Kita seyogyanya berterima kasih kepada teknologi yang telah banyak meringankan beban dan tugas manusia. Saat ini, saya semakin jarang melihat tukang becak susah payah mengayuh becaknya di kota-kota besar. Saya juga merindukan merdunya suara tumbukan padi di desa ayah saya, Siborong-borong, yang tidak lagi banyak terdengar karena sudah ada mesin yang mengerjakannya. Tidak hanya itu, banyak petani yang tidak perlu membajak sawah lagi dengan sapi karena traktor sudah mulai umum dipakai. Peran tukang cuci sampai penjaga parkir perlahan-lahan diambil alih oleh kecanggihan teknologi. Tidak heran setelah melihat kecanggihan mesin penerjemah teman saya nyeletuk, "Wah, penerjemah juga terancam punah." Saya pun tergerak untuk memikirkan nasib saya, seorang penerjemah, dan kegelisahan itu saya tuangkan dalam artikel ini.
Kembali ke pertanyaan, benarkah penerjemah terancam punah? Sangat mungkin karena Google terjemahan sangat cepat menerjemahkan sebuah file, bahkan file yang isinya puluhan ribu kilobytes. File yang mungkin diterjemahkan manusia dalam berminggu-minggu, berbulan-bulan, bahkan bertahun-tahun dapat langsung dialihbahasakan dengan Google terjemahan dengan hanya satu klik. Luar biasa! Sangat mungkin penerjemah terancam punah, karena selain cepat, mesin penerjemah sangat murah. Pasanglah koneksi internet atau pergilah ke warnet terdekat, dan buatlah akun Google. Setelah itu, "simsalabim" kita mendapatkan hasil terjemahan tanpa perlu mengeluarkan uang puluhan ribu untuk jasa penerjemah. Menariknya lagi, Google terjemahan terus menerus berusaha untuk mengoptimalkan hasil terjemahannya. Sangat cemerlang, kan?
Ternyata tidak secemerlang itu. Saya sependapat Sima Gunawan dalam artikelnya "Translation Machines Can Kill Translator" yang dimuat dalam www.jakartapost.com, hasil utuh terjemahan mesin yang tidak diedit itu menyesatkan. Google terjemahan memang nomor satu dalam menerjemahkan kalimat-kalimat sederhana. Akan tetapi, manusia adalah makhluk dengan kreativitas tinggi, yang pemikirannya tidak selalu dapat dituangkan dalam kalimat sederhana. Bahkan, manusia tidak terbatas dalam menciptakan ungkapan-ungkapan baru yang kompleks. Selain itu, unsur linguistik satu bahasa berbeda dengan bahasa yang lain sehingga penerjemahan pun tidak bisa sempurna. Selain itu, bidang penerjemahan itu luas sehingga ada penerjemah yang khusus menerjemahkan bidang tertentu. Sayangnya, Google Terjemahan belum bisa membedakan terjemahan dalam bidang khusus dan bidang umum. Seperti contoh favorit saya, kata "crusade" dalam konteks misi tidak bisa diterjemahkan "perang salib", tetapi padanan yang tepat adalah "KKR". Jika diterjemahkan "perang salib" oleh terjemahan mesin, pembaca yang menelan naskah terjemahan mesin mentah-mentah bisa salah kaprah ketika menafsirkannya.
Lalu, bagaimana sebaiknya sikap penerjemah terhadap penemuan teknologi ini? Penerjemahlah pihak yang sepatutnya paling bersyukur atas penemuan ini. Penerjemah bisa memanfaatkan teknologi untuk mempercepat terjemahan mereka. Tentu saja, penerjemah tidak boleh sepenuhnya mengandalkan mesin penerjemah karena hasilnya akan ngawur. Penerjemah tentu saja tidak mau mengecewakan pemesannya dengan hasil terjemahan yang ngawur. Sebaliknya, penerjemah perlu maju satu level menjadi penerjemah sekaligus editor. Penerjemah yang sudah menguasai bahasa sumber, tentunya perlu memperdalam penguasaannya terhadap bahasa sasaran. Tidak hanya bahasanya saja, penerjemah juga perlu selalu menambah wawasannya untuk memahami konteks yang terkandung dalam teks terjemahan agar bisa menyampaikan makna dengan akurat. Selamat menggunakan teknologi untuk meningkatkan kualitas terjemahan Anda :)
- Log in to post comments
Penerjemah
Sonia Natasha Fri, 11/05/2012 - 18:16
Setuju banget dengan hal tersebut bahwa teknologi sudah mulai menggeser posisi Translator.
Saat ini kebetulan saya bekerja pada salah satu perusahaan media. Jasa freelance translator masih sangat dibutuhkan, apalagi saya bergerak dalam bidang penerbitan buku. Keaslian suat hasil terjemahan yang mengikuti alur naskah asli sangat bagus kita dapat melalui orang2 yg berkualitas dlm hal ini.
Kiranya para translator dapat terus menambah wawasan sehingga semakin luas area yang dimilikinya.
Oya, apakah ada posisi freelance translator lagi? Saya berminat utk mencobanya.
Terimakasih
Gbu :)
terima kasih banyak
sanahwinari Sun, 17/08/2014 - 09:32
thanks.. salam kenal
klik disini dan sanahwinari dan membuat email