Yesus Marah

Dua
insiden pada bagian bacaan ini sedikit berkaitan. Pengutukan pohon ara
oleh Yesus menjadi semacam tindakan perumpamaan akan
ketidaksetujuan-Nya terhadap apa yang terjadi di bait Allah pada waktu
itu. Bait Allah semestinya menjadi tempat untuk berbakti kepada Allah,
tetapi yang terjadi tidak demikian. Begitu juga dengan pohon ara,
seharusnya berbuah tetapi tidak menghasilkan. Yesus menunjukkan
kemarahan-Nya kepada kehidupan keberagamaan yang tidak memiliki
substansi.

Buah
ara menjadi sumber makanan tambahan yang populer di Israel karena
harganya tidak mahal. Jangka waktu semenjak ditanam sampai berbuah bagi
pohon ara adalah 3 tahun. Setiap pohon menghasilkan buah yang banyak
sebanyak 2 kali setahun, yaitu pada akhir musim semi dan di awal musim
gugur. Insiden ini terjadi di awal musim semi, saat pohon ara
mengeluarkan daunnya. Biasanya buah ara akan muncul beriringan dengan
munculnya daun-daun. Tetapi pohon yang dijumpai Yesus, meskipun daunnya
banyak tidak ada buahnya. Pohon itu kelihatannya menjanjikan tetapi
tidak memberi buah! Kata-kata keras Yesus pada


pohon
ara itu, sebenarnya merujuk juga kepada Israel waktu itu. Hanya
kelihatan “luarnya” saja menjanjikan secara rohani, tetapi di dalamnya
“mandul”. Yesus marah, tetapi tidak berdosa. Selalu ada tempat bagi
kemarahan yang baik seperti Yesus ini. Marah kepada dosa dan
ketidakadilan, dan bukan hanya marah karena kepentingan sendiri