Apa Jabatanmu?

hz's picture

"Apa jabatanmu?",Tanya Pak tua pada orang-orang yang duduk mengelilinginya. Semuanya diam tak menjawab. Hening.

"Apa kau merasa dirimu hebat?",Lanjut Pak tua. Tak ada satu pun yang berusaha menjawab. Mungkin karena tidak diiming-imingi hadiah permen bagi yang menjawab pertanyaan dengan benar.

Aku teringat aku hadir dalam sebuah seminar di hari minggu pagi. Pembicaranya adalah seorang pria bertubuh besar seperti Paman Santa Claus. Seperkiraanku ia berumur 70 tahun. Senyumnya hangat dan sangat bersahabat, enerjik dan bersemangat. Pak tua; ah maaf, sebaiknya kupanggil Opa saja, mengajar dan berbagi hidup. Inilah bagian yang merhema bagiku yaitu arti jabatan.

Apakah arti sebuah jabatan atau posisi bagiku selama ini? Aku sendiri tidak pernah menelitinya secara seksama. Hanya terbayang satu kata: tanggung jawab. Lepaskan dari judgement kasus benar salah, itu tidak penting. Aku berkonsentrasi mencari tahu serta menyimak baik-baik apa yang disampaikan Opa bagiku.

Aku pernah mendengar orang-orang yang sangat bangga atas jabatan atau posisinya. Apakah engkau seorang pejabat pemerintah? Hai rekan pembaca, apakah anda seorang Jenderal bintang empat? Ya, engkau yang di sana, apakah engkau seorang pemuka agama?

"Jabatan diartikan dalam dua kata. Karakter dan Fungsi",Opa meneruskan.

Benar juga. Bagaimana seseorang memaknai sebuah jabatan dan posisi kini ia berada membantunya untuk bersikap. Ketika aku menjabat sebagai pemimpin, aku harus punya karakter seorang pemimpin dan menjadi teladan orang-orang yang kupimpin. Begitu pula aku harus menyelaraskan diri dengan fungsi jabatanku dimana aku bertindak juga bekerja melakukan bagianku. Aku harus memiliki produktifitas yang menghasilkan sesuatu sebab adanya jabatan tersebut.

Pada satu titik aku merasakan bahwa ini bahan pelajaran yang berat. Kalau engkau mengemban sebuah jabatan, engkau harus memiliki dua hal tersebut. Tidak boleh memilih satu sementara kau singkirkan yang lain. Keduanya harus kau miliki selain skill dan lain-lain. Namun, dua hal inilah yang sering kita lupakan.

Aku terus merenungkan tiga kata di atas: JABATAN, KARAKTER, dan FUNGSI. Tidak mudah bukan berarti mustahil dilakukan. Bukan bisa atau tidak tetapi mau atau tidak mau dipraktekkan. Tentunya hal ini juga dirasakan bagi aktifis rohani. Sebut saja dia seorang Pendeta, hambaNya Tuhan. Sudah pasti dia harus memiliki karakter keteladanan nilai positif dan semangat spiritual yang memancar kasih. Sudah pasti dia harus berfungsi menggembalakan sekumpulan jemaat, mengayomi, dan melakukan tugasnya dalam lembaga ministry.

Sehubungan dengan bahan seminar, apakah aku memiliki dua hal di atas? Atau aku semakin terbang sebagai seorang tinggi hati yang membanggakan posisi dan jabatanku tapi aku kosong melompong? Aw, ini semakin sulit kawan. Tapi aku diingatkan bahwa teguran Opa kepada peserta seminar adalah pelajaran luar biasa membangun.

Apakah aku merasa bangga bercerita dan bercengkrama haha hihi dengan kawan sambil menyelipkan pesan singkat bahwa aku hebat karena jabatanku? Apakah aku gemar menulis besar-besar segala title yang kupunya berharap seluruh dunia melihat, bahkan bermimpi agar setiap lidah mengaku dan lutut bertelut mengaku bahwa akulah jagoannya?! Aku tertunduk.

Ups! Jangan kau nilai aku. Aku hanya ingin mengoreksi diri sendiri dan menyerahkan penghakiman pada Hakim Yang Adil. Sebab Jangan kamu menghakimi, supaya kamu tidak dihakimi. Karena dengan penghakiman yang kamu pakai untuk menghakimi, kamu akan dihakimi dan ukuran yang kamu pakai untuk mengukur, akan diukurkan kepadamu.

Segala tulisan yang diilhamkan Allah memang bermanfaat untuk mengajar, untuk menyatakan kesalahan, untuk memperbaiki kelakuan dan untuk mendidik orang dalam kebenaran.

Amin.

Kategori: Kepemimpinan Kristen