KEPEMIMPINAN ALKITABIAH dalam Gereja dan Keluarga

Topic Blog: Leadership

Keywords Blog: Alkitabiah, Dede Wijaya

Komunitas Umum: Kepemimpinan

selamat hari Kartini, 21 April.

 

KEPEMIMPINAN ALKITABIAH
dalam Gereja dan Keluarga

Alkitab
dengan sangat jelas menyatakan bahwa pria adalah pemimpin di dalam
rumah tangga dan gereja lokal sedangkan peran wanita adalah tunduk
pada kepemimpinan pria. Tetapi sekarang penentangan terhadap prinsip
Allah ini sudah begitu meluas dengan banyaknya wanita yang
ditahbiskan dalam posisi kepemimpinan di gereja.

Fakta
pemutarbalikan prinsip Allah adalah bukti penyesatan di zaman ini.
Pria dan wanita menolak kebenaran Alkitab dan menjadi bingung dengan
prinsip-prinsip dasar Alkitab. Banyak pria yang mencoba menjadi
seperti wanita dalam hal berpakaian dan bertingkah laku dan banyak
wanita yang cenderung ingin menjadi pria; berpakaian seperti pria,
melakukan pekerjaan pria, melakukan olahraga pria, menjadi tentara,
wanita ingin mendapat gaji lebih untuk pekerjaan yang sama dan
menjadi pemimpin di gereja , rumah tangga atau negara. Sedihnya
gereja selalu dipengaruhi oleh dunia. Kesalahan yang terjadi di dunia
diulangi di gereja dan kita mendapati wanita menjadi pemimpin di
banyak gereja atau kelompok Kristen.

 

Alkitab
sangat jelas mengenai hal ini dan tidak ada polemik untuk hal ini.
Masalahnya adalah gereja terlalu banyak mencari sumber lain di luar
Alkitab. Allah mengasihi baik pria maupun wanita. Wanita sangat
penting bagi rumah tangga, gereja dan masyarakat. Di dalam Kristus
Yesus, wanita mempunyai posisi sama dan menerima berkat yang sama
seperti yang dialami pria.

Tetapi tidak
berarti tidak ada perbedaan peran dan otoritas antara pria dan
wanita. Kebenarannya adalah wanita dan pria itu sangat berbeda.

 

PB menulis
bahwa pria adalah pemimpin di rumah tangga dan gereja. Wanita
tidak dirancang Allah untuk memerintah lembaga-lembaga ini. Nabi
Yesaya memperingatkan Israel ketika ia berkata bahwa wanita
memerintah atas mereka (Yesaya 3:12). Menurut Alkitab, di gereja,
tidak ada wanita yang boleh menjadi gembala atau diaken atau posisi
kepemimpinan lain di atas pria. Siapa yang mengatakan ini? Allah.


"Seharusnyalah
perempuan berdiam diri dan menerima ajaran dengan patuh. Aku tidak
mengizinkan perempuan mengajar dan juga tidak mengizinkannya
memerintah laki-laki; hendaklah ia berdiam diri. Karena Adam yang
pertama dijadikan, kemudian barulah Hawa. Lagipula bukan Adam yang
tergoda, melainkan perempuan itulah yang tergoda dan jatuh ke dalam
dosa." (I Tim 2:11-14)

"Sama
seperti dalam semua Jemaat orang-orang kudus, perempuan-perempuan
harus berdiam diri dalam pertemuan-pertemuan Jemaat. Sebab mereka
tidak diperbolehkan untuk berbicara. Mereka harus menundukkan diri,
seperti yang dikatakan juga oleh hukum Taurat. Jika mereka ingin
mengetahui sesuatu, baiklah mereka menanyakannya kepada suaminya di
rumah. Sebab tidak sopan bagi perempuan untuk berbicara dalam
pertemuan Jemaat. Atau adakah firman Allah mulai dari kamu? Atau
hanya kepada kamu sajakah firman itu telah datang? Jika seorang
menganggap dirinya nabi atau orang yang mendapat karunia rohani, ia
harus sadar, bahwa apa yang kukatakan kepadamu adalah perintah Tuhan"
(I Kor 14:34-37)

Bagaimana
mungkin wanita boleh menjadi gembala jika ia dilarang untuk mengajar
atau memiliki otoritas atas pria? Wanita boleh menjadi gembala hanya
jika mereka secara terang-terangan menentang pengajaran Alkitab.
Tuhan Yesus sendiri tidak pernah mentahbiskan rasul wanita. Semua
rasul Yesus adalah pria. Standar untuk gembala diterapkan dengan
ketat pada pria. Hanya pria yang dapat menjadi "suami dari satu
istri" dan "memerintah rumah tangganya dengan baik" (I Tim
3:2,4. Titus 1:6)

Apakah
Pengajaran Paulus Berlaku Untuk Semua Gereja Di Segala Abad?

Sebagian
orang berkata bahwa pengajaran Paulus hanya ditujukan kepada orang
Kristen di abad pertama atau hanya kepada situasi khusus di gereja
Korintus. Alasan ini tidak benar:

1.
Paulus berkata bahwa pengajaran dalam I Korintus 14 adalah perintah
Tuhan (ayat 37).
Semua orang Kristen dan
semua gereja harus taat pada perintah ini.

