Bab 6
TULIP
Setelah kita mengerti doktrin utama Reformed tentang kedaulatan Allah, otoritas Alkitab, dan anugerah Allah, ketiga konsep pertama ini akan menggiring kita lebih memahami poin keempat keunikan theologi Reformed yang diajarkan oleh Dr. John Calvin yaitu: Total Depravity (Kerusakan Total Manusia), Unconditional Election (Pemilihan yang Tidak Bersyarat), Limited Atonement (Penebusan Terbatas), Irresistible Grace (Anugerah yang Tidak Dapat Ditolak), dan Perseverance of the Saints (Ketekunan Orang-orang Kudus). Mari kita mempelajari satu per satu kelima poin Calvinisme yang sering disingkat TULIP ini.
1. Total Depravity (Kerusakan Total Manusia)
Apa arti kerusakan total manusia? Kerusakan total tidak berarti manusia benar-benar jahat dan kejam sehingga tidak ada aspek yang agak baik. Ingatlah, Alkitab mengajar bahwa Allah telah memberi wahyu umum-Nya kepada semua manusia dalam bentuk hati nurani dan alam, sehingga mereka tidak dapat berdalih (Ams. 20:27; Rm. 1:19-20). Dengan adanya hati nurani yang merupakan benih agama yang ditanamkan Allah di dalam setiap manusia, sebagai responnya, manusia masih mampu berbuat “baik” (melalui etika moral, agama, dll) meskipun perbuatan “baik” ini tidak dilakukannya dengan motivasi dan tujuan yang baik yaitu memuliakan Allah. Kerusakan total manusia berarti dua hal. Rev. Prof. Edwin H. Palmer, Th.D., D.D. memaparkan dua konsep kerusakan total ini, yaitu dari sisi positif, berarti selalu dan semata-mata berbuat dosa, dan dari sisi negatif, ketidakmampuan total.1 Dari sisi positif, kerusakan total manusia berarti selalu dan semata-mata berbuat dosa. Artinya, tidak ada kecenderungan lain di dalam diri manusia, selain berbuat dosa. Augustinus menyebut kondisi ini sebagai non-posse non-peccare (tidak mungkin tidak berdosa). Mari kita telusuri bagian Alkitab tentang hal ini. Dari Kitab Kejadian 3, kita sudah mendapati realita ini, yaitu manusia pertama, yaitu Adam dan Hawa berdosa secara positif yaitu murni ingin berbuat dosa. Perhatikan Kejadian 3:6, “Perempuan itu melihat, bahwa buah pohon itu baik untuk dimakan dan sedap kelihatannya, lagipula pohon itu menarik hati karena memberi pengertian. Lalu ia mengambil dari buahnya dan dimakannya dan diberikannya juga kepada suaminya yang bersama-sama dengan dia, dan suaminyapun memakannya.” Setelah dibujuk oleh iblis, Hawa termakan oleh bujukan itu dengan memandang “keindahan” buah pengetahuan yang baik dan jahat itu, lalu kemudian ia memakannya, ia tidak sadar bahwa pada saat itulah ia jatuh ke dalam dosa. Kejadian 6:5 juga berkata hal serupa, “Ketika dilihat TUHAN, bahwa kejahatan manusia besar di bumi dan bahwa segala kecenderungan hatinya selalu membuahkan kejahatan semata-mata,” Begitu juga dengan Yeremia 17:9, “Betapa liciknya hati, lebih licik dari pada segala sesuatu, hatinya sudah membatu: siapakah yang dapat mengetahuinya?” Di Perjanjian Baru, kita mendapati hal serupa. Di Roma 3:10, Paulus mengajar, “Tidak ada yang benar, seorangpun tidak.” Lalu di ayat selanjutnya (11 s/d 18), ia memaparkan kecenderungan perbuatan jahat manusia.
