Sadar atau tidak sadar, suka atau tidak suka, masing-masing kita
mempunyai "worldview", yang akan mempengaruhi cara kita melihat
dunia, cara kita berpikir, bertindak dan juga cara kita melakukan
konseling. Oleh karena itu sebagai seorang Kristen yang akan terjun
dalam pelayanan konseling, kita harus sadar bahwa kita perlu
memahami terlebih dahulu apa yang membedakan antara Konseling
Kristen dan Konseling Sekular, karena hal-hal yang mendasari kedua
pemahaman ini tidak sama. Berikut ini adalah beberapa presuposisi
(pra-anggapan) dasar yang membedakan antara Konseling Sekular dan
Konseling Kristen (Konseling Alkitabiah):
1. Orientasi dan Sumber Pengetahuan Konseling
Konseling Sekuler berorientasi pada manusia (anthropocentris)
dan sumber pengetahuan adalah berasal dari akal budi dan
pengalaman manusia (humanisme). Sedangkan Konseling Kristen
berorientasi pada Tuhan (theocentris), karena itu pengetahuan
konseling bersumber dari Allah yang telah menyatakan Diri-Nya
kepada manusia. Oleh karena itu konselor Kristen percaya bahwa
melalui Alkitab Allah telah memberikan prinsip-prinsip bagaimana
seharusnya kita hidup.
2. Tujuan Konseling
Konseling Sekuler bertujuan untuk menolong orang yang dikonseling
(konselee) mendapatkan kebahagiaan hidup. Sebaliknya, konseling
Kristen memiliki tujuan utama agar konselee dapat hidup
menyenangkan Tuhan, yaitu melakukan apa yang Tuhan kehendaki
sesuai dengan Firman-Nya. Ketaatan seseorang kepada Tuhan dan
Firman-Nya akan membuahkan kebahagiaan hidup yang sejati.
3. Prinsip Konseling
Konseling Sekuler mendayagunakan prinsip-prinsip yang lahir dari
hikmat dan filsafat manusia untuk menjawab semua kebutuhan-
kebutuhan yang diingini manusia. Prinsip-prinsip Konseling Kristen
diberikan oleh Tuhan melalui Alkitab, Roh Kudus yang tinggal dalam
hati setiap orang percaya dan kuasa doa, agar kehendak Tuhan jadi
dalam hidup si konselee.
4. Kebenaran Moralitas
Kebenaran moralitas Konseling Sekuler ditentukan oleh situasi
etika masyarakat saat itu, yang dapat mengalami pergeseran-
pergeseran atau perubahan. Sedangkan Kebenaran moralitas Konseling
Kristen berakar pada kebenaran Alkitab yang tidak pernah luntur
atau berubah.
Perbedaan-perbedaan di atas memperlihatkan dengan jelas bahwa
Konseling Kristen bukan merupakan salah satu pilihan alternatif
dalam melakukan konseling, tapi suatu keharusan yang tidak dapat
ditawar karena hanya dengan setia dan taat pada Tuhan dan Firman-
Nyalah maka pelayanan konseling itu disebut Konseling Kristen!
Jadi, bagaimana kita mendefinisikan "Konseling Kristen"? Secara
singkat dan sederhana bisa kita simpulkan bahwa Konseling Kristen
(Konseling Alkitabiah) adalah usaha yang dilakukan oleh konselor
Kristen untuk membantu orang Kristen lain (konselee) dalam menjalani
proses pengkudusan (sanctification) yang dilakukan oleh Allah,
dengan demikian diharapkan hal ini akan memungkinkan konselee untuk
menemukan hidup yang sesuai dengan kehendak Tuhan dan menjadi
semakin serupa dengan Kristus!
Dari definisi tsb. di atas, perbedaan antara Konseling Kristen dan
konseling Sekuler menjadi semakin jelas bahwa Konseling Sekuler
tidak mungkin membawa konselee untuk hidup sesuai dengan kehendak
Tuhan dan semakin serupa dengan Anak-Nya, karena Konseling Sekuler
memang tidak dibangun berdasarkan kebenarannya pada Firman Allah dan
tidak memiliki tujuan akhir untuk setia dan taat kepada Firman-Nya.
Dari penjelasan di atas, maka timbul 2 pertanyaan penting:
PERTAMA, Alkitab adalah satu-satunya buku pedoman konseling?
Banyak bagian dari Alkitab yang memang memberikan petunjuk-petunjuk
khusus yang jelas tentang topik-topik konseling. Selain itu Alkitab
juga memberikan petunjuk-petunjuk umum yang dapat dipakai oleh
konselor untuk melakukan konseling. Namun demikian Alkitab tidak
pernah memberikan klaim sebagai buku pedoman konseling. Alkitab
adalah Firman Tuhan yang memiliki otoritas tertinggi dan mutlak bagi
iman dan perbuatan orang percaya. Tapi ini bukan berarti bahwa
setiap masalah manusia akan bisa diselesaikan hanya dengan mengutip
atau menerapkan kebenaran ayat-ayat Alkitab.
Persoalan dan masalah yang dihadapi manusia pada jaman ini jauh
lebih kompleks dari pada apa yang dialami oleh manusia-manusia yang
hidup pada jaman Alkitab dulu. Di pihak lain, Alkitab tidak ditulis
untuk tujuan menjawab setiap masalah-masalah manusia. Tapi, melalui
Alkitab Allah memberikan prinsip-prinsip kebenaran-Nya sehingga
melaluinya manusia dapat mengetahui standard kebenaran dan kesucian
Allah untuk menjadi standard bagaimana manusia harus hidup.
KEDUA, kalau demikian, apakah berarti prinsip Konseling Sekuler
bertentangan dengan konseling Kristen sehingga tidak boleh dipakai
oleh orang Kristen?
Untuk menjawab pertanyaan kedua ini, akan kami kutipkan dua buah
cuplikan tulisan; yang pertama adalah dari Dr. Gary R. Collins,
dan yang kedua dari Dr. Larry Crabb:
(1) PSIKOLOGI SEKULER DAN KONSELING KRISTEN (Dr. Gary R. Collins)
Dalam abad ke dua puluh ini, dunia makin tertarik pada psikologi.
Banyak biaya digunakan untuk riset, seminar-seminar, dan bahkan
tulisan-tulisan di majalah-majalah. Banyak buku-buku diterbitkan
dengan topik Ilmu Jiwa dan semuanya ini menunjukkan, bahwa makin
banyak orang yang tertarik dalam bidang ini. Memang Ilmu Jiwa
dipakai sebagai dasar konseling, tetapi juga mempunyai pengaruh
dalam mendidik, membesarkan anak, hubungan pernikahan dan keluarga,
dunia perdagangan, arsitektur, karya tulis, pemindahan penduduk,
ekonomi, pertanian, politik, bahkan masalah-msalah dalam hubungan
international.
Bagaimana reaksi kita sebagai orang Kristen? Apakah kita menerima
semua pendapat ahli psikologi begitu saja? Apakah kita memberikan
reaksi yang menentang seperti kakek nenek kita yang tidak setuju
semua pedapat dari Freud? Atau kita coba untuk mempelajari bahan-
bahan psikologi dan mengambil bagian-bagian yang dapat
diaplikasikan pada pelayanan di gereja?
Memang dunia psikologi tidak dapat diabaikan begitu saja. Tuhan
mengijinkan banyak penemuan-penemuan dalam bidang Ilmu Jiwa,
misalnya mengenai bagaimana orang berpikir, memberikan reaksi dan
mengatasi persoalan hidupnya. Tentu saja, pengetahuan ini belum
sempurna, dan menyangkut banyak aspek yang tidak sesuai dengan
kebenaran Firman Tuhan, bahkan masih disangsikan kebenarannya;
namun ini tidak lah berarti kita tidak bisa memakai Ilmu Jiwa.
Banyak orang yang mengeritik Ilmu Jiwa, tetapi mereka tanpa sadar
telah menggunakannya dalam teknik-tenkik konseling mereka. Karena
itu seharusnya kita bertanggung jawab dalam mempelajari dan
menggunakan sumbangan Ilmu Jiwa yang dapat membuat konseling lebih
efektif.
(2) KEKRISTENTAN DAN PSIKOLOGI; MUSUH ATAU SEKUTU (Dr. Larry Crabb)
... kita dapat mengambil keuntungan dari psikologi sekular jika
kita dengan hati-hati menyaring konsep-konsep kita untuk menentukan
kecocokan mereka dengan praduga-praduga Kristen.
Pekerjaan menyaring dengan hati-hati bukan masalah yang mudah.
Meskipun memiliki tujuan yang terbaik untuk tetap alkitabiah, namun
sangatlah mudah untuk mengakui konsep-konsep ke dalam pemikiran
kita yang berkompromi dengan isi alkitabiah. Karena para ahli
psikologi telah menghabiskan waktu sembilan tahun untuk mempelajari
psikologi di sekolah dan ditekankan untuk menghabiskan sebagian
besar waktu membaca mereka dengan bacaan di bidan