Lampat tidak suka sekolah, Lampat suka main. Entah sejak kapan Lampat tidak suka sekolah. Rasanya Lampat menyukai sekolah karena disekolah adalah tempat Lampat bisa selalu berinteraksi dengan wanita-wanita cantik. Lampat menyukai siswi yang cantik. Jika mendapat kesempatan duduk satu meja dengannya Lampat selalu senang dan hepi.

Selain dari alasan itu, Lampat tidak suka sekolah. Lampat sering diomelin ibu guru, karena Lampat terlalu pintar, yang ditanya teman Lampat..eh malah Lampat yang menjawab. Lampat sedih, sekolah tidak menghargai para siswa-siswinya berdasarkan talenta mereka, tetapi hanya berdasar nilai yang ada. Yang memiliki nilai tinggi dan alim dikelas selalu disayang dan jadi anak emas. Pada sisi yang lain anak-anak perusuh "digaploki". Anak-anak tidak diharagai sebagaimana seharusnya. Sekolah malah cenderung menjadi tempat penghukuman dan pembunuhan kepribadian.

Setahu Lampat, tujuan sekolah sejak zaman baheula adalah membentuk pejabat handal, yang nurut-manggut kepada Pemerintah tanpa kompromi. Tetapi sebagai perkembangannya sekolah hanya menjadi tempat yang angker dan momok bagi anak-anak yang tidak suka duduk tenang, dan memiliki mega kreatifitas. Selain itu juga sekolah hanya tempat "pengangguran", dimana banyak orang nganggur karena tidak tahu harus berbuat apa dan mengisi waktu hidupnya dengan cara apa ?

Memang banyak anak-anak yang suka sekolah, mereka suka struktur dan koordinasi terarah. Kalau disuruh mandiri dan mengembangkan kreatifitas mereka justru bingung.

O.. iya, sekolah juga mengajarkan anak-anak menghafal, bukan mengembangkan konsep berpikir. Pernah ingat soal peta buta ? soal peta buta adalah soal yang aneh. Karena kita secara tidak karuan disuruh mengahafal hal-hal konyol. Pada kenyatannya kita tinggal buka peta saja untuk mencari lokasi suatu tempat. Itu adalah salah satu contoh kebingungan-kebingungan Lampat tentang pelajaran sekolah.

Yang lucu dari sekolah juga para guru hebat dalam berteori, tapi nihil pada praktek. Misalnya saja guru-guru ekonomi, yang pandai menjabarkan teori, tetapi hidupnya selalu pusing dengan masalah ekonomi we he he he.

Leonardo Davinci, Albert Einstein, Thomas Edison. Mereka adalah jenius murni bebas label sekolah. Robert Kiyosaki juga tidak suka sekolah, sekolah tempat paling membosankan di dunia bagi aliran mereka ini.Aliran mbeling nyelenih mega kreatif.

Tapi sekolah berguna bagi mereka yang memang suka duduk tenang dan menikmati ceramah sang guru, sambil mencatat dari papan tulis. Ini adalah momen-momen yang menyenangkan dan tak ternilai bagi mereka. Lampat juga senang karena ada juga guru-guru yang open mind (ceilah)misalnya seperti Great Teacher Onizuka dan beberapa guru Lampat.

Merombak sistem pendidikan yang ada apa tampak berlebihan ? Apa konsep sekolah Multiple Intelligence bisa menjadi jawaban agar para murid bisa lebih bahagia dan tidak mau pulang dari sekolah (waw keren)

Pelajaran ala Lampat:
Banyak hal-hal yang ada dibiarkan sebagaimana adanya bukan karena hal-hal tersebut memang sudah baik dan sudah berada pada tempat yang seharusnya. Tetapi lebih kepada budaya senioritas klasik yang sensitif untuk dipertanykan oleh generasi-generasi muda.

Berbahaya sekali jika hal ini juga membudaya. Jadi cobalah kembali menanyakan berbagai hal yang diterima begitu saja tanpa pernah ada yang mempertanyakannya.Sehingga tidak menimbulkan efek bom waktu yang BERBAHAYA!!