APAKAH IBADAH YANG SEJATI ITU?

Sword of Spirit's picture

Supaya kita dapatkan kesimpulan yang benar marilah kita telusuri dahulu kata-kata bahasa Yunani di balik kata ibadah yang ada di dalam Alkitab bahasa Indonesia kita.

Pemakaian Kata leitourgi,a|
Tetapi sekalipun darahku dicurahkan pada korban dan ibadah imanmu, aku bersukacita dan aku bersukacita dengan kamu sekalian (Filipi 2:17).

Kata ibadah di sini dalam bahasa Yunaninya ialah leitourgi,a| (liturgi) dan kata yang sama di dalam kitab Ibrani 10:11 diterjemahkan dengan kata ‘pelayanan(nya)’ atau dalam bahasa Inggris disebut service. Jadi kalau diterjemahkan sesuai dengan yang dilakukan dalam kitab Ibrani maka ibadah imanmu menjadi pelayanan imanmu.

Maksud Rasul Paulus ialah, sekalipun ia mati demi memenangkan orang Filipi bagi Tuhan, atau membuat orang Filipi beribadah atau melayani Tuhan yang benar ia tetap bersukacita. Orang Filipi sangat mengerti karena memang Paulus hampir mati dipukuli orang-orang pada saat memberitakan Injil kepada orang-orang di Filipi.

Pemakaian Kata euvsebei,aj
Selanjutnya kata Yunani dibalik kata ibadah adalah euvsebei,aj (eusebeias) yang artinya sikap mengakui dan menjunjung tinggi Tuhan. Kata inilah yang dipakai pada ayat-ayat berikut yang diterjemahkan oleh LAI dengan kata ibadah

Dan sesungguhnya agunglah rahasia ibadah kita: "Dia, yang telah menyatakan diri-Nya dalam rupa manusia, dibenarkan dalam Roh; yang menampakkan diri-Nya kepada malaikat-malaikat, diberitakan di antara bangsa-bangsa yang tidak mengenal Allah; yang dipercayai di dalam dunia, diangkat dalam kemuliaan.” (I Tim.3:16).

Latihan badani terbatas gunanya, tetapi ibadah itu berguna dalam segala hal, karena mengandung janji, baik untuk hidup ini maupun untuk hidup yang akan datang. (I Tim 4:8).
Jika seorang mengajarkan ajaran lain dan tidak menurut perkataan sehat -- yakni perkataan Tuhan kita Yesus Kristus -- dan tidak menurut ajaran yang sesuai dengan ibadah kita, ia adalah seorang yang berlagak tahu padahal tidak tahu apa-apa. Penyakitnya ialah mencari-cari soal dan bersilat kata, yang menyebabkan dengki, cidera, fitnah, curiga, percekcokan antara orang-orang yang tidak lagi berpikiran sehat dan yang kehilangan kebenaran, yang mengira ibadah itu adalah suatu sumber keuntungan. Memang ibadah itu kalau disertai rasa cukup, memberi keuntungan besar. Sebab kita tidak membawa sesuatu apa ke dalam dunia dan kita pun tidak dapat membawa apa-apa ke luar. (1 Tim 6:3-7)

Secara lahiriah mereka menjalankan ibadah mereka, tetapi pada hakekatnya mereka memungkiri kekuatannya. Jauhilah mereka itu.(2 Tim 3:5)

Memang setiap orang yang mau hidup beribadah di dalam Kristus Yesus akan menderita aniaya, sedangkan orang jahat dan penipu akan bertambah jahat, mereka menyesatkan dan disesatkan. (2 Tim 3:12-13)

Dari Paulus, hamba Allah dan rasul Yesus Kristus untuk memelihara iman orang-orang pilihan Allah dan pengetahuan akan kebenaran seperti yang nampak dalam ibadah kita, (Tit 1:1)
Sekali lagi bahwa semua ayat terkutip di atas, kata di balik ‘ibadah’ itu diterjemahkan dari kata euvsebei,aj yang dalam bahasa Inggris sering diterjemahkan godliness yang lawan katanya ialah ungodliness atau bahasa Indonesianya fasik (tidak mengakui Allah).

Dengan kata euvsebei,aj Rasul Paulus ingin mengajarkan bahwa yang di dalam Perjanjian Lama dikenal dengan tata cara pelayanan Bait Allah leitourgi,a|| (liturgi) di zaman PB tidak dibatasi tempat, waktu dan postur tubuh lagi, melainkan sepenuhnya merupakan sikap hati orang tersebut dalam seluruh waktu hidupnya. Zaman Perjanjian Lama adalah zaman ibadah simbolik lahiriah yang menekankan retuil ibadah. Tetapi zaman Perjanjian Baru adalah zaman ibadah hakekat rohaniah yang menekankan sikap hati bukan sikap badan.