Di sisi negatif, kerusakan total berarti tidak adanya kemampuan total. Artinya, manusia tidak mampu lagi berbuat sesuatu yang menyenangkan Allah. Mengapa manusia tidak mampu? Ada beberapa alasan. Pertama, manusia tidak mampu berbuat baik (dan benar) karena manusia tidak mau mengetahui kebaikan (dan standarnya: kebenaran). Kata “tidak mau” menunjukkan bahwa dari asalnya, karena dosa, manusia memang benar-benar enggan mengetahui kebaikan dan kebenaran. Rasul Paulus menjelaskan konsep ini di dalam 2 Timotius 4:3-4, “Karena akan datang waktunya, orang tidak dapat lagi menerima ajaran sehat, tetapi mereka akan mengumpulkan guru-guru menurut kehendaknya untuk memuaskan keinginan telinganya. Mereka akan memalingkan telinganya dari kebenaran dan membukanya bagi dongeng.” Manusia berdosa memiliki kecenderungan untuk tidak mau lagi mengetahui apa yang baik dan benar, tetapi justru ingin mengetahui apa yang menyenangkan (mengenakkan telinga). Di era pragmatisme di zaman postmodern, apa yang telah dikatakan Paulus telah menjadi kenyataan. Dunia kita tidak mau Kristus dan Kebenaran, tetapi menginginkan sesuatu yang mistik, “akademis”, dll, sehingga novel-novel seperti The Da Vinci Code (fiksi tetapi mengaku fakta juga???) begitu laris di dunia, bahkan filmnya diputar secara serentak di dunia (termasuk Indonesia). Di Indonesia, film ini diputar dalam jangka waktu yang agak lama. Bagaimana dengan film The Passion of the Christ di Indonesia? Ternyata film yang benar-benar berpusat pada Kristus ini diputar di Indonesia dalam jangka waktu lebih pendek dari pemutaran film The Da Vinci Code, bahkan menurut berita, di beberapa negara, film The Passion of the Christ dilarang diputar, tetapi herannya mengapa film The Da Vinci Code diputar serentak, dan hampir tidak ada negara yang melarang pemutaran filmnya? Inilah bukti dunia tidak mau mengetahui kebenaran, tetapi maunya sesuatu yang menyenangkan. Selain tidak mau mengetahui kebenaran, kedua, manusia tidak mampu berbuat baik, karena mereka tidak mau tunduk kepada Kebaikan dan Kebenaran itu. Akibat dari tidak mau mengetahui Kebenaran, maka manusia otomatis tidak mau tunduk kepada Kebaikan/Kebenaran. Kita bisa menjumpainya di dalam pengalaman penginjilan. Ketika kita menginjili beberapa orang yang diinjili itu (yang menolak) secara umum mengatakan bahwa semua agama itu sama, bahkan ada yang tidak menganggap Injil yang kita beritakan. Yang lebih ekstrim lagi, Kekristenan dihina, diancam, gereja-gereja dibakar, Kristus dilecehkan dengan berbagai alasan “akademis”, misalnya kawin dengan Maria, tidak bangkit, dll. Semua itu menunjukkan bahwa manusia sebenarnya tidak mau tunduk kepada Kebenaran, tetapi memberontak kepada Kebenaran. Sayang, semakin mereka memberontak kepada Kebenaran, mereka bukan semakin hebat, tetapi mereka semakin kelihatan bodoh. Ketika membicarakan tentang Bertrand Russell dan Irasionalitas Rasionalisme di dalam Persekutuan dan Pembinaan Pemuda GRII Andhika, Surabaya tanggal 22 April 2008, Pdt. Sutjipto Subeno, M.Div. memberikan satu ilustrasi bagus. Beliau memaparkan bahwa manusia yang mau melawan Kristus itu seperti benda lunak mau melawan benda keras (misalnya, kapas mau melawan besi/baja), akhirnya, semakin orang itu melawan Kristus, mereka semakin kalah dan tidak bisa apa-apa. Itulah gambaran dunia yang katanya semakin “pintar”, tetapi realitanya bodoh.
