Efek Bola Salju

hz's picture

Pernahkan saudara melihat seseorang yang hidupnya hancur (berdosa)? Tetangga saudara kah? Keluarga saudara kah? Atau saudara sendiri? Saya pernah melihatnya. Ia adalah diri saya sendiri, Hendie Zhong yang dulu.

Saat saya melakukan pelanggaran firman, saya berdosa. Hal itu membuat saya merasa tidak nyaman dan tidak layak disebut sebagai anak Tuhan. Apalagi kala itu saya pun melayani Tuhan dimana orang-orang melihat saya sebagai seorang yang cinta Tuhan. Di luar nampak baik, namun di dalamnya hancur lebur.

Saya merasa diri saya munafik, muka nabi fikiran picik. Apa yang terjadi selanjutnya di kehidupan rohani saya ialah MPP-TP, Mundur Pelan-Pelan Tapi Pasti. Mundur dari pelayanan, mengasingkan diri dari persekutuan. Bila perlu semedi di goa-goa, berdiam di lorong-lorong yang sunyi, atau duduk bersila di gang sempit; belok kanan mentok: gang buntu. Bila perlu saya menjadi orang lain saja atau kabur ke tempat dimana saya menjadi orang asing.

Pernahkah saudara mengalaminya? Saya pernah.
Lidah saya kelu dan tak dapat berkata-kata dalam doa. Tuhan sepertinya sangat jauh. Lebih jauh dari pada bintang di langit, lebih tersembunyi dari pada gerhana bulan sekali pun. Keraguan saya adalah jika saya mengaku lagi ke Tuhan apakah Ia mau menyendengkan telinga-Nya pada saya, tengsin donk,”Masa 4L, Loe Lagi Loe Lagi sih?”

“Tuhan apa benar Tuhan mau mengampuni?”

Dalam keheningan yang tiada terkira, saya mendengar suara Tuhan seperti ini:

"Jika kita mengaku dosa kita, maka Ia adalah setia dan adil, sehingga Ia akan mengampuni segala dosa kita dan menyucikan kita dari segala kejahatan.”

Apakah kalimat di atas benar? Itu kata firman Tuhan di 1 Yoh 1:9 Buka saja alkitabmu kalau tidak percaya. Jika kita mengaminkan kebenaran firman, kita pun harus menangkap maksudnya firman di atas disampaikan sebagai TUNTUNAN bagi pembuat dosa.

Inilah kebenarannya, Tuhan tidak mengkerdilkan manusia yang telah berbuat dosa. Ia tetap mengasihi mereka walau Tuhan membenci dosanya. Ia memberikan perintah lagi kepada saya untuk mengaku dosa.

“Karena itu hendaklah kamu saling mengaku dosamu dan saling mendoakan, supaya kamu sembuh. Doa orang yang benar, bila dengan yakin didoakan, sangat besar kuasanya.” (Yak 5:16)

Tuhan menghendaki saya SALING mengaku dosa. Artinya mengakunya bukan dengan Tuhan saja namun juga kepada manusia. Karena kata saling ini menerangkan bahwa keduanya melakukan hal yang sama yaitu saling. Ayat-ayat di atas berhubungan dengan ayat lain di perjanjian lama, yaitu:

"Siapa menyembunyikan pelanggarannya tidak akan beruntung; tetapi siapa mengakuinya dan meninggalkannya akan disayangi." (Amsal 28:131)

Astajim, malu donk gue?

“Ya, mau diampuni atau tidak dosanya? Kalau mau, taat dong!”

Saya menangkap maksud Tuhan bahwa Ia sungguh-sungguh menghendaki pembuat dosa MENGAKU sebagai langkah awal lalu MENINGGALKAN perbuatan dosa sebagai langkah lanjutan. Soal malu mengaku pada sesama manusia, katakanlah teman seiman atau kakak rohani, itu adalah tools yang dipakai iblis agar kita tidak mengaku. Bagi saya, ini adalah konsekuensi dosa. Ini adalah pendisiplinan yang harus saya jalani. Ada harga yang harus dibayar. Mending baru malu doank, bagaimana kalau harga yang lebih mengerikan lagi seperti kutuk atau kematian? Kalau saya sudah berdosa, ini pantas saya terima. Lebih baik saya dipermalukan tapi Yesus ditinggikan namanya. Saya dihina (merasa terhina, aib, malu, ga punya muka lagi) tidak apa, namun saya melakukan hal yang sesuai firman dan Yesus disenangkan. Bukankah itu sebanding?

Lalu Tuhan membukakan saya pemandangan kutub, entah utara apa selatan, saya tidak bertanya lebih jauh lagi kepada-Nya. Yang jelas di sana-sini gunung di tengah-tengah ada saya. Saya jadi bingung, mudah-mudahan yang baca tidak bingung.

Tiba-tiba terjadi gempa yang menggetarkan tanah tempat saya berdiri. Saya melihat gunung di sana terguncang dan longsoran kecil meluncur turun. Terus menggelinding membentuk bola salju yang makin turun makin besar. Saya baru mengerti arti efek bola salju seperti itu rupanya. Terus turun dan menggelinding. Makin lama makin besar dan terus membesar. Akhirnya sampai jatuh ke jurang terdalam.
Saya bertanya,”Tuhan apa itu?”

