Tragedi di Bulan Desember, Tragedi Kemanusiaan berbaju agama


Bagian I

Kembali ke Jakarta

Melayani, adalah tujuan hidup seorang hamba Tuhan. Di mana pun hamba Tuhan ditempatkan, dia tentu akan mendedikasikan hidupnya bagi DIA yang telah mencurahkan kasih-Nya. Karena itu meninggalkan suatu tempat pelayanan merupakan sesuatu hal yang tidak mudah, terlebih lagi jika ada rencana atau keinginan yang belum berhasil diwujudkan di tempat pelayanan tersebut.

Kondisi seperti itulah yang saya alami ketika harus meninggalkan Gereja Pantekosta Pusat Surabaya (GPPS) di Bojonegoro, Jawa Timur, di mana saya melayani sebagai gembala sidang selama tiga tahun, tepatnya Januari 1995 s/d Maret 1997.

GPPS adalah gereja yang sudah cukup “mapan” dalam arti memiliki gedung permanen yang dapat menampung sekitar tiga ratus lebih jemaat. Kiprah pelayanan gereja ini pun cukup baik, bahkan telah mempunyai pos pelayanan injil (PI) di desa. PI adalah cikal bakal gereja mandiri.

Selain sebagai gembala sidang, saya juga salah seorang pendiri Yayasan Pendidikan Kristen Petra Bojonegoro, penyelenggara pendidikan Sekolah Dasar (SD) Kristen Mardisiswo. Di yayasan ini saya menjadi sekretaris.

Dengan kondisi pelayanan yang tergolong kondusif ini, rasanya tidak berlebihan jika saya bercita-cita membina anak-anak muda yang percaya kepada Kristus untuk menjadi kader-kader yang memiliki keprihatinan yang tinggi terhadap bangsa dan negara, terlebih karena masih banyak rakyat yang hidup di bawah garis kemiskinan. Saya selalu punya keyakinan, apabila pemuda Kristen diperlengkapi dengan ketrampilan serta pengetahuan akan Alkitab yang baik dan termanifestasi dalam kehidupan sehari-hari, maka kehadiran Kristen akan lebih berperan di tengah-tengah bangsa yang menderita ini. Cita-cita itu juga merupakan manifestasi dari penunaian mandat budaya, suatu perintah yang harus dikerjakan orang percaya. Dan itu adalah mandat Allah, walaupun sering dilupakan oleh gereja.

Tidak mudah menyeimbangkan penunaian tugas gereja dalam bersaksi, memelihara persekutuan yang indah dan juga diakonia yang dapat dimasukkan dalam mandat budaya yaitu membawa kesejahteraan bangsa. Tidak mengherankan jika seringkali kita menjumpai pelayanan yang tidak seimbang dalam gereja. Maksudnya, seringkali kita menjumpai penekanan pada bagian tertentu, kemudian melemahkan bagian yang lainnya. Tetapi itulah perjuangan gereja untuk melayani dengan seimbang, antara bersaksi, memelihara persekutuan yang baik, dan juga menjalankan mandat budaya dalam pelayanan diakonia.

Dengan demikian, niat saya membangun tempat pelatihan dan pembinaan bagi pemuda Kristen sebagai kader-kader yang handal, memiliki peluang besar untuk terealisasi. Logikanya, ada banyak hal yang mendukung untuk membuat impian tersebut menjadi kenyataan. Salah satu lagi faktor pendukung adalah bahwa nama saya cukup dikenal di sana . Buktinya, pasca-peristiwa Situbondo November 1996, pemerintah berusaha menenangkan situasi yang sangat tegang. Salah satu upaya pemerintah adalah mempertemukan tokoh-tokoh agama se-Jawa Timur. Saya sendiri, bersama Pdt Daniel dari Gereja Pentakosta di Indonesia (GPDI) diutus mewakili Bojonegoro untuk menghadiri pertemuan itu. Demikian juga ketika di Kabupaten Bojonegoro dibentuk tim perumus dialog antar umat beragama, nama saya lagi-lagi masuk dalam tim perumus. Di organisasi kekristenan setempat, Badan Kerja Sama Antargereja (BAMAG), saya menjabat sebagai ketua III. Saya juga menjabat sebagai ketua panitia Natal se-Kabupaten Bojonegoro tahun 1996.

Dengan faktor-faktor tersebut di atas, tidak salah jika saya yakin bahwa pada dasarnya keinginan saya tersebut dapat direalisasikan. Namun sifat saya yang tidak suka memaksakan keinginan—walaupun mungkin itu benar—membuat saya cenderung lebih suka mengalah. Tapi mengalah dalam hal ini bukan berarti kompromi. Sifat seperti ini bisa jadi dikarenakan darah Jawa yang masih mengalir dalam diriku, karena ibu kandung saya adalah orang Solo. Mungkin darah Jawa ini mempunyai pengaruh kuat dalam jiwa saya, sehingga sifat suka mengalah menjadi kebiasaan. Dan sikap suka mengalah inilah yang membuat saya merasa lebih baik meninggalkan GPPS Bojonegoro.