2. Unconditional Election (Pemilihan yang Tidak Bersyarat)
Karena semua manusia sudah rusak total, maka jalan keluar dari dosa yaitu keselamatan. Keselamatan itu datang dari pihak Allah (anugerah Allah) yang dimulai dari Allah yang telah memilih beberapa manusia untuk diselamatkan dan pemilihan itu tidak bersyarat. Mari kita telusuri pengajaran Alkitab mengenai bagian ini.
Dengan jelas sekali, Tuhan Yesus berfirman di dalam Yohanes 6:37, “Semua yang diberikan Bapa kepada-Ku akan datang kepada-Ku, dan barangsiapa datang kepada-Ku, ia tidak akan Kubuang.” Dengan kata lain, orang bisa datang kepada Kristus setelah orang-orang itu ditarik oleh Bapa. Berarti, tetap ada orang-orang tertentu yang dipilih Bapa untuk dibawa kepada Kristus.
Kedua, Tuhan Yesus juga mengatakan di dalam Yohanes 15:16, “Bukan kamu yang memilih Aku, tetapi Akulah yang memilih kamu. Dan Aku telah menetapkan kamu, supaya kamu pergi dan menghasilkan buah dan buahmu itu tetap, supaya apa yang kamu minta kepada Bapa dalam nama-Ku, diberikan-Nya kepadamu.” Di titik pertama, Tuhan Yesus sudah mengajarkan bahwa bukan manusia yang memilih Tuhan, tetapi Tuhan yang memilih manusia. Ini berarti pemilihan berada di tangan Allah, bukan di tangan manusia. Dengan kata lain, semua doktrin yang mengajarkan bahwa Tuhan menyelamatkan semua orang dan tidak pernah memilih orang-orang tertentu sudah diruntuhkan oleh pengajaran Tuhan Yesus sendiri.
Di Kisah Para Rasul 13:48, atas ilham Roh, dr. Lukas menulis, “Mendengar itu bergembiralah semua orang yang tidak mengenal Allah dan mereka memuliakan firman Tuhan; dan semua orang yang ditentukan Allah untuk hidup yang kekal, menjadi percaya.” Perkataan ini terjadi setelah Paulus memberitakan Injil kepada orang-orang Yahudi di Antiokhia di Psidia (baca: ayat 16 dan 44). Orang-orang yang telah dipilih Allah akhirnya meresponi firman yang diberitakan Paulus dan Barnabas (baca: ayat 48), sedangkan yang tidak dipilih, malahan menolak dan geram kepada pemberitaan (dan para pemberita) Injil (baca ayat 45).
Di Efesus 1:4-6, dengan lebih jelas dan gamblang, Paulus mengajarkan, “Sebab di dalam Dia Allah telah memilih kita sebelum dunia dijadikan, supaya kita kudus dan tak bercacat di hadapan-Nya. Dalam kasih Ia telah menentukan kita dari semula oleh Yesus Kristus untuk menjadi anak-anak-Nya, sesuai dengan kerelaan kehendak-Nya, supaya terpujilah kasih karunia-Nya yang mulia, yang dikaruniakan-Nya kepada kita di dalam Dia, yang dikasihi-Nya.” Ada empat hal yang mau kita soroti pada bagian ini. Pertama, Paulus mengajarkan bahwa di dalam Kristus, Allah telah memilih kita. Berarti, proses keselamatan akhirnya menuju kepada Kristus. Allah Bapa merencanakan keselamatan, Allah Anak (yaitu Tuhan Yesus) menggenapi keselamatan, dan Allah Roh Kudus yang menyempurnakan karya keselamatan Kristus itu dengan mengefektifkan karya penebusan Kristus ke dalam hati setiap umat pilihan yang telah dipilih Allah Bapa. Kedua, Allah telah memilih kita di dalam Kristus sebelum dunia dijadikan. Berarti, Allah memilih manusia jauh sebelum manusia berdosa. Ini juga berarti bahwa Allah yang memilih manusia bukan karena manusia yang ingin diselamatkan, tetapi pemilihan mutlak terjadi dari pihak Allah yang berinisiatif aktif. Ketiga, Allah telah memilih kita di dalam Kristus sebelum dunia dijadikan supaya kita kudus dan tidak bercacat di hadapan-Nya. Artinya, kita dipilih Bapa di dalam Kristus supaya kita memancarkan terang Kristus di hadapan Bapa (bdk. Rm. 12:1-2; Ef. 2:10). Dan terakhir, Allah yang telah memilih kita di dalam Kristus sebelum dunia dijadikan terjadi karena kasih karunia Allah saja. Perhatikan ayat 6 di dalam Ef. 1 ini. Ketika Allah telah menentukan kita di dalam Kristus, itu terjadi karena anugerah-Nya, sehingga anugerah-Nya itulah yang harus dipuji selama-lamanya, bukan karena kehebatan diri kita yang memilih Tuhan. Di sini, proposisi Arminian yang mengajarkan bahwa manusia yang memilih Tuhan dan Ia baru memilih manusia setelah Ia melihat iman manusia yang dipilih-Nya itu sudah digagalkan di bagian ini. Allah memilih beberapa orang bukan atas dasar perbuatan baik manusia, tetapi murni karena anugerah dan kedaulatan Allah (bdk. Ef. 2:8-9; Rm. 8:29-30).
