Beberapa waktu lalu saya membaca buku Harianto GP tentang Teknik Penulisan Literatur, terbitan Agiamedia yang menjabarkan bahwa renungan merupakan sebuah pendapat penulis dengan cara mengeksegese sebuah ayat atau perikop, disimpulkan, lalu direfleksikan ke konteks kehidupan kita sehari-hari. Membaca renungan memang berbeda ketika kita membaca perikop ayat dalam alkitab dan merefleksikan secara pribadi. Renungan dapat menjadi sebuah tuntunan yang dapat membantu menjelaskan sesuatu firman Tuhan, mendukung firman Allah, memberikan semangat, dan pastinya membatu dalam mencari sebuah jalan keluar akan masalah hidup kita.
Tiap orang mungkin memunyai kesukaan tersendiri dalam memilih bacaan renungannya. Sebagai contoh, si A lebih suka membaca renungan X karena penyajian sederhana, memakai ilustrasi yang bagus dan menjelaskan perikop yang di ambil secara kontekstual dengan permasalahan dalam kehidupan kita. Selanjutnya si B beda lagi, dia memilih renungan Y karena memakai sudut pandat teologis yang mendalam. Dalam bukunya, Harianto juga menyinggung bahwa metode penulisan renungan, secara garis besar terdiri dari ayat bacaan, pendahuluan, pertanyaan, uraian (eksegese), penutup, dan yang terakhir adalah refleksi.
Yang sering menjadi perenungan saya dan juga seperti pengalaman saya pribadi ketika beberapa kali membaca renungan, bahwa ilustrasi memegang peranan yang amat penting bagian eksegese (uraian). Jadi secara pribadi saya lebih suka penyajian renungan yang ringan. Yang jelas tidak membuat saya bosan membacanya.
- Log in to post comments