Tuhanku memberikan pengertian tentang efek bola salju. Ketika manusia jatuh dalam dosa, ia akan meluncur seperti bola salju. Jatuh kerohaniannya. Menggelinding ke bawah di tarik grativasi dunia. Saya sengaja memiringkan istilah kata "gravitasi dunia" karena maknanya dapat dijabarkan luas.

Tuhan kita adalah Tuhan yang baik. Ia datang untuk menolong nenek moyang kita dan keturunannya yang telah jatuh dalam dosa agar kembali kepada-Nya dengan mengaku dosa. Ia datang bukan sebagai penuduh.

“Demikianlah kita ketahui, bahwa kita berasal dari kebenaran. Demikian pula kita boleh menenangkan hati kita di hadapan Allah,

sebab jika kita dituduh olehnya, Allah adalah lebih besar dari pada hati kita serta mengetahui segala sesuatu.

"Saudara-saudaraku yang kekasih, jikalau hati kita tidak menuduh kita, maka kita mempunyai keberanian percaya untuk mendekati Allah,” (1 Yoh 3:19-21)

Mengapa bola salju bisa membesar dan makin membesar jatuh ke bawah? Saat kita melakukan perbuatan dosa, kita jatuh dalam dosa. Itu adalah batas pertama yang perlu kita tandai. Batas kedua ialah saat Tuhan menyediakan jalan untuk kembali padanya. Saya menyebutnya ialah Jalan Anugerah. Kita diperbolehkan kembali kepada Tuhan dengan 2 langkah: Mengaku dan Meninggalkan. Jika pada batas kedua ini kita tidak TAAT, artinya kita membangkang firman Tuhan. Kita tidak melakukan perintah untuk mengaku dan meninggalkan (BERTOBAT). Dosanya bertambah lagi yaitu dosa pertama dan dosa tidak mau bertobat. Bola saljunya bertambah lebih besar lagi.

Gambaran ilustrasi ini sangat jelas Tuhan gambarkan bagi saya. Saya melihat kegagalan-kegagalan yang pernah saya alami. Patternnya mirip. Persis. Berdosa, tidak mau bertobat, melakukan dosa lanjutan, makin jauh dari Tuhan karena makin tertuduh, merasa keterlanjuran sudah berdosa ya lakukan lagi, akhirnya makin jauh dari Tuhan.

Dari pengertian yang Tuhan berikan pada saya, saya jadi bersuka cita. Masih ada jalan kembali. Tuhan itu setia. Seperti kain kabung yang disingkapkan. Kesedihan saya digantikan oleh tawa dan sukacita akan kebenaran yang Tuhan sampaikan buat saya.

Waktu itu saya sudah melakukan dosa. Saya sudah melakukan kesalahan. Namun, pada batas kedua ini saya mau mengambil keputusan yang benar agar saya tidak terjebak dalam efek bola salju.

Saya sungguh bersyukur menerima anugerah keselamatan, diberikan jalan anugerah, ada kasih karunia yang memampukan saya bangkit kembali. Yang bengkok telah diluruskan. Saya kembali ke track Tuhan dan hidup berkenan pada-Nya.

Mungkin saudara berpikir begini:

"Dosa saya sangat besar, sangat najis. Dicuci rinso berapa kali pun ngga akan bisa hilang, dijejerin sama kain bekas lap oli motor juga ngga kalah hitam, diadu sama bau apek juga ga kalah"

Saya bersyukur mendengar firman yang disampaikan lewat Pak Eddy Leo. Kira-kira perkataannya seperti ini:

"Kalo saudara meragukan dosa saudara diampuni, seperti anda mengambil darah Yesus yang tercurah untuk menebus saudara dan memercikannya kembali ke muka Yesus seraya berkata: Darah-Mu ngga cukup (tidak mampu) membayar dosa dan menyucikanku"

Saya tersentak! Tuhan kita adalah Tuhan yang maha baik. Sangat teramat baik. Bahkan orang yang hidup sejaman-Nya dimana melakukan dosa yang menurut hukum harus dilempari batu sampai mati (Yoh 8:1-11) ialah seorang perempuan yang berzinah. Namun, Yesus tidak mengampuni menghukum malahan melepaskan perempuan itu (Ayat 8).

Secarik uang Rupiah kertas pecahan 100,000 baru dicetak dalam keadaan sangat bersih tak bernoda. Saat terinjak, ada debu yang menempel di uang itu. Namun saya yakin, jika saya menyodorkannya kepada saudara, saudara pun menerimanya. Lalu uang kertas itu jatuh ke tanah. Tidak sengaja terinjak-injak sepatu kotor yang saya kenakan. Uang itu penuh noda tanah. Jadi kucel dan gembel. Tapi apakah anda masih mau bila saya berikan itu? Saya sih mau. Karena walau kotor tapi dimata kita sebenarnya uang itu tetap BERNILAI. Demikian Yesus mengasihi saya dan saudara. Kita BERNILAI dimata-Nya. Kita berharga di mata Tuhan. Maka jangan ragu untuk kembali pada Tuhan apa pun yang sedang saudara alami hari-hari ini. Ia menerima anda sebab Ia setia.

Saudara, kebenaran ini saya tuliskan sebagai kebenaran yang memerdekakan kita. Bebaslah dari jebakan efek bola salju. Kembali kepada jalan Tuhan. Tuhan Yesus memberkati kita semua.

Kategori: Karakter

Topic Blog: Karakter

Keywords Blog: bertobat, dosa, meninggalkan dosa