Lalu, apa signifikansi doktrin ini? Pemilihan tanpa syarat memberikan beberapa signifikansi penting, yaitu:
Pertama, bersyukur. Tidak ada respon yang paling penting selain kita terus-menerus bersyukur atas anugerah-Nya yang begitu agung yang telah diberikan-Nya bagi kita yang berdosa. Kalau Allah memilih manusia berdasarkan kebaikan manusia, maka manusia bisa berbangga karenanya, tetapi Alkitab TIDAK mengajar demikian. Alkitab mengajar bahwa Allah memilih manusia TIDAK melihat jasa baik manusia, tetapi murni anugerah dan kedaulatan Allah. Justru karena inilah, kita makin bersyukur bukan hanya karena Ia telah memilih kita, tetapi juga Ia telah memilih kita tanpa melihat diri kita yang kotor dan najis ini. Dengan kata lain, Ia menerima kita apa adanya. Itulah penghiburan umat Tuhan yang tak terkira.
Kedua, bersaksi dan berbuat benar. Kita tidak cukup hanya bersyukur, kita harus menyaksikan cinta kasih Tuhan yang begitu agung ini kepada semua orang tanpa kecuali melalui penginjilan dan perbuatan kita yang memuliakan Tuhan sebagai seorang yang telah dipilih Allah. Kita bisa melakukan hal ini pun merupakan anugerah Allah melalui pekerjaan Roh Kudus. Dengan kata lain, di dalam pemilihan Allah, mengutip perkataan Ev. Mercy G. P. Matakupan, S.Th., Ia menerima kita apa adanya, tetapi Ia tidak membiarkan kita apa adanya. Artinya, Ia menerima kita dalam kondisi apa adanya, tidak melihat jasa baik kita, tetapi Ia tidak selamanya membiarkan kita terus di dalam kondisi rusak (apa adanya), melainkan Ia akan memampukan kita berbuat baik demi kemuliaan-Nya.
3. Limited Atonement (Penebusan Terbatas)
Kata “terbatas” tidak berarti secara kualitas/kemampuan.2 Penebusan terbatas berarti penebusan yang cakupannya terbatas hanya pada umat pilihan-Nya. Arminianisme memercayai bahwa Kristus menebus dosa semua umat manusia bahkan mereka yang telah ditentukan untuk binasa. Mereka mengutip ayat-ayat Alkitab yang hanya membicarakan tentang doktrin mereka, misalnya: Yoh. 4:42; 2Kor. 5:14; Tit. 2:11; 1Yoh. 2:2; dll. Benarkah ajaran mereka? Kelihatannya benar, jika ayat-ayat tersebut dicomot dan tidak memperhatikan bagian Alkitab lain. Tetapi jika kita mengerti totalitas Alkitab khususnya Perjanjian Baru, kita akan mendapatkan gambaran yang lebih jelas tentang cakupan penebusan Kristus. Mari kita akan menganalisanya satu per satu.
