Menjawab Kontradiksi Alkitab (Pendahuluan)

Alkitab adalah Firman Tuhan. Seluruh isi Alkitab adalah kebenaran baik dalam hal ajaran maupun data-data yang lain. Kita percaya Tuhan mampu memelihara Firman-Nya tanpa salah sedikitpun. Kita percaya bahwa Alkitab adalah Firman Tuhan yang Sempurna (Perfect Word-Mazmur 119:140) dari Tuhan yang Sempurna (a Perfect God-Titus 1:2) dan diberikan kepada manusia dengan Cara yang Sempurna (a Perfect Manner-2 Pet 1:21, 2 Tim 3:16) serta dipelihara Tuhan dalam bentuk yang Sempurna (Perfect Form-Mazmur 12:6-7).

Jika saat ini ada beberapa ralat atau catatan khusus pada Alkitab tertentu misalnya kesalahan cetak, perbedaan terjemahan dan lain-lain, maka itu adalah hal yang wajar terjadi dalam proses penerjemahan, penyalinan, percetakan yang dikerjakan manusia sepenuhnya. Begitu banyak Naskah Salinan Alkitab, dari ribuan hingga puluhan ribu jumlahnya. Naskah salinan ini disalin dari Naskah asli Alkitab yang sudah rusak dimakan waktu. Semua orang Kristen percaya Naskah Asli Alkitab tanpa salah sedikitpun. Dalam Naskah salinan yang jumlahnya ribuan hingga puluhan ribu, memang tampak adanya perbedaan-perbedaan di sana sini. Lalu, pertanyaannya mana naskah salinan yang bisa dipercaya tanpa salah dan sama dengan naskah asli? Saya dan Para Teolog sebagian besar percaya bahwa Naskah Salinan yang TANPA SALAH SEDIKITPUN dan SAMA DENGAN NASKAH ASLI ALKITAB adalah Naskah salinan Teks Masoretik (Masoretic Text=MT) untuk Perjanjian Lama dan Naskah salinan Textus Receptus (TR) untuk Perjanjian Baru. Mengapa demikian? Untuk hal ini sudah cukup banyak buku-buku yang menulis mengapa MT dan TR yang diterima dan diyakini tanpa salah sedikitpun.

Beberapa Terjemahan Alkitab yang mengacu pada Naskah salinan MT dan TR yaitu Alkitab berbahasa Inggris King James Version (KJV), New KJV (NKJV), KJ21 (King James abad 21) atau KJ2000, Modern KJV (MKJV), Literal Translation Version (LITV), juga Alkitab bahasa Indonesia Kitab Suci Indonesian Literal Translation (KS-ILT). Sebagian Teolog berpendapat perbedaan-perbedaan dalam naskah salinan dapat dimaklumi karena teknologi belum secanggih sekarang, dan ada faktor human error.

Bagi mereka, Ajaran Alkitab tidak mungkin salah membawa manusia pada konsep pengenalan Allah dan keselamatan yang benar (infallible). Dan selanjutnya kita juga
harus yakin bahwa naskah asli Alkitab tidak salah sama sekali, kemungkinan salah yang disebut di atas hanya terjadi pada salinan dan terjemahan Alkitab yang berikutnya (inerransi). Kristen Fundamental percaya Tuhan memelihara Naskah MT dan TR tanpa kesalahan sedikitpun, sehingga kita hari ini bisa punya Alkitab yang 100% tanpa salah.

Inerransi adalah keyakinan bahwa Alkitab dan hanya Alkitab secara keseluruhan yakni Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru adalah Firman Tuhan yang tertulis dan tanpa salah pada naskah aslinya. Konsep ini didasarkan pada keyakinan bahwa Allah yang benar dan berkuasa mampu menyatakan kehendak-Nya dengan benar dan sempurna. Allah adalah kebenaran, Dia tidak mungkin berdusta dan keliru dalam memimpin para penulis Alkitab (Ibrani 6:18, II Tim 2:13). Jadi Inerransi bukan merupakan hasil penyelidikan empiris karena telah menemukan naskah asli Alkitab lalu menyelidiki dan membuktikan tidak ada kesalahan di dalamnya. Naskah asli Alkitab sekarang sudah tidak ada --karena dimakan usia, yang ada hanya salinan-salinan dari naskah Asli Alkitab-- sehingga tidak mungkin membuktikan inerransi demikian pula pandangan yang menentangnya melalui pembuktian empiris.

Para penulis Alkitab menuliskan kebenaran melalui pengamatan hal-hal yang dilihat dan didengar secara akurat khususnya yang tetap dapat berlaku bagi orang-orang pada zamannya maupun para pembacanya di kemudian hari. Seseorang tidak boleh meneliti Alkitab dengan standard kebenaran yang berbeda dengan standard yang dipakai pada waktu penulisan. Standard berbeda ini harus diperhitungkan khususnya dalam meneliti tulisan mengenai deskripsi alam yang fenomenal, data ilmu pengetahuan yang tidak akurat, pemakaian bahasa hiperbol, pembulatan angka, kronologis tulisan masing-masing kitab sesuai tujuan penulisan, penggunaan kutipan bebas dan lain-lain. Alkitab bukan buku teks ilmiah yang bertujuan memberi data-data ilmiah dan sejarah tetapi bila di dalamnya ada pernyataan-pernyataan ilmu pengetahuan dan sejarah, pernyataan-pernyataan tersebut adalah benar, tidak palsu.