Inilah yang Tuhan Yesus maksudkan dengan berkata, “tetapi saatnya akan datang dan sudah tiba sekarang, bahwa penyembah-penyembah benar akan menyembah Bapa dalam roh dan kebenaran; sebab Bapa menghendaki penyembah-penyembah demikian” (Yoh.4:23).

Ketika itu Tuhan Yesus sedang mengajar kepada perempuan Samaria yang ngotot bahwa penyembahan di atas bukit Gerizim itu lebih benar daripada penyembahan di Yerusa lem. Perempuan itu masih sangat terikat pada konsep bahwa ibadah itu memerlukan tempat khusus dan masalah tempat sangatlah penting, sementara Tuhan Yesus mengajarkan bahwa saatnya akan tiba dan telah tiba sekarang, penyembah-penyembah yang benar tidak terikat lagi pada tempat, karena mereka akan menyembah secara rohani (secara hati) dan dalam kebenaran (dengan pengertian). Mereka bukan lagi menyembah simbol melainkan hakekat, dan bukan menyembah dengan badan melainkan dengan hati. Sudah jelas perempuan itu tidak mengerti yang dimaksudkan oleh Tuhan Yesus, bahkan hingga kini pun masih banyak theolog dan pengkhotbah yang tidak mengerti kebenaran ini.

Pemakaian Kata qrhskei,a
Kata ini tiga kali dipakai dalam Yakobus 1:26-27, adalah kata yang khas yang oleh penerjemah King James Version diterjemahkan dengan kata ‘religion’ atau bahasa Indonesianya ialah ‘agama’.

Jikalau ada seorang menganggap dirinya beribadah, tetapi tidak mengekang lidahnya, ia menipu dirinya sendiri, maka sia-sialah ibadahnya. Ibadah yang murni dan yang tak bercacat di hadapan Allah, Bapa kita, ialah mengunjungi yatim piatu dan janda-janda dalam kesusahan mereka, dan menjaga supaya dirinya sendiri tidak dicemarkan oleh dunia. (Yak 1:26-27)

If any man among you seem to be religious, and bridleth not his tongue, but deceiveth his own heart, this man's religion is vain. Pure religion and undefiled before God and the Father is this, To visit the fatherless and widows in their affliction, and to keep himself unspotted from the world (James 1:26-27).

Ayat-ayat tersebut di atas mengajarkan bahwa ibadah itu bukan lagi bersifat ritual melainkan bersifat kehidupan. Pada ayat ke 27 dikatakan bahwa agama yang murni( kaqara ) dan yang tak bercacat di hadapan Allah bukan yang menekankan acara ritual melainkan sebuah sikap kehidupan yang menjunjung tinggi Allah dan mengasihi manusia. Pada ayat tersebut Yakobus mengajarkan bahwa ekspresi keagamaan zaman Perjanjian Baru yaitu mengunjungi yatim piatu dan janda-janda dalam kesusahan mereka, dan menjaga supaya dirinya sendiri tidak dicemarkan oleh dunia.

Pemakaian Kata logikh.n latrei,an
Karena itu, saudara-saudara, demi kemurahan Allah aku menasihatkan kamu, supaya kamu mempersembahkan tubuhmu sebagai persembahan yang hidup, yang kudus dan yang berkenan kepada Allah: itu adalah ibadahmu yang sejati (Rom.12:1).

Arti kata logikh.n (logiken) adalah yang logis. Sedangkan latrei,an (latreian) itu artinya pekerjaan (service) atau pelayanan. Jika kata ini dipakai untuk raja maka bisa diartikan mempersembahkan. Jadi kalau diterjemahkan secara literal artinya pelayananmu yang logis (masuk akal). Pelayanan kepada raja bisa disebut pengabdian atau persembahan. Semestinya diterjemahkan “itu adalah pengabdianmu yang masuk akal.” Tetapi LAI menerjemahkan dengan ‘ibadahmu yang sejati’.

Jadi, menurut Rasul Paulus, pengabdian atau pelayanan atau persembahan kita yang masuk akal, atau yang logis, itu adalah mempersembahkan diri kita sebagai persembahan yang hidup, dan yang kudus yang berkenan kepada Allah. Persembahan domba yang disembelih yaitu yang mati adalah persembahan simbolik untuk menggambarkan Sang Juruselamat.

Mengenai Ibrani 10:25, sesungguhnya dalam ayat tersebut tidak ada kata “ibadah”. Itu ditambahkan sebagai tafsiran LAI.
mh. evgkatalei,pontej th.n evpisunagwgh.n
jangan melalaikan itu pertemuan-pertemuan

e`autw/n( kaqw.j e;qoj tisi,n( avlla.
kita seperti kebiasaan sebagian (org) tetapi

parakalou/ntej( kai. tosou,tw| ma/llon
peringatkanlah dan bergiat lebih

o[sw| ble,pete evggi,zousan th.n h`me,ran
sebagaimana kalian lihat mendekat itu hari

Kesimpulan Kita
Dari pemakaian kata-kata tersebut ternyata ada penekanan perubahan sistem ibadah antara sebelum dan sesudah kedatangan Sang Mesias. Sebelum kedatangan Sang Mesias, ketika bangsa Yahudi ditetapkan sebagai tiang penopang dan dasar kebenaran, bentuk ibadahnya adalah simbolik lahiriah dan rituil. Sedangkan sesudah kedatangan Kristus, ibadah telah diubah menjadi hakekat, rohaniah, dan secara kebenaran.