Tuhan Yesus sendiri di dalam Yohanes 6:37-38 berfirman, “Semua yang diberikan Bapa kepada-Ku akan datang kepada-Ku, dan barangsiapa datang kepada-Ku, ia tidak akan Kubuang. Sebab Aku telah turun dari sorga bukan untuk melakukan kehendak-Ku, tetapi untuk melakukan kehendak Dia yang telah mengutus Aku.” Kedua ayat ini berada di dalam konteks ketika orang banyak sedang mengerumuni Tuhan Yesus untuk minta roti lagi (baca: ayat 25). Lalu Ia memberikan pengajaran yang sangat sulit diterima untuk mendidik sekaligus menguji motivasi mereka dalam mengikut-Nya. Akibatnya, setelah pengajaran sulit itu disampaikan, ternyata banyak dari mereka yang mengundurkan diri (ay. 60-66). Nah, kedua ayat ini menjadi ayat yang menjelaskan dan membedakan mutlak mana umat Tuhan sejati dan mana yang palsu. Mari kita analisa. Kata “semua” di ayat 37 tidak harus diterjemahkan semua, karena kata Yunaninya: pas bisa diterjemahkan “setiap” atau “seluruh”. Lalu, di dalam struktur bahasa Yunani, “diberikan” di dalam ayat 37 menggunakan bentuk aktif dan present. Begitu juga dengan terjemahan Inggris. English Standard Version (ESV) menerjemahkan, “All that the Father gives me will come to me, and whoever comes to me I will never cast out.” (=Semua yang Bapa berikan kepada-Ku akan datang kepada-Ku, ...) Lalu, “akan datang” di dalam struktur bahasa Yunani menggunakan bentuk akan datang (future). Dengan kata lain, ayat ini berarti semua yang telah ditentukan Allah Bapa menjadi umat-Nya diberikan kepada Kristus untuk ditebus (baca ayat 37 dan 38 secara integratif). Di pasal yang sama, di ayat 44, kembali Tuhan Yesus mengulang pengajaran-Nya, “Tidak ada seorangpun yang dapat datang kepada-Ku, jikalau ia tidak ditarik oleh Bapa yang mengutus Aku, dan ia akan Kubangkitkan pada akhir zaman.” Kata “jikalau” seharusnya diterjemahkan kecuali. Dengan kata lain, tidak mungkin seorang bisa datang kepada Kristus, kecuali orang itu ditarik oleh Bapa untuk datang kepada Kristus.
Kembali, Tuhan Yesus pula mengajarkan konsep penebusan terbatas yaitu Ia mati bagi domba-domba-Nya. Istilah “domba” dan “Gembala” diajarkan-Nya sendiri di dalam Yohanes 10. Mari kita telusuri. Pada ayat 11, Tuhan Yesus berfirman, “Akulah gembala yang baik. Gembala yang baik memberikan nyawanya bagi domba-dombanya;” Ia menyatakan diri-Nya sebagai Gembala yang baik (the good shepherd), bukannya gembala murahan/upahan (kontrasnya, baca ayat 12). Apa bedanya? Seorang gembala domba adalah penjaga domba yang sungguh-sungguh menjaga dan memelihara domba serta berani melawan binatang apa pun yang berani mengganggu domba gembalaannya. Sedangkan upahan mungkin kelihatan menjaga domba, tetapi sebenarnya tidak, karena ketika ada bahaya mengancam, ia lari duluan dan meninggalkan domba-dombanya (ay. 12-13). Tuhan Yesus tidak seperti upahan itu, tetapi Ia adalah Gembala yang Baik (bukan hanya sekadar gembala). Gembala yang Baik itu bukan hanya mengasihi domba-domba-Nya, tetapi juga rela mati bagi domba-domba-Nya. Lalu, bagaimana dengan ayat 16 yang mengajarkan bahwa ada domba lain dari kandang lain, dan domba-domba itu juga dituntun-Nya. Apa arti domba dari kandang lain ini? Kita harus mengerti konteks total ketika Kristus mengajar hal ini. Ia mengajar dan mengidentikkan domba-domba-Nya ini sebagai umat pilihan-Nya, Israel rohani. Ketika ada domba lain dari kandang lain, itu menunjuk pada umat pilihan-Nya juga tetapi dari orang-orang non-Israel. Beberapa orang menafsirkan itu sebagai orang kafir (Gentiles). Dengan kata lain, ketika Tuhan Yesus menuntun domba-domba dari kandang lain, itu berarti Ia juga menyelamatkan banyak orang non-Yahudi, karena mereka juga termasuk umat pilihan-Nya. Tetapi hal ini tidak berarti, Ia menyelamatkan semua orang tanpa kecuali, bahkan orang-orang yang telah ditentukan untuk binasa (kaum reprobat). TIDAK! Tidak ada indikasi apa pun dalam ilustrasi Tuhan Yesus ini dan jangan berani menafsirkan apa yang tidak dibicarakan oleh Alkitab.