2.
Paulus berkata bahwa pengajaran dalam I Korijtus 14 adalah tes
kerohanian. Paulus berkata seharusnya mereka yang sungguh-sungguh
rohani harus mengakui bahwa pengajaran ini adalah penritah Tuhan.
"If any man think himself to be a prophet, or spiritual, let
him acknowledge that the things that I write unto you are the
commandments of the Lord" (1 Cor. 14:37). Mereka yang menolak
pengajaran I Korintus 14 mengenai peran wanita dalam gereja
membuktikan diri mereka belum rohani

3. Dalam I Timotius,
Paulus memberikan petunjuk yang sama mengenai wanita dan dalam surat
ini dikatakan, ditulis untuk memberikan aturan yang baik bagi gereja.
"Jadi jika aku terlambat, sudahlah engkau tahu bagaimana orang
harus hidup sebagai keluarga Allah, yakni jemaat dari Allah yang
hidup, tiang penopang dan dasar kebenaran." (I Tim 3:15)

4. Dalam memberi peutnjuk
mengenai peran wanita dalam gereja, Roh Kudus mengacu pada urutan
penciptaan-Adam yang pertama kemudian Hawa.

5. Paulus
mengacu pada peristiwa kejatuhan manusia (I Tim 2:14)

6. Paulus
mengacu pada sifat alami manusia (I Tim 2:14). Wanita dirancang untuk
peran yang berbeda dengan pria dalam kehidupan yaitu sebagai ibu dan
istri. Emosi, aspek psikolgis dan rasio begitu dekat dengan wanita
tetapi wanita tidak dirancang untuk menjadi pemimpin. Di taman Eden
Setan menipu wanita. Tetapi tidak dengan Adam. Adam berdosa tetapi
dia tidak tertipu. Hawa mengijinkan dirinya dalam posisi membuat
keputusan yang seharusnya tidak ia lakukan.

 

7. Paulus
mengatakan bahwa prinsip ini harus dipelihara sampai kedatangan
Kristus yang kedua kali.

  1. Surat
    Paulus kepada jemaat Korintus yang berbicara mengenai wanita harus
    tunduk dibawah otoritas pria ditujukan untuk semua orang Kristen.
    (1
    Cor. 1:2).

BUKANKAH
ALLAH MEMAKAI WANITA UNTUK MEMIMPIN PRIA DALAM PL?

Mengapa
Allah memakai Debora sebagai Hakim di Israel

(Hakim4:4-5) Jawabannya mudah. Kehendak Allah yang sempurna adalah
pria sebagai pemimpin. Hal sangat jelas. Tidak boleh
disalahtafsirkan. Tetapi ketika pria tidak mengambil tanggungjawab
mereka maka Allah memakai wanita. Pria-pria di zaman Deborah begitu
lemah dan pengecut. Faktanya adalah Barak, panglima perang Israel
menolak pergi berperang kecuali Deborah pergi bersamanya (Hak 4:8)

Deborah
secara jelas menyatakan bahwa ini tidak benar atau tidak lumrah dan
ia memberitahu Barak bahwa Barak tidak akan mendapat kehormatan
(Hakim 4:9). Dalam masa itu Allah tidak mendapati seorang pria yang
melakukan kehendakNya maka Ia memakai wanita seperti Deborah yang
bersedia maju ketika para pria menjadi lemah. Ini

sering terjadi baik dalam sejarah gereja
maupun di
dunia
sekuler.

Bagaimana
dengan anak dara Filipus? Mereka dikenal sebagai prophetesses (Kis
21:8-9). Bukankah ini juga contoh wanita dapat berkhotbah kepada pria
dalam usaha untuk melepaskan karunia bernubuat? Fakta bahwa Allah
memberikan karunia bernubuat kepada wanita tidak berarti mereka bebas
untuk mengambil otoritas atas pria di dalam gereja. Anak dara Filipus
bernubuat kepada para wanita. Ketika Allah ingin berbicara kepada
Paulus, Allah memakai pria untuk melakukannya (Kis 21:8-11). Allah

memberikan
karuniaNya dengan melimpah kepada wanita tetapi itu harus dipakai
dalam area yang tepat. Tidak tercatat dalam Alkitab mereka bernubuat dalam pertemuan jemaat.

Pelayanan
wanita difokuskan pada wanita dan anak-anak ( I Tim 2:15; II Tim 1:5;
3:15; Titus 2:3-5). Oleh karena tidak ada rasul wanita maka standard
ilahi juga menetapkan gembala hanya ditetapkan untuk pria (I Tim
3:2-4; Titus 1:5-9)

1 Timotius 3:1-7

Syarat-syarat
bagi Penilik Jemaat/Penatua/Gembala/Pendeta/Pastor

3:1 Benarlah perkataan
ini: "Orang yang menghendaki jabatan penilik jemaat menginginkan
pekerjaan yang indah."

3:2 Karena itu penilik
jemaat haruslah seorang yang tak bercacat,
suami dari satu
isteri,
dapat menahan diri, bijaksana, sopan, suka memberi
tumpangan, cakap mengajar orang,

3:3 bukan peminum,
bukan pemarah melainkan peramah, pendamai, bukan hamba uang,

3:4 seorang
kepala keluarga yang baik, disegani dan dihormati oleh anak-anaknya.

3:5 Jikalau seorang
tidak tahu mengepalai keluarganya sendiri, bagaimanakah ia dapat
mengurus Jemaat Allah?