Para penulis Alkitab menuliskan ”kebenaran” dengan pengertian bahwa mereka menyampaikan sebagaimana adanya sesuai pengamatan. Yang disebut ’salah’ adalah menulis sesuatu yang tidak sebagaimana adanya. Menuliskan kebenaran tidak selalu berarti tepat secara teknis dalam setiap kata dan definisi sesuai standard ilmu pengetahuan atau bahasa modern. Sebagai contoh tulisan mengenai jumlah tentara & penduduk dalam Alkitab seringkali dibulatkan karena penulis memang tidak bermaksud menuliskan laporan sejarah yang akurat. Demikian pula pemakaian kutipan seringkali didasarkan pada ingatan dan tidak mengutip secara hurufiah tiap kata sama persis. Hal ini wajar dilakukan karena penulis mengutip untuk kepentingan pengajaran tertentu dan bukan sedang menulis skripsi. Alkitab harus dimengerti sesuai konteks waktu itu dan tujuan penulisannya. Hal utama dalam Alkitab adalah makna teologisnya dibandingkan ketepatan teknis setiap kata dan data. Keyakinan tentang Inerransi adalah keyakinan terhadap pribadi Allah yang tidak mungkin keliru dan mampu menyampaikan Firman-Nya dengan tepat sekalipun melalui manusia yang terbatas. Isi Alkitab adalah perkataan Allah sendiri sehingga isinya dapat diandalkan dan memiliki otoritas. Keyakinan Inerransi sangat penting bagi kita yang saat ini hanya memiliki terjemahan dari salinan-salinan naskah asli Alkitab yang tetap berfungsi dan memiliki otoritas. Melalui kritik teks salinan-salinan naskah Alkitab tersebut dipandang dapat merefleksikan naskah aslinya. Tuhan Yesus dan para rasul pada zamannya juga memakai salinan naskah Alkitab Perjanjian Lama dan mereka memperlakukannya sebagai perkataan Allah sendiri (Matius 1:22; 19:4; 24:15, Markus 12:26, 36, Lukas 20:42).

Sulit untuk menempatkan Alkitab sebagai standard kebenaran dan sumber otoritas atas iman & kehidupan kita, jika kita menganggap di dalamnya terdapat kesalahan-kesalahan. Jika dalam hal data-data konkrit Alkitab bisa salah, bagaimana bisa menjamin kebenaran dalam hal-hal yang abstrak (doktrin).

“Kontradiksi” Alkitab dan bagian Alkitab yang sulit dipahami bukanlah hal yang baru bagi para Apologet (Pembela iman) Kristen maupun bagi pengkritik Kekristenan dari kaum non-Kristen dan atheis. Alkitab dari dulu memang selalu terus-menerus diserang. Dan apapun yang dikatakan kontradiksi tersebut sebenarnya sudah dijawab (1 Petrus 3:15):
Tetapi kuduskanlah Kristus di dalam hatimu sebagai Tuhan! Dan siap sedialah pada segala waktu untuk memberi pertanggungan jawab kepada tiap-tiap orang yang meminta pertanggungan jawab dari kamu tentang pengharapan yang ada padamu, tetapi haruslah dengan lemah lembut dan hormat.

Sebagai anak Tuhan, kewajiban kita untuk menjelaskannya, dengan lemah lembut, bukankah dengan demikian Injil tetap diberitakan walaupun dengan maksud jahat, marilah kita tetap bersukacita.

Menurut pendapat salah satu pakar Alkitab Josh McDowell : "Alkitab dapat dipercaya dan memiliki kejujuran secara historis".

Rasul Paulus pernah menyatakan hal ini dalam: Filipi 1:15
Ada orang yang memberitakan Kristus karena dengki dan perselisihan, tetapi ada pula yang memberitakan-Nya dengan maksud baik.

Filipi 1:18 Tetapi tidak mengapa, sebab bagaimanapun juga, Kristus diberitakan, baik dengan maksud palsu maupun dengan jujur. Tentang hal itu aku bersukacita. Dan aku akan tetap bersukacita.

Kita percaya bahwa Alkitab adalah Firman Tuhan yang Sempurna (Perfect Word-Mazmur 119:140) dari Tuhan yang Sempurna (a Perfect God-Titus 1:2) dan diberikan kepada manusia dengan Cara yang Sempurna (a Perfect Manner-2 Pet 1:21, 2 Tim 3:16) serta dipelihara Tuhan dalam bentuk yang Sempurna (Perfect Form-Mazmur 12:6-7).

Dalam buku ini ada 111 pertanyaan terhadap “kontradiksi” Alkitab Perjanjian Lama. Ada 17 pertanyaan yang penulis gabung menjadi beberapa pertanyaan saja, seperti bisa dilihat pada nomor 43-47. Kontradiksi pada bagian ini bisa dibuat menjadi 17 pertanyaan, namun tidak penulis lakukan, karena jawabannya sama untuk 17 pertanyaan tersebut. Jadi, jika mau ditotal, buku ini lebih kurang memuat 128 pertanyaan.

Dalam buku ini, semua ayat Alkitab berbahasa Indonesia diambil dari Alkitab terbitan LAI (Lembaga Alkitab Indonesia) Terjemahan Baru, kecuali disebutkan lain, maka akan ada keterangan tambahan versi Alkitab bahasa Indonesia selain LAI yang penulis kutip.

Untuk diketahui Septuaginta adalah Kitab Suci Perjanjian Lama dalam bahasa Ibrani yang diterjemahkan ke dalam bahasa Yunani.

Sumber: Menjawab 111 Kontradiksi Alkitab Perjanjian Lama, Dede Wijaya, 2010 

Kategori: Teologi