Hal tentang domba juga diajarkan Paulus dengan menggunakan kata “jemaat”. Mari kita membaca Efesus 5:25-27, “Hai suami, kasihilah isterimu sebagaimana Kristus telah mengasihi jemaat dan telah menyerahkan diri-Nya baginya untuk menguduskannya, sesudah Ia menyucikannya dengan memandikannya dengan air dan firman, supaya dengan demikian Ia menempatkan jemaat di hadapan diri-Nya dengan cemerlang tanpa cacat atau kerut atau yang serupa itu, tetapi supaya jemaat kudus dan tidak bercela.” Untuk mengajarkan pola hubungan suami dan istri di dalam keluarga Kristen yang bertanggung jawab, maka Paulus memakai ilustrasi Kristus dan jemaat. Di sini, Paulus mengajarkan bahwa Kristus telah mengasihi jemaat dan telah menyerahkan diri-Nya (mati disalib) untuk menebus mereka. Kata “jemaat” dalam bagian ini dalam bahasa Yunani ekklēsia, diterjemahkan: gereja (church). Di titik ini, Arminianisme tidak bisa berkutik, karena Paulus TIDAK mengajar bahwa Kristus mati untuk semua orang, tetapi dikatakan bahwa Ia mati bagi jemaat (gereja) karena Ia mengasihi mereka. Jemaat/gereja ini meliputi semua orang pilihan-Nya dari berbagai bangsa, suku, status, dan kebudayaan.
Lalu, bagaimana dengan anggapan-anggapan kaum Arminian yang mengutip ayat-ayat yang seolah-olah kelihatannya penebusan bersifat universal? Mari kita teliti bersama.
Yohanes 3:16, “Karena begitu besar kasih Allah akan dunia ini, sehingga Ia telah mengaruniakan Anak-Nya yang tunggal, supaya setiap orang yang percaya kepada-Nya tidak binasa, melainkan beroleh hidup yang kekal.” Ayat ini tidak asing lagi di telinga orang Kristen, tetapi yang asing adalah penafsirannya. Biasanya, banyak orang Kristen menafsirkan bahwa Kristus menebus semua manusia tanpa kecuali dengan menafsirkan “dunia” menunjuk kepada semua orang. Benarkah? Mari kita analisa. Ayat 16 diawali dengan suatu tesis bahwa karena begitu besar kasih Allah akan dunia ini. Inilah yang membuktikan anugerah dan kasih Allah bagi umat-Nya dan dasar bagi penebusan Kristus. Lalu, disusul dengan pernyataan, “sehingga Ia telah mengaruniakan Anak-Nya yang tunggal,” Penebusan Kristus didasarkan pada kasih Allah. Kemudian, penebusan Kristus ini tidak berhenti, tetapi berdampak, yaitu supaya setiap orang yang percaya kepada Kristus tidak binasa, melainkan beroleh hidup kekal. Dengan kata lain, dunia yang dimaksudkan sebagai objek kasih Allah, bukan dunia secara universal, tetapi terbatas hanya kepada mereka yang percaya kepada-Nya. Ada theolog yang menafsirkan bahwa penebusan Kristus itu berlaku universal, tetapi efektif bagi umat pilihan-Nya lalu mengutip ayat ini. Ajaran ini jelas kurang dapat dipertanggungjawabkan. Mengapa? Karena kalau orang ini menafsirkan bahwa penebusan Kristus berlaku universal, tetapi efektif bagi umat-Nya, pertanyaannya adalah buat apa Kristus menebus kalau di titik pertama, Ia mengetahui penebusan-Nya bisa berlaku universal, tetapi efektif hanya pada umat pilihan? Theologi Reformed mengajar bahwa meskipun penebusan Kristus bisa berlaku untuk semua orang (kemampuan penebusan Kristus itu dahsyat), tetapi kenyataannya hanya berlaku pada umat pilihan-Nya saja (cakupan penebusan Kristus itu terbatas/tertentu). Tidak ada pemisahan antara “berlaku” dan “efektif”. Memisahkan dua hal ini berarti memisahkan kedaulatan Allah di dalam penebusan Kristus yang telah ditetapkan-Nya dari semula!