3:6 Janganlah ia
seorang yang baru bertobat, agar jangan ia menjadi sombong dan kena
hukuman Iblis.

3:7 Hendaklah ia juga
mempunyai nama baik di luar jemaat, agar jangan ia digugat orang dan
jatuh ke dalam jerat Iblis.


Alkitab KJV

3:1 This is a true
saying, If a man desire the office of a bishop, he desireth a good
work.

3:2 A bishop then must be
blameless, the husband of one wife, vigilant, sober, of good
behaviour, given to hospitality, apt to teach;

3:3 Not given to wine, no
striker, not greedy of filthy lucre; but patient, not a brawler, not
covetous;

3:4 One that ruleth well
his own house, having his children in subjection with all gravity;

3:5 (For if a man know
not how to rule his own house, how shall he take care of the church
of God?)

3:6 Not a novice, lest
being lifted up with pride he fall into the condemnation of the
devil.

3:7 Moreover he must have
a good report of them which are without; lest he fall into reproach
and the snare of the devil.


Titus 1:6-9

1:4 Kepada Titus, anakku
yang sah menurut iman kita bersama: kasih karunia dan damai sejahtera
dari Allah Bapa dan Kristus Yesus, Juruselamat kita, menyertai
engkau.

1:5 Aku telah
meninggalkan engkau di Kreta dengan maksud ini, supaya engkau
mengatur apa yang masih perlu diatur dan supaya engkau menetapkan
penatua-penatua di setiap kota, seperti yang telah kupesankan
kepadamu,

1:6 yakni orang-orang
yang tak bercacat,
yang mempunyai hanya satu isteri,
yang anak-anaknya hidup beriman dan tidak dapat dituduh karena hidup
tidak senonoh atau hidup tidak tertib.

1:7 Sebab sebagai
pengatur rumah Allah seorang penilik jemaat harus tidak bercacat,
tidak angkuh, bukan pemberang, bukan peminum, bukan pemarah, tidak
serakah,

1:8
melainkan suka memberi tumpangan, suka akan yang baik, bijaksana,
adil, saleh, dapat menguasai diri

1:9 dan
berpegang kepada perkataan yang benar, yang sesuai dengan ajaran yang
sehat, supaya ia sanggup menasihati orang berdasarkan ajaran itu dan
sanggup meyakinkan penentang-penentangnya.


Jelas
bahwa jabatan Penilik Jemaat/Penatua/Gembala/Pendeta/Pastor harus
Pria yg sudah berkeluarga (sudah menikah), dan sangat tidak boleh
wanita. Perhatikan ayat 2, 4, ada syarat SUAMI dari SATU ISTRI, dan
KEPALA KELUARGA yg baik. Jadi Pendeta Wanita sangat tidak Alkitabiah.
Karena penulis menyamakan kata pendeta=penilik
jemaat=gembala=penatua=pastor. Kata "pendeta" dalam bahasa
Indonesia diadopsi dan muncul karena Orang Kristen Protestan ingin
membedakan dengan PASTOR di Katolik.

1 Timotius
3:8-13

Syarat-syarat
bagi Diaken/Majelis

3:8 Demikian juga
diaken-diaken haruslah orang terhormat, jangan bercabang lidah,
jangan penggemar anggur, jangan serakah,

3:9 melainkan orang yang
memelihara rahasia iman dalam hati nurani yang suci.

3:10 Mereka juga harus
diuji dahulu, baru ditetapkan dalam pelayanan itu setelah ternyata
mereka tak bercacat.

3:11 Demikian pula
isteri-isteri [dari para Diaken—ditambahkan Penulis] hendaklah
orang terhormat, jangan pemfitnah, hendaklah dapat menahan diri dan
dapat dipercayai dalam segala hal.

3:12 Diaken haruslah
suami dari satu isteri
dan mengurus anak-anaknya dan keluarganya
dengan baik.

3:13 Karena mereka yang
melayani dengan baik beroleh kedudukan yang baik sehingga dalam iman
kepada Kristus Yesus mereka dapat bersaksi dengan leluasa.

3:8 Likewise must the
deacons be grave, not doubletongued, not given to much wine, not
greedy of filthy lucre;

3:9 Holding the mystery
of the faith in a pure conscience.

3:10 And let these also
first be proved; then let them use the office of a deacon, being
found blameless.

3:11 Even so must their
wives
be grave, not slanderers, sober, faithful in all things.

3:12 Let the deacons be
the husbands of one wife, ruling their children and their own houses
well.

3:13 For they that have
used the office of a deacon well purchase to themselves a good
degree, and great boldness in the faith which is in Christ Jesus.

Ayat 12 sangat menekankan
DIAKEN HARUSLAH SUAMI DARI SATU ISTRI, dan perhatikan ayat 11 di KJV
kata "THEIR WIVES" yaitu istri-istri dari para Diaken. Jadi
kiranya SANGAT JELAS, dalam Alkitab hanya PRIA yg sudah
Beristri/berkeluarga/yg sudah menikah yg boleh menjabat
Diaken/Majelis dari suatu Jemaat/Gereja. Wanita tidak diperkenankan.

