenabian, kritik, Reformasi

Komunitas Umum: Alkitab, Teologi, Yayasan dan Gereja

Terus terang, blog saya ini -- dari awalnya sampai, entah kapan nanti, akhirnya -- akan selalu berisikan kritik-kritik, khususnya yang ditujukan untuk gereja-gereja dan para penyelenggara di dalamnya. Isi dari blog saya yang sudah di-publish sebelumnya, yaitu yang pertama ("Tidak Ada Gereja yang Lebih Baik. Yang lebih 'Mahal' , Banyak!"), sudah bisa dijadikan sebagai gambaran akan seperti apakah konten-konten yang selanjutnya nanti dari blog ini. Karena itu, sebelum beranjak lebih jauh lagi nanti ke depan, saya merasa perlu untuk menjelaskan terlebih dahulu di sini mengenai: Mengapa saya memilih untuk menjalankan peranan ini, yaitu menjadi "tukang kritik" (terhadap gereja-gereja)?

Ya, mengapa mengritik? Bukankah mengritik itu adalah suatu hal yang negatif? Dan, bukankah mengritik itu adalah ciri dari orang yang tidak rohani dan tanda dari minimnya kasih yang terdapat di dalam diri para pelakunya? Sungguh, saya bisa memahami ungkapan-ungkapan atau pertanyaan-pertanyaan yang menunjukkan keberatan terhadap perbuatan mengritik itu. Memang, harus diakui bahwa perbuatan mengritik itu seringkali dilihat sebagai perbuatan yang negatif atau lebih kongkritnya: kasar, kejam, dan angkuh. Nah, kalau saya sendiri sudah tahu seperti itu, lalu kenapa pula saya masih mau juga untuk melakoni peran "antagonis" dan sangat tidak populer ini? Jawaban saya untuk itu adalah begini: Akhir-akhir ini, saya menangkap panggilan Tuhan untuk saya, yaitu untuk menyuarakan "suara kenabian" atas gereja-gereja Kristen secara keseluruhan. (Tetapi, saya tidak akan pernah menyebut diri saya sendiri sebagai seorang nabi. Kalaupun, pada suatu hari nanti ada orang yang menyebut saya demikian, itu urusan mereka sendiri).

Sudah saatnya sekarang, khususnya bagi kita semua sebagai orang Kristen, untuk menyadari bahwa "tukang kritik" itu, tidak semuanya sama. Perhatikanlah nabi-nabi di dalam Alkitab (khususnya, yang paling banyak terdapat di dalam Perjanjian Lama), pada umumnya nabi-nabi itu berperan sebagai "tukang kritik". Jadi, ada satu hal yang merupakan kebutuhan yang sangat mendesak bagi umat Kristen  sekarang ini, yaitu untuk memilah-milah di antara orang-orang yang berperan sebagai "tukang kritik" itu. Dari pengamatan saya sendiri, ada 3 kelompok "tukang kritik" di dalam kekristenan,  yang dapat dan harus kita bedakan, yaitu sebagai yang berikut ini.

  • Orang-orang yang cenderung mengritik segalanya, karena dirinya sendiri sebenarnya sedang "sakit" secara psikologis;
  • Para pengritik yang mengangkat atau memanggil dirinya sendiri (mereka ini tidak mendapatkan kasih karunia dari Tuhan untuk tugas tersebut, karena itu mereka itu pada umumnya menunjukkan ciri-ciri sbb: tidak/kurang santun dalam menyampaikan kritikannya, kasar, tidak adil  dan sektarian [memihak pada golongannya sendiri].  Pada umumnya mereka yang tergabung di dalam kelompok ini adalah orang-orang yang menunjukkan ciri-ciri dari faham dan sikap keagamaan yang "fundamentalistis". Karena itulah, di dalam konten-konten selanjutnya yang terdapat pada blog saya ini, saya menyebut mereka itu sebagai "para pengritik fundamentalis");
  • Orang-orang yang mendapatkan panggilan dari Tuhan untuk menjalankan tugas kenabian atau menyuarakan "suara kenabian" bagi umat Tuhan (gereja-gereja Kristen secara keseluruhan). Karena mereka ini dipanggil oleh Tuhan, maka mereka pun mendapatkan kasih karunia dari Tuhan untuk menjalankan tugas tersebut. Karena itulah, berbeda dari yang kelompok yang kedua tadi, mereka ini, dalam menjalankan tugasnya, yang sekalipun kebanyakan akan mengritik, tetap menunjukkan kesantunan, kelemah-lembutan (harus ada perbedaan antara nabi-nabi di dalam PL dan "nabi-nabi" di dalam kekristenan, khususnya di dalam sikap dan pembawaan diri ini) dan, yang terutama, adil atau tidak memihak kepada salah satu golongan tertentu di dalam kekristenan sekarang ini. Jadi, kritik mereka ini ditujukan kepada umat Kristen atau gereja-gereja secara keseluruhannya. Dan, tujuan dari kritik itu bukanlah untuk membela atau mendukung faham/aliran atau golongan tertentu yang terdapat di dalam kekristenan sekarang ini, melainkan untuk mereformasi gereja-gereja yang ada sekarang ini, secara keseluruhan.

Nah, demikian sajalah dulu penjelasan saya mengenai soal "mengapa mengritik"? ini. Kiranya, dengan penjelasan seperti yang dimuat di atas tadi, khususnya, para pembaca blog ini bisa  memahami mengapa saya memilih untuk menjalankan peranan yang tadi sudah saya katakan "antagonis" dan tidak populer" ini. Dan, secara lebih luasnya, kiranya dengan penjelasan di atas tadi, umat Kristen (seluruhnya) disadarkan terhadap sebuah gerakan kenabian yang baru pada masa kini (berbeda dari yang sudah dikenali sebelumnya), yang sedang dibangkitkan oleh Allah (dengan cara yang calm, slow [but sure], tidak dengan "grusa-grusu" atau pun gegap-gempita) bagi atau untuk mereformasi gereja-gereja Kristen (secara keseluruhannya) pada masa sekarang ini. Amin.

 

 

Komentar-Komentar

Agree

Setuju 1000% My Brother! Kita memang harus jadi Vocalisnya Tuhan kl ingin Gereja Berubah kembali pada Visi Mula-2
Salam Reformasi and JBU. Horraaas!!

julius tarigan's picture

@Reformasi: Wow!

1000%? Wow, berat banget tuh, bro! Hehehe...!

Tapi, saya ngerti koq, kalo yg bro Reformasi maksudkan itu adalah Anda SANGAT SETUJU dengan apa yg saya kemukakan di sana.

Thank you so much, bro & Jbu too.

Salam REFORMASI!

 

"Mereka telah mengubah RUMAH TUHAN menjadi SARANG PENYAMUN;
Adalah tugas suci kita sekarang ini untuk MEREFORMASInya!"