Oleh: Sudi Ariyanto (MEBIG Indonesia) 

Jika pertanyaan berikut ini disampaikan kepada orang
dewasa yang kristen, apa kira-kira jawaban mereka. Pertanyaannya adalah
"Apakah sekolah minggu perlu atau penting?", lalu apa jawabannya?
Mungkin jawabannya semacam ini: "Oh sangat perlu", "Ya, anak-anak harus
diajar sejak kecil untuk mengenal Tuhan." "Sekolah minggu harus
diadakan." Jadi pada dasarnya mereka menganggap sekolah minggu adalah
perlu dan bahkan penting.

Tetapi, apakah sikap yang memandang penting
pelayanan anak itu terwujud dalam kenyataannya? Dari pengamatan
terhadap beberapa gereja diketahui bahwa pada tataran praktik ternyata
keadaannya tidak seperti yang diungkapkan dengan kata-kata. Berikut ini
adalah beberapa hal yang masih dapat - kalau tidak sangat sering -
dijumpai di gereja-gereja berkaitan dengan pelayanan sekolah minggu (
SM)
.

  1. SM diadakan agar anak-anak tidak mengganggu kebaktian orang dewasa
  2. Sikap seperti ini mungkin muncul dari praanggapan
    bahwa anak-anak tidak atau belum bisa berbakti. Sikap semacam ini
    mempunyai implikasi de facto bahwa kebaktian SM tidak penting.
    Dalam kata lain, kebaktian orang dewasa begitu teramat sangat penting,
    sehingga gangguan dari pihak anak-anak sedikit pun tidak diizinkan.
    Mereka dipisahkan dari kebaktian orang dewasa bukan dengan maksud agar
    anak-anak dapat berbakti dengan lebih baik kepada Tuhan, tetapi agar
    kebaktian orang dewasa tidak terganggu sama sekali. Apabila tempat
    kebaktian SM dekat dengan tempat kebaktian orang dewasa, anak-anak
    tidak diizinkan untuk memuji Tuhan dengan suara keras (
    yang menunjukkan rasa bebas memuji Tuhan)
    di SM, karena akan mengganggu kebaktian orang dewasa. Apakah pernah
    terpikir bahwa puji-pujian dari kebaktian orang dewasa yang begitu
    keras bisa mengganggu anak-anak belajar Firman Tuhan?

  3. Fasilitas untuk SM tidak memadai
  4. Sering terlihat ruangan untuk SM sempit dan tidak
    memadai. Ada gereja yang mengadakan kebaktian SM di bawah pohon. Ada
    pula kebaktian SM diadakan di tempat parkir di basement sebuah hotel, sedangkan kebaktiaan untuk orang dewasa diadakan di salah satu ruangan hotel.

    Jarang ada alat musik untuk anak-anak SM, sedangkan
    pada kebaktian orang dewasa alat musik serta sistem suaranya sangat
    baik dan lengkap. Bukankah ini salah satu bentuk diskriminasi? Dalam
    ucapan dikatakan bahwa kebaktian untuk anak SM penting, tetapi pada
    kenyataannya yang menjadi pusat adalah orang dewasa dan pelayanan SM
    dinomorduakan.

  5. Pengajar SM kurang kompeten

Banyak orang tidak mau mengajar di SM dan karena itu
gereja sering menghadapi kurangnya guru SM, padahal anggota jemaat
banyak sekali. Dari antara mereka yang memiliki beban besar untuk
pelayanan anak, banyak pula yang pengetahuan dan keterampilannya kurang
memadai.

Sering ditemui banyak guru SM yang mengajar tanpa
persiapan dan banyak pula yang mengajarkan hal yang tidak tepat -- jika
tidak dikatakan sangat salah. Pernah ada guru SM yang menyampaikan
kisah berikut di kelas kecil. Guru itu berkata: "Suatu hari Budi
diminta ibu untuk membeli sesuatu. Budi ternyata memakai uang itu untuk
jajan, dan ketika ditanya oleh ibunya ia menjawab bahwa uangnya hilang.
Pada malam hari, Budi bermimpi dikejar-kejar oleh setan. Pada pagi
harinya ketika bangun ia ketakutan lalu ia meminta maaf kepada ibunya."
Apa yang ingin dicapai melalui cerita ini, apakah guru itu akan
mengajarkan bahwa setan bisa juga membuat orang bertobat? Sejak kapan
setan bisa membuat orang bertobat?