Jadi Para Suami (Pria yg
sudah menikah), jika sampai digerejamu ada Pendeta Wanita dan Diaken
Wanita, satu hal yg SANGAT PERLU DISERUKAN "dimana Engkau Para Pria
berada?" seperti kata Allah dalam Kejadian 3:9, "Dimanakah engkau
(ADAM-Pria)?"

Para wanita tidak perlu
berkecil hati dan merasa tidak adil, ini PERINTAH ALLAH dan Berlaku
sepanjang Masa disepanjang Abad. Kita perlu ketaatan dalam hal ini.
Wanita ada porsinya sendiri dalam pelayanan di Gereja dan Keluarga.
Ingat Alkitab sangat ketat mengatur peran Pria dan wanita dalam
Keluarga dan Gereja.

Sedangkan peran Wanita di
luar gereja dan Keluarga, Alkitab memberi kebebasan dan persamaan
bagi Para Wanita untuk jadi Pemimpin/Bos/Manager/Direktur di
Perusahaan, Parlemen/DPR/MPR, Negara, Kepresidenan, Kerja, dll.

Ini
SANGAT ALKITABIAH. Barangsiapa bertelinga, hendaklah ia mendengar.

1
Timotius 2:12
Aku tidak mengizinkan
perempuan mengajar dan juga tidak mengizinkannya memerintah
laki-laki; hendaklah ia berdiam diri.

Wanita
Sangat Tidak boleh Berkhotbah di Pertemuan Jemaat (Dewasa)/Ibadah
Raya/Kebaktian Umum, atau apapun nama/istilahnya di gereja anda.

Suatu
revolusi yg total sedang terjadi dalam denominasi-denominasi dan
gereja-gereja di seluruh masyarakat Barat. Sebagai bagian yg lebih
besar dari pergolakan sosial itu yg ditimbulkan oleh gerakan pejuang
hak-hak wanita, revolusi tersebut menyebabkan tidak berlakunya
pembagian peranan antara pria-wanita yg tradisional di dalam rumah
tangga maupun gereja. Revolusi itu telah berhasil dalam menumbangkan
kepemimpinan yg dikuasai oleh kaum pria di ribuan gereja. Revolusi
itu telah berhasil dalam menumbangkan kepemimpinan yg dikuasai oleh
kaum pria di ribuan gereja. Revolusi tersebut telah menimbulkan
banyaknya bahan bacaan baru dan membangkitkan perdebatan yg amat
sengit. Revolusi ini bahkan telah menimbulkan terjemahan Alkitab yg
baru dan tidak membedakan jenis kelamin.

Sebagai
akibatnya, pengajaran kristen yg tradisional mengenai kepemimpinan
pria dan penundukan (subordinasi) wanita mengahadapi tantangan
terbesar semenjak kekristenan muncul 2000 tahun yg lalu. A. Duane
Litfin mengungkapkan pandangannya tentang arti revolusi ini sebagai
berikut:

Fase atau
era gerakan pejuang hak-hak wanita yg muncul baru-baru ini, yg
munculnya biasnaya dinggap sama dengan karya Betty Friedan berjudul
The Feminine Mystique pada tahun 1964, merupakan gelombang pasang yg
terjadi sekarang. Gerakan ini telah melampaui batas kekuasaan kaum
pria yg sudah ada selama lebih dari 2 abad. Namun, gelombang yg
terjadi sekarang itu lebih luas dan lebih kuat pengaruhnya daripada
pelopornya yg mana saja. Dan gelombang itu tampaknya menjadi bagian
dari kecenderungan diseluruh dunia yg mungkin kini tak dapat
ditawar-tawar lagi.

Pandangan
Egalitarian membuktikan bahwa tak ada alasan yg Alkitabiah bagi kaum
wanita untuk tidak sama-sama mengambil bagian dalam tugas
kepemimpinan di gereja, atau tidak berperan serta dalam suatu
hubungan pernikahan yg didasarkan atas prinsip saling menundukkan
diri dan saling mengasihi. Penekanan pandangan Egalitarian adalah
saling menundukkan diri—bukan penundukan diri dari satu pihak
kepada pihak yg lain, melainkan masing-masing pihak menundukkan diri
satu sama lain—
baik dalam gereja maupun
dalam rumah tangga.

Sebaliknya,
pandangan tradisional tentang hubungan peranan pria-wanita tetap
berpendapat bahwa ada alasan yg kuat, memaksakan, dan Alkitabiah
untuk menguatkan kekepalaan/kepemimpinan pria dan penundukan kaum
wanita di dalam
gereja maupun dalam rumah
tangga. Meskipun pandangan ini mengakui penundukan diri satu sama
lain sebagai suatu prinsip yg Alkitabiah, namun penundukan diri satu
sama lain tidak mengesampingkan tatanan tentang otoritas dan
penundukan diri yg terdapat di bagian-bagian lainnya. Tidak sama
dengan pandangan egalitarian, pandangan tradisional tidak membuat
berlawanan bagian-bagian yg membicarakan mengenai persamaan hak
maupun penundukan kaum wanita.

KALAU
BEGITU APAKAH WANITA TIDAK BOLEH MELAYANI?

Melarang
wanita masuk dalam pelayanan sama artinya mengatakan bahwa wanita
tidak berharga dalam pelayanan Yesus Kristus. Paulus mempunyai rekan
sekerja wanita (Fil 4:3). Febe adalah contoh (Roma 16:1-2). Priskila
disebutkan bersama suaminya Akwila (Roma 16:3). Mereka adalah penanam
gereja (Roma 16:5).