Waktu itu di gereja tempat saya melayani tersebut memang ada konflik internal yang sudah berlangsung selama kurang lebih lima belas tahun. . Dan saya memang dipanggil utnuk mengatasi konflik tersebut. Seriusnya permasalahan dalam gereja tersebut bisa terlihat dari fakta bahwa selama lima belas tahun berdiri, gereja tersebut tidak pernah memiliki gembala tetap. Bahwa selama lima belas tahun di gereja itu tidak ada seorang pun pendeta yang pernah bertahan lebih dari satu tahun, bagi saya hal ini sesuatu yang aneh. Dan jika pada akhirnya saya mampu bertahan di tempat itu selama tiga tahun, bagi saya ini merupakan suatu “prestasi” yang membanggakan karena saya adalah orang pertama yang mampu melewati masa pelayanan satu tahun lebih di situ.

Orang lain yang sudah mengetahui tentang konflik di GPPS itu secara terus terang menyatakan kekagumannya. Pada waktu ada pertemuan para hamba Tuhan se Jawa-Bali dan Lombok di Malang, Jawa Timur 1996, salah seorang peserta secara spontan berkata kepada saya, “Ajaib… Bapak mampu bertahan di sana . Kalau boleh tahu, apa sih resepnya?”

Tentu sulit juga bagi saya menjawab pertanyaan tersebut. Saya tahu, dia tidak bermaksud guyon. Sebab bukan rahasia jika setiap mahasiswa dari sekolah teologi dari mana dia menuntut ilmu, selalu merasa gentar dan enggan bila ditempatkan di Bojonegoro sebagai tenaga praktek.

Saya hanya tersenyum sebab tidak mudah menjawab pertanyaan itu. Dan memang adalah sesuatu hal yang tidak mudah bagi seorang hamba Tuhan untuk melayani di suatu tempat (baca: gereja) yang sedang dilanda konflik—terlebih jika konflik itu sudah berlangsung selama belasan tahun seperti terjadi di GPPS Bojonegoro. Sebab sebagai orang yang diundang, kita harus bersifat netral. Berlaku netral merupakan hal yang tidak mudah, apalagi tidak ada manusia yang absolut obyektif.

Selama hampir tiga tahun saya di situ, memang konflik internal itu tidak kunjung terselesaikan, meski saya sudah berupaya optimal. Memang ada perubahan yang lumayan berarti, tetapi belum sesuai dengan apa yang saya harapkan. Ketidakmampuan saya menolong mereka untuk menyelesaikan konflik internal itulah yang membawa saya pada keputusan untuk mengundurkan diri. Saya sendiri merasa bahwa gereja itu sudah mengalami kemandegan, dan saya merasa sudah tidak mampu lagi menolong supaya kondisi mereka lebih baik. Dengan keputusan itu saya mengharap ada orang baru, tenaga baru, yang mungkin akan memberi warna baru dalam rangka penyelesaian konflik tersebut. Keputusan saya membuat banyak orang terkejut. Tidak ada yang menginginkan saya mengundurkan diri. Tapi saya berpikir bahwa tindakan saya itu benar. Istri saya juga mendukung, dan merasa yakin bahwa kami memang harus pindah. Apalagi memang Istri saya yang adalah mantan teman kuliah di STT I-3 selalu merasa yakin bahwa Tuhan akan membawa kami ke Jakarta , tempat yang saya tidak sukai. Akhirnya saya meninggalkan Bojonegoro pada bulan Maret 1997 dengan setumpuk cita-cita yang belum tergapai.

Pertengahan Juni 1997 Masuk Doulos Jakarta

Ada agenda lain yang saya usung saat keluar dari Bojonegoro, yakni ingin melanjutkan kuliah program S-2 di Jakarta. Apalagi, sejak tahun 1996 saya telah mengikuti program M.Div. di Sekolah Tinggi Teologi Reformed Injili Indonesia (STTRII) Jakarta . Saya ingin menyelesaikannya sambil tetap melayani meskipun tidak secara penuh, karena saya harus lebih berkonsentrasi pada perkuliahan.

Saya memang tidak ada niat untuk melayani secara penuh di Jakarta , sebab saya tidak ingin menetap atau berdomisili di kota kelahiran saya ini. Hasrat untuk tidak menjadi warga Ibu Kota lagi sudah saya teguhkan dalam hati sejak saya memutuskan untuk kuliah di Sekolah Alkitab Batu, Malang , Jawa Timur (STT I-3). Setelah menamatkan pendidikan teologi, saya ingin mengabdikan diri, melayani di daerah terpe