Ada juga guru SM yang mengajarkan bahwa persembahan
Kain tidak diterima oleh Allah karena sayur dan buah-buahan di dalam
persembahan Kain busuk semua. Di bagian yang mana dari Alkitab yang
mengajarkan hal ini, lagi pula konsep apa yang ingin disampaikan oleh
guru ini? Persembahan Kain tidak diterima karena ia tidak melakukan
persembahan dari binatang. Persembahan dengan pencurahan darah binatang
ini menyatakan konsep bahwa "Tidak ada penebusan tanpa curahan darah."
Persembahan dari binatang ini merupakan simbol dari persembahan agung
Yesus Kristus kelak.

Senada dengan kesalahan ini adalah cerita guru lain
lagi yang menyatakan bahwa Daniel tidak dimakan oleh singa di gua
karena singanya ompong. Pengajaran yang salah ini mengaburkan dan mengecilkan arti perintah Tuhan dan juga penyertaan Tuhan.

Memang adalah suatu hal yang sangat baik apabila
seseorang memiliki beban yang besar untuk pelayanan, apalagi pelayanan
anak-anak. Akan tetapi para guru harus diperlengkapi atau
memperlengkapi diri dengan keterampilan atau pengetahuan agar dapat
lebih baik lagi menyampaikan berita sukacita kepada anak-anak. Gereja
seharusnya membina para calon guru SM untuk menghindarkan pengajaran
yang salah yang dapat menyesatkan anak-anak.

Masih banyak hal yang sebetulnya menunjukkan bahwa
anak-anak memang tidak begitu diperhatikan. Pelayanan SM biasanya
diberi prioritas yang paling akhir dari antara pelayanan-pelayanan yang
lain Inti permasalahannya sebetulnya terletak pada cara memandang
anak-anak yang kurang tepat. Banyak orang dewasa -- dalam hal ini para
pengajar SM, gembala sidang, majelis gereja, dll -- yang memandang
anak-anak belum bisa apa-apa: belum bisa mengerti FT, belum bisa memuji
Tuhan. Cara pandang seperti ini memanifestasi pada sikap atau kondisi
guru SM yang mengajar tanpa persiapan, tidak dipikirkannya fasilitas
untuk pelayanan SM, tidak pernah dipikirkan camp/retret khusus
untuk anak-anak, penyampaian cerita yang tidak membawa kepada
pengenalan akan Tuhan atau kepada kesadaran akan perlunya juru selamat,
dsb.

Cara pandang seperti ini perlu diubah, karena masa
anak-anak merupakan masa yang sangat penting dalam kehidupan manusia.
Apa yang diberikan atau dialami oleh anak-anak dalam masa kanak-kanak
bisa mempunyai efek yang sangat serius untuk anak itu sebagai individu
kelak. Amsal 22:6 menyatakan: "Didiklah orang muda menurut jalan yang
patut baginya, maka pada masa tuanyapun ia tidak akan menyimpang dari
pada jalan itu."

Banyak orangtua yang mengusahakan pendidikan formal
sebaik mungkin untuk anak-anak: mereka dimasukkan ke dalam sekolah yang
baik atau favorit, dibelikan buku pelajaran yang lengkap, dll., akan
tetapi apakah sikap yang memandang penting pendidikan seperti ini juga
diterapkan dalam hal rohani? Perlu diingat, sebagaimana anak-anak itu
kelak memimpin bangsa, mereka juga adalah masa depan gereja. Di tangan
merekalah kepemimpinan gereja di masa yang akan datang.

Pendeta Gonbei menyatakan bahwa menomorsekiankan
pelayanan anak SM mungkin timbul karena gereja memegang konsep praktis
yang umum dipegang oleh kalangan di luar gereja yaitu tidak membiarkan
adanya pemborosan dan kerugian.

  1. Tidak membiarkan adanya pemborosan
  2. Secara sadar atau tidak, banyak gereja beranggapan
    bahwa mengeluarkan uang untuk pelayanan SM adalah merupakan pemborosan.
    Mengeluarkan uang banyak untuk