Amy Wilson Carmichael, seorang misionaris yang melayani di India selama lima belas tahun, pernah menulis:

Tuhan, kuatkan aku melawan diriku sendiri,
Pengecut dengan suara meratap
Yang mendambakan kemudahan, kemalasan, dan kenyamanan.
Diriku, adalah musuh utamaku,
Temanku yang paling palsu,
Musuhku yang paling mematikan,
Penghalangku, kemana pun aku pergi.*

Untuk menjadi pemimpin, seseorang harus dapat memimpin dirinya sendiri sebelum ia mampu memimpin orang lain. Namun pada faktanya, tidak mudah bagi seseorang untuk memimpin dirinya sendiri; untuk ngalahin dirinya sendiri.

Pernah suatu saat aku harus mimpin diriku sendiri untuk menggarap skripsiku. Bukan main ... susahnya minta ampun. Rasa malas yang ada dalam diriku seakan menahan otakku untuk mau berpikir dan tanganku untuk mulai mengetikkan sesuatu. Susah sekali untuk mimpin diriku sendiri!!

Kini, perlahan tapi pasti, aku mulai rutin ngerjain skripsiku, meski kadang rasa malas itu kembali nyelubungin aku. Tapi itu ngga mengapa, aku anggap itu sebagai suatu proses. Lama-lama, pasti aku bisa ngalahin tu rasa malas.

Ada satu hal yang menurutku bisa hempasin tu rasa malas. Hal itu adalah disiplin. Disiplin bukanlah hal yang gampang untuk dilakoni. Disiplin sama dengan suatu bentuk sikap yang merupakan perwujudan pengalahan diri yang konsisten, yang ngga mood-mood-an. Untuk ngalahin diri sendiri, dibutuhin kemauan dan tekad yang kuat yang juga konsisten. Disiplin serta kemauan dan tekad yang kuat harus jalan berbarengan dengan konsisten.

Konsistensi dalam kedisiplinan dan tekad yang kuat akan membuat kamu dapat mimpin dan ngalahin diri sendiri; musuh utamamu. Sekalinya kamu konsisten untuk mimpin diri sendiri, mimpin orang lain tidak lagi jadi hal yang mustahil.

Memang sulit untuk melakukannya, tapi doa dan permohonan kepada Tuhan, akan membantumu untuk bisa mimpin dan ngalahin dirimu sendiri.

*)Diambil dan diterjemahkan dari buku berjudul Spiritual Leadership (1980) karya J. Oