Status dan natur keberdosaan semua manusia diperoleh dari Adam. Ini biasanya disebut sebagai dosa asal. Istilah 'dosa asal' lebih tepat dipakai dari pada 'dosa warisan' karena istilah yang terakhir ini menyiratkan kesan bahwa dosa manusia diperoleh melalui orang tua mereka.
Kenyataannya, dosa ini lebih berkaitan dengan relasi setiap manusia dengan Adam. Ketika Adam mendapat perintah dari Tuhan untuk menguji ketaatannya (Kej. 2:15-17), ia bukan hanya berdiri sebagai pribadi, tetapi sebagai kepala perjanjian yang mewakili semua manusia. Apapun hasil ujian akan berdampak pada semua keturunan manusia. Para teolog Reformed tradisional menyebut ini dengan sebutan "perjanjian kerja" (covenant of work). Penyebutan ini didasarkan pada beberapa elemen perjanjian kuno yang tersirat dalam perintah Allah di Kejadian 2:15-17. Istilah "perjanjian Adam" secara khusus muncul di Hosea 6:7 "tetapi mereka itu telah melangkahi perjanjian di Adam, di sana mereka telah berkhianat terhadap aku". Teks yang dianggap sebagai dukungan utama doktrin ini adalah Roma 5:12-21. Dalam teks ini Adam pertama dan Adam yang terakhir (Yesus) dikontraskan. Adam pertama berdosa sehingga akibat dari dosa itu diperintungankan kepada semua keturunannya, sedangkan Yesus hidup-Nya benar secara sempurna sehingga kebenaran itu diperhitungkan kepada orang-orang percaya kepada-Nya (bnd. 1Kor.15:22). Berdasarkan diatas, semua manusia bahkan bayi sekalipun sudah berdosa (Maz. 51:7) "dalam kesalahan aku diperanakan, dalam dosa aku dikandung ibuku"). Ditempat lain Paulus menyebut orang-orang diluar Kristus dengan sebutan "secara natur, kami adalah anak-anak kemurkaan (Ef. 2:3b). Kecenderungan hati manusia pada kejahatan dimulai sejak kecil (Kej. 8:21).
Hal tersebut semakin diperkuat dengan fakta kematian para bayi yang secara aktual belum bisa melakkukan dosa. Seandainya tidak ada dosa asal, bukankah bayi dalam kandungan seharusnya tidak bisa mengalami akibat dosa yaitu kematian. Fakta lain yang mendukung adalah universalitas dosa manusia. Alkitab memberikan peryataan yang tegas dan melimpah tentang tidak adanya seorangpun di dunia ini yang tidak berdosa (1Raj. 8:46; Ay. 14:4; Maz. 143:2; Ams. 20:9; Pkt. 7:20; Rom. 3:10-18). Seandainya ada satu manusia pernah ada di dunia ini yang tidak tercemar dosa, maka paling tidak di dunia ini akan ada satu atau dua orang yang mampu bertahan dalam kekudusan. Kenyataannya, semua manusia berbuat dosa. Universalitas dosa semacam ini menuntut adanya satu sumber atau keterkaitan yang sama bagi semua manusia yang dalam Teologi Reformed dikenal sebagai dosa asal.