Luk 2:36
Mengapa Hana disebut nabi, tidak ada yang tahu. Alasan yang mungkin
adalah Hana adalah istri seorang nabi atau alasan lain karena ia
menjadi pemuji di bait Allah ( I Taw 25:1,2,4; I Sam 10:5) atau
karena ia sendiri menubuatkan kejadian masa depan .

Kata
nabiah dalam PB hanya ada di sini dan Wahyu 2:20.
Dalam
bahasa Yunani kuno kata ini berarti wanita yang menafsirkan tulisan
firman Tuhan.

Hai
Para pengajar Alkitab, padamu dituntut tanggung jawab yg sangat besar
karena engkau mengajarkan Firman kepada Jemaat. Jika salah mengajar
dan bahkan menyesatkan jemaat, upahmu kecil di Surga meski engkau
masuk surga.

Saran&ajakan
bagi Gereja yg melanggar prinsip Kepemimpinan Alkitabiah ini,
segeralah beritahukan gembala/pendeta anda. Dan berubahlah. Jangan
sampai berkat Tuhan bagi jemaat terhalang karena
pelanggaran-pelanggaran aturan Jabatan dalam Gereja.

Sangat
tidak mudah merubah kesalahan-kesalahan praktek bergereja, namun
perlu dimulai dari hal-hal kecil dan mendasar (terutama yg menyangkut
pengajaran/doktrinal).

Perhatikan
1 Timotius 4
sambungan dari pasal 2 dan 3,
Nasehat Paulus kepada Pemuda Timotius

Tugas
Timotius dalam menghadapi pengajar sesat

4:1 Tetapi
Roh dengan tegas mengatakan bahwa di waktu-waktu kemudian, ada orang
yang akan murtad lalu mengikuti roh-roh penyesat dan ajaran
setan-setan

4:2 oleh
tipu daya pendusta-pendusta yang hati nuraninya memakai cap mereka.

4:3 Mereka
itu melarang orang kawin, melarang orang makan makanan yang
diciptakan Allah supaya dengan pengucapan syukur dimakan oleh orang
yang percaya dan yang telah mengenal kebenaran.

4:4 Karena
semua yang diciptakan Allah itu baik dan suatu pun tidak ada yang
haram, jika diterima dengan ucapan syukur,

4:5 sebab
semuanya itu dikuduskan oleh firman Allah dan oleh doa.

4:6 Dengan
selalu mengingatkan hal-hal itu kepada saudara-saudara kita, engkau
akan menjadi seorang pelayan Kristus Yesus yang baik, terdidik dalam
soal-soal pokok iman kita dan dalam ajaran sehat yang telah kauikuti
selama ini.

4:7 Tetapi
jauhilah takhayul dan dongeng nenek-nenek tua. Latihlah dirimu
beribadah.

4:8 Latihan
badani terbatas gunanya, tetapi ibadah itu berguna dalam segala hal,
karena mengandung janji, baik untuk hidup ini maupun untuk hidup yang
akan datang.

4:9
Perkataan ini benar dan patut diterima sepenuhnya.

4:10 Itulah
sebabnya kita berjerih payah dan berjuang, karena kita menaruh
pengharapan kita kepada Allah yang hidup, Juruselamat semua manusia,
terutama mereka yang percaya.

4:11
Beritakanlah dan ajarkanlah semuanya itu.

4:12 Jangan
seorang pun menganggap engkau rendah karena engkau muda. Jadilah
teladan bagi orang-orang percaya, dalam perkataanmu, dalam tingkah
lakumu, dalam kasihmu, dalam kesetiaanmu dan dalam kesucianmu.

4:13
Sementara itu, sampai aku datang bertekunlah dalam membaca
Kitab-kitab Suci, dalam membangun dan dalam mengajar.

4:14 Jangan
lalai dalam mempergunakan karunia yang ada padamu, yang telah
diberikan kepadamu oleh nubuat dan dengan penumpangan tangan sidang
penatua.

4:15
Perhatikanlah semuanya itu, hiduplah di dalamnya supaya kemajuanmu
nyata kepada semua orang.

4:16
Awasilah dirimu sendiri dan awasilah ajaranmu. Bertekunlah dalam
semuanya itu, karena dengan berbuat demikian engkau akan
menyelamatkan dirimu dan semua orang yang mendengar engkau.

http://dedewijaya.blogspot.com

http://dedewijaya83.blogspot.com

http://dedewijaya.blogs.friendster.com

http://dedewijaya.multiply.com

http://dedewijaya.wordpress.com

http://www.geocities.com/dd123id/BARU.html

sumber:

Artikel Wanda Dumais, Bolehkah Wanita berkhotbah,

Alkitab KJV, TB LAI

Kepenatuaan atau Kependetaan, Alexander Strauch, Andi Ofset.