Paulus di dalam 1Tim. 2:6 mengajarkan bahwa Kristus, “yang telah menyerahkan diri-Nya sebagai tebusan bagi semua manusia: itu kesaksian pada waktu yang ditentukan.” Apakah kata “semua” mutlak harus diterjemahkan semua? Tidak. Kembali, kata Yunani yang dipergunakan untuk “semua” di bagian ini adalah pas yang bisa diterjemahkan “setiap”. Dr. Edwin H. Palmer memberikan satu contoh ilustrasi yang menggambarkan bahwa tidak selalu kata “semua” harus diterjemahkan “semua” secara mutlak. Beliau memberi contoh, yaitu di surat kabar diberitakan bahwa ada sebuah kapal tenggelam, tetapi semua orang dapat diselamatkan.3 Dari contoh ini, apakah “semua orang” harus diterjemahkan “semua” secara mutlak yang berarti semua orang di dunia? Jelas TIDAK. Semua orang di sini di dalam konteks menunjuk pada semua orang di dalam kapal. Begitu juga di dalam penggunaan kata “semua” di dalam Alkitab, tidak boleh diterjemahkan “semua” secara mutlak.
Masih banyak ayat yang bisa kita teliti bersama, tetapi kita akan mengakhirinya dan langsung mempelajari signifikansi dari doktrin penebusan terbatas ini. Doktrin Penebusan Terbatas memberi beberapa signifikansi penting, yaitu:
Pertama, keselamatan itu personal, bukan borongan. Ketika Kristus telah menebus beberapa orang (termasuk kita), itu merupakan anugerah Allah bagi setiap individu yang dipilih-Nya. Dan individu yang dipilih-Nya harus meresponi apa yang telah dikerjakan-Nya melalui iman. Iman bukan kehebatan manusia yang bisa memilih Tuhan. Iman yang tetap merupakan anugerah Allah adalah respon aktif (sekaligus pasif) yang menerima anugerah penebusan Kristus. Inilah yang saya maksudkan dengan keselamatan personal. Tidak ada istilah borongan di dalam Kekristenan. Maksudnya, orang yang menjadi umat pilihan-Nya bukan karena ia mau dan ikut-ikutan dengan teman Kristen lain. Ingatlah, orang Kristen sejati (umat pilihan-Nya) bukan orang yang lahir dari keluarga Kristen atau sudah dibaptis bahkan pemimpin gereja. Orang Kristen sejati adalah orang-orang yang telah dipilih Allah Bapa, dikuduskan oleh Roh Kudus supaya taat kepada Kristus dan menerima percikan darah-Nya (definisi Pdt. Dr. Stephen Tong yang didapat dari 1Ptr. 1:2) Sungguh luar biasa definisi 1Ptr. 1:2 tentang siapa orang Kristen sejati, yaitu mereka yang: telah dipilih oleh Allah Bapa, lalu dikuduskan oleh Roh Kudus (dilahirb