Pembaca yang budiman, coba anda amati keadaan gereja-gereja yang ada, atau yang anda kenal. Apakah para pemimpin gereja sudah mengerti kebenaran Alkitab hingga tuntas? Atau semuanya hanya ikut-ikutan saja pada tradisi gereja yang sudah berjalan. Kalau di dalam Gereja Roma Katolik ada imam itu kita tahu memang sudah jauh menyimpang. Namun hampir di semua gereja Protestan, Injili, dan Kharismatik, juga terdapat banyak praktik keimamatan, misalnya pemberkatan di akhir kebaktian, pemberkatan nikah dan masih banyak lagi. Rupanya mereka diajar oleh dosen theologi yang tradisional, yang menurunkan kesalahan tradisional kepada murid-murid mereka.

Kelihatannya sejak kepergian para Rasul ke Sorga sedikit sekali gereja yang benar-benar alkitabiah dan yang menyenangkan hati Tuhan. Penyimpangan demi penyimpangan secara akumulatif menghancurkan gereja. Repotnya lagi ketika disampaikan kebenaran para pemimpin denominasi yang berkuasa langsung marah dan langsung menangkis bukannya berpikir. Bahkan keparahan di antara pemimpin denominasi sampai sedemikian rupa, yaitu tidak berani meyakini ajaran dirinya sendiri benar. Mereka berkata bahwa kita tidak boleh mengatakan orang lain salah karena kita sama-sama tidak tahu siapa salah dan benar. Bahkan ada seorang dosen STT datang dan berkata bahwa dalam hal kebenaran rohani kita para hamba Tuhan sama seperti orang buta yang ingin mengenal gajah. Maksudnya kebenaran yang ditemukan oleh masing-masing hamba Tuhan perlu dipadukan untuk mendapatkan gambaran gajah yang benar. Padahal orang yang telah diselamatkan itu seharusnya orang yang mata rohaninya telah dicelikkan (II Kor.3:14). Dan di tangan kita telah diberikan Alkitab (buku petunjuk atau handbook), sehingga jika kita mempelajarinya dengan sungguh maka kita digaransi akan mengerti kebenaran (Yoh.8:31-32, 17:17).

Kasihan sekali orang-orang Kristen awam yang dipimpin oleh para orang buta yang mencoba-coba mengenal gajah. Mereka belum tahu bentuk gajah namun mereka sudah mengajarkannya kepada orang lain. Inilah sebenarnya yang Tuhan Yesus sebut orang buta yang memimpin orang buta (Mat.15:14, Luk.6:39).

Ketika orang melek yang telah melihat gajah memberitahu mereka tentang bentuk gajah yang sebenarnya, memberitahu mereka tentang konsep ibadah hakekat rohaniah jemaat Perjanjian Baru, sebagian mereka marah bahkan memusuhi pemberita kebenaran. Sikap demikian sudah pasti akan memimpin mereka ke arah yang semakin jauh dari kebenaran.

Namun marilah kita melayani Tuhan dengan tujuan untuk menyenangkan hatiNya. Dengan cara bagaimanakah? Tentu dengan keinginan yang amat sangat untuk menjalankan firmanNya. Keinginan yang sangat besar untuk menjalankan gereja sesuai dengan ketetapan firmanNya. Yang harus lebih kita patuhi ialah Alkitab, bukan tradisi gereja, apalagi hasil sidang sinode dan lain sebagainya.

Kita tidak bertanggung jawab untuk memelihara Injil dan menghadirkan gereja yang benar bagi kakek kita. Tetapi kita bertanggung jawab atas jiwa orang yang hidup sekontemporer kita, dan bertanggung jawab untuk memelihara gereja yang alkitabiah bagi generasi cucu kita. Kalau hari ini kita berkompromi terhadap kesalahan kecil, maka lima puluh tahun kemudian kesalahan kecil itu pasti berkembang menjadi kesesatan besar. Namun jika kita teguh tidak bergoyang sedikitpun, bisa jadi orang-orang kompromistis akan mengecam kita. Namun pujian Tuhan, yang mengasihi dan telah tersalib bagi anda, telah menanti anda.***

Sumber: PEDANG ROH Edisi 54 Tahun XIII Januari-Februari-Maret 2008

Kategori: Bahan Renungan Alkitab