Komentar-Komentar

SISTEM PENGGAJIAN ALKITABIAH

Pengaruh Uang Dalam Pelayanan
Sudah merupakan sebuah stereotip di kalangan orang Kristen bahwa hamba Tuhan tidak mata duitan. Untuk ini kita setuju bahkan bukan hanya menyetujuinya melainkan menghayatinya serta menekankannya pada pelayan muda. Namun tolong jangan dikembangkan menjadi 'hamba Tuhan tidak membutuhkan uang'. Selagi seseorang masih bernafas, tidak ada orang yang tidak membutuhkan uang. Hamba Tuhan mempunyai istri yang perlu beli baju, punya anak yang perlu sekolah, punya famili yang perlu dikunjungi dengan kendaraan. Ia persis sama dengan semua kelompok manusia. Ia punya rasa kuatir akan kebutuhan kuliah anak-anaknya.
Karena masyarakat dan orang Kristen sendiri yang semakin materialistik, tadinya masih menghormati hamba Tuhan dari kualitas pelayanannya menjadi menghina hamba Tuhan karena penampilan fisik mereka. Mungkin hamba Tuhan itu sendiri cukup percaya diri, namun belum tentu dengan istri dan anak-anaknya. Ketika mereka tak tahan terhadap mata yang memandang rendah karena sepatu mereka yang sudah miring, anak-anak mereka sekolah di sekolah paling tidak bermutu, dan tidak sanggup mengikuti les untuk ketrampilan apapun, maka efeknya terhadap kekristenan mustahil bisa dihindarkan.
Baiklah, ayah mereka telah bertekad untuk melayani Tuhan dalam keadaan apapun. Tetapi apakah wanita-wanita di gereja masih melihat sebagai istri hamba Tuhan adalah hal yang bahagia? Apakah anak-anak di gereja masih akan mendambakan ayah seorang hamba Tuhan? Penulis telah mengkonseling banyak mahasiswa yang sudah berkeluarga yang mengeluh bahwa istri mereka tidak mendukung proses belajar mereka karena sebenarnya tidak ingin suami mereka yang dulu pengusaha, atau karyawan perusahaan memutuskan menjadi pelayan Tuhan full-timer.
Apakah uang ikut mempengaruhi pelayanan? Siapakah yang tidak membutuhkan uang? Semua pekerjaan akan semakin lancar jika ditunjang dengan dana yang cukup. Tentu termasuk keleluasaan pelayan Tuhan bermanuver dengan dana yang dimilikinya.
Sistem Penggajian Kebanyakan Gereja
Jika sulit untuk menilai kondisi kesehatan sebuah organisasi, salah satu aspek yang bisa dijadikan patokan ialah sistem penggajiannya. Jika pemimpin gereja dan denominasi betul memikirkan kebaikan bagi pelayanan, coba pikirkan tentang sistem penggajian yang selama ini diterapkan. Alkitabiahkah sistem penggajian yang sedang diterapkan di denominasi anda?
Ada denominasi yang sistem penggajiannya disatukan dengan sistem pemerintahan duniawi. Mereka mengurus gereja dengan sistem kenegaraan. Protestan yang menggabungkan diri dengan pemerintahan Jerman dengan gaji dari kas negara telah hancur. Kini hampir tidak dapat ditemukan orang Kristen lahir baru lagi di Jerman. Iblis telah sukses menghancurkan gereja melalui menggabungkannya dengan negara bersama dengan sistem penggajiannya.
Sistem penggajian yang diatur oleh sinode sifatnya kurang lebih sama dengan sistem penggajian gereja yang digabungkan dengan negara. Kedua-duanya tidak menyebabkan keterkaitan antara Gembala dengan jemaat yang digembalakannya. Pekerjaannya maju atau mundur gajinya tetap bahkan akan meningkat seturut dengan lamanya yang bersangkutan bekerja atau jenjang pendidikan yang dicapai atau gelar yang berhasil dibeli.
Kebanyakan gereja Tionghoa memakai sistem gaji gembala ditentukan oleh para majelis.
Dengan sistem ini sudah pasti menempatkan para majelis sebagai pemilik gereja dan gembala sekedar tukang nikahkan orang dan tukang kuburkan orang. Dengan sistem majelis sebagai bos, mustahil pengkhotbah mengkhotbahkan khotbah doktrinal karena yang berkhotbah bukanlah yang mengendalikan gereja. Jika gembala mengkhotbahkan doktrin gereja yang benar, itu sama artinya dengan mengritik majelis yang berkuasa. Sudah pasti akhirnya khotbah-khotbah yang disampaikan akan berkisar sekitar kehidupan dan segala perbuatan Tuhan Yesus beserta tokoh Alkitab lain yang patut dicontohi (devotional).
Ketika pengkhotbah mendorong anggota jemaat memperhatikan doktrin, maka anggota jemaat akan memperhatikan SEMUA doktrin, dan ujung-ujungnya akan mengritik pelaksanaan gereja yang tidak alkitabiah. Jadi, fahamkah pembaca mengapa iblis menghasut agar tidak menekankan masalah doktrin dan cukup khotbah devosional saja?
Ada gereja yang memakai sistem dimana Gembala atau pelayan mengambil semua persepuluhan yang masuk. Bahkan ada yang mengambil semua persembahan termasuk yang diedarkan dalam acara kebaktian setiap minggu. Di gereja yang demikian biasanya hampir setiap minggu khotbahnya akan menyinggung persembahan. Bahkan sering kali menakut-nakuti anggota jemaat dengan ayat-ayat Alkitab bahwa jika mereka tidak rajin memberi persembahan atau mengembalikan persepuluhan maka Tuhan akan mengirim belalang untuk melahap hasil usaha mereka bahkan akan mengutuk mereka.
Sangat transparan bahwa mereka mendirikan gereja untuk kepentingan perut. Mereka tidak antusias terhadap masalah doktrin, melainkan hanya bersemangat untuk mengumpulkan duit saja. Mereka memanipulasi ketulusan orang Kristen dengan mujizat palsu dan dongeng nenek-kakek tua. Dalam khotbah mereka hampir tidak ada pengajaran
doktrinal melainkan penuh dengan cerita pengalaman. Semangatnya menggebu-gebu karena dipacu sistem penggajian bahwa semua persepuluhan bahkan semua persembahan menjadi milik Gembala. Sistem ini pasti mendorong pelayan bersemangat namun bukan karena cinta Tuhan melainkan karena cinta uang.
Sistem Penggajian Alkitabiah PL
Adakah Alkitab memberi contoh sistem penggajian terhadap para pelayan Tuhan? Jawabnya, ada! Masakan Tuhan membangun sistem ibadah, membangun jemaat, tanpa memikirkan hal terpenting dari keberlangsungan jemaatnya?
Sejak kejatuhan manusia ke dalam dosa hingga Hukum Taurat diturunkan ayah berfungsi sebagai imam dan tiang kebenaran bagi keluarganya. Sejak Taurat diturunkan hingga Yohanes tampil, Allah menghentikan keimamatan ayah dan mengangkat keimamatan Harun, dan bangsa Israel sebagai tiang kebenaran. Sedangkan sejak Yohanes tampil (Mat. 11:13, Luk.16:16) keimamatan Harun dihentikan demikian juga fungsi bangsa Iarael yang sebagai tiang kebenaran, dan digantikan dengan keimamatan setiap orang percaya (I Pet.2:9) dengan Jemaat lokal sebagai tiang kebenaran (I Tim.3:15). Orang Kristen yang tidak memahami kebenaran ini akan sulit mengerti keseluruhan kebenaran yang Rasul Paulus katakan tersembunyi berabad-abad (Ef. 3:1-11).
Di masa ayah berfungsi sebagai imam dan tiang kebenaran Allah belum menetapkan sistem penggajian karena fungsi keimamatan dan tiang kebenaran ayah hanya untuk lingkup keluarganya saja. Cukup dengan perintah kepada anak anak untuk menghormati dan memelihara ayah mereka.
Namun pada saat Allah menetapkan bangsa Yahudi sebagai tiang kebenaran bagi bangsa-bangsa di dunia dan mengangkat Harun beserta anak-anaknya sebagai imam serta menetapkan suku Lewi sebagai pelayan full-time, mustahil terhadap orang yang dipekerjakan secara full-time tidak diberi keperluan hidupnya (gaji). Mereka bekerja kepada Allah, bukan kepada suku suku lain. Allahlah yang akan memperhatikan kehidupan mereka, jangan ada suku Israel lain yang berpikir bahwa merekalah yang telah menggaji suku Lewi atau keluarga Harun.
Suku lain diwajibkan Allah untuk mengembalikan persepuluhan KEPADA ALLAH. Dan Allah memberikan persepuluhan itu sebagai milik pusaka suku Lewi. Sedangkan suku Lewi diperintahkan mengembalikan persepuluhan yang Tuhan berikan kepada keluarga Harun. Akhirnya tersusun rapi sistem penggajian Tuhan kepada orang-orang yang melayaniNya.
Kesebelas suku Israel mengembalikan persepuluhan mereka kepada Tuhan, dan Tuhan memberikannya kepada suku Lewi, kemudian suku Lewi mengembalikan persepuluhan mereka, dan Tuhan memberikannya kepada keluarga Harun. Sistem ini dipakai Tuhan selama kurang lebih seribu lima ratus tahun.
Sistem Penggajian Alkitabiah PB
Kita tahu bahwa zaman ibadah simbolik PL telah digenapi dan kita kini memasuki zaman ibadah hakekat. Apakah pengembalian persepuluhan termasuk item ibadah simbolik PL yang digenapi? Tentu tidak! Karena mengembalikan persepuluhan itu bukan ibadah tetapi pernyataan kasih kepada Allah. Dalam kitab PL selain terdapat rangkaian ibadah simbolik juga terdapat catatan sejarah, pengajaran moral, nubuatan, dan lain-lain. Ingat, yang digantikan dengan ibadah hakekat itu hanyalah rangkaian ibadah simbolik, sedangkan nubuatan ada sebagian digenapi dan sebagian belum. Pengajaran moral tidak berubah demikian juga dengan himbauan untuk mengasihi Allah. Bahkan jika orang Yahudi yang dilepaskan dari perbudakan jasmani dengan begitu rela mengaminkan persepuluhan sebagai hak milik Tuhan, terlebih kita yang dilepaskan dari perbudakan rohani. Mereka mendapatkan keselamatan badan sedangkan kita mendapatkan keselamatan jiwa.
Persepuluhan bukan bagian dari ibadah simbolik, melainkan sistem yang Allah ciptakan untuk keberlangsungan proses penyelamatan umat manusia yang telah jatuh ke dalam dosa. Karena manusia yang telah jatuh ke dalam dosa memerlukan keselamatan dari Allah. Allah janji mengirim Juruselamat untuk menggantikan manusia berdosa menerima penghukuman. Ketika Sang Juruselamat belum tiba, atau masih dijanjikan, orang berdosa akan dihitung selesai dosanya apabila ia bertobat dan percaya pada Juruselamat yang akan datang. Sedangkan yang hidup sesudah penyalibannya akan selamat melalui bertobat dan percaya kepada Juruselamat yang sudah datang.
Nah, mereka yang hidup sebelum penyaliban-Nya perlu diingatkan terus akan janji itu. Allah mengangkat ayah sebagai imam dan tiang penopang kebenaran. Kemudian Allah membangun ibadah simbolik untuk terus mengingatkan manusia pada janjiNya. Dalam rangkaian ibadah simbolik dimana bangsa Yahudi sebagai tiang kebenaran dan keluarga Harun sebagai imam serta suku Lewi sebagai pelayan, diperlukan sistem penggajian agar mereka bisa hidup. Persepuluhan ditetapkan di dalam sistem itu agar suku Lewi dan keluarga Harun tetap ada makanan.
Kini setelah kedatangan Sang Juruselamat, jabatan keimamatan Harun digantikan dengan orang percaya PB, dan jemaat lokal ditetapkan sebagai tiang penopang dan dasar kebenaran (I Tim.3:15). Dalam sistem ini Allah menetapkan jabatan-jabatan Rasul, Nabi, Penginjil, Gembala, dan Guru (Ef.4:11). Rasul dan Nabi telah menyelesaikan tugas mereka sebagai peletak dasar jemaat, kini tinggal tiga jabatan lainnya.
Sejak Allah tidak memberikan sistem penggajian untuk tiang kebenaran yang baru, itu artinya Allah tetap mau memakai sistem yang lama. Itulah sebabnya Tuhan Yesus berkata bahwa persepuluhan itu HARUS (Luk.11:42). Mengapa persepuluhan itu harus? Karena jika sistem penggajian kacau maka pelaksanaan tugas tiang kebenaran yang baru tidak akan maksimal.
Karena dalam kitab PB Tuhan tidak merombak sistem penggajian zaman PL, maka sistem penggajian masih tetap memakai sistem yang pernah dipakai tiang kebenaran lama. Akhirnya kita dapatkan sistem baku penggajian PL, yaitu dengan komposisi sebelas banding satu. Sebagaimana persepuluhan sebelas suku diberikan kepada satu suku, maka pelayan jemaat PB boleh ambil sebelas persepuluhan. Posisi hamba Tuhan PB adalah posisi Lewi bukan posisi imam karena keimamatan telah dihapus. Jadi, anggota jemaat HARUS mengembalikan persepuluhan dengan jujur dan Gembala berhak atas sebelas persepuluhan yang masuk. Jika jemaat bertumbuh menjadi besar sehingga persepuluhan yang masuk jauh lebih dari sebelas, tentu juga diperlukan pelayan lain selain Gembala, yaitu Penginjil dan Guru. Mereka berhak menikmati persepuluhan dan besarnya diatur oleh Gembala.
Kesinambungan Sebuah Sistem
Sistem ini tidak bisa dijalankan bersamaan dengan sistem sinode karena sistem ini menuntut rasa memiliki yang tinggi dari Gembala dan sesuai dengan hukum menanam dan menuai. Apa jadinya jika seseorang memulai jemaat dengan bersusah payah dan mengajar anggota jemaat mengembalikan persepuluhan, namun setelah dia sukses, kemudian ketua sinode memindahkannya ke jemaat lain dan menempatkan keponakannya (nepo) sebagai pengganti. Sistem sebelas-satu ini hanya cocok untuk jemaat independen, dengan kekuasaan tertinggi pada keputusan rapat jemaat.
Sistem ini juga tidak akan jalan pada jemaat yang pengajarannya tidak alkitabiah. Banyak orang membaca buku Melayani Tuhan Atau Perut dan langsung senang serta mengikuti sistem penggajian yang diuraikan di situ, namun aspek lain dalam berjemaat tidak disesuaikan dengan ketetapan Alkitab. Tentu mereka akan menghadapi banyak permasalahan.
Sistem yang Tuhan tetapkan ini sangat menuntut pengajar firman yang gigih dan teguh dan anggota jemaat yang benar-benar lahir baru serta bertekad patuh pada aturan Tuhan. Anggota jemaat yang tidak setia, dan yang curang adalah penghambat pemberitaan Injil dan kemajuan jemaat. Biasanya ini adalah penghambat utama karena uang memang sangat menggiurkan. Bahkan yang sudah sering mengembalikan persepuluhan pun, jika tidak segera serahkan persepuluhan setelah uang itu didapat, ujung-ujungnya menjadi sangat berat untuk menyerahkannya.
Pemimpin-pemimpin gereja yang tidak mengerti kebenaran, orang buta yang memimpin orang buta, telah menggantikan sistem Tuhan dengan segala sistem yang mereka ciptakan. Sistem penggajian yang kacau, dengan anak Tuhan yang tidak setia mengembalikan persepuluhan adalah salah satu penyebab turunnya jumlah mahasiswa theologi. Tanpa mereka sadari sesungguhnya mereka bukan melayani Tuhan dan bukan memajukan gereja melainkan menghancurkan secara perlahan-lahan. Camkanlah!***
Dr. Suhento Liauw, Buletin PEDANG ROH 59, April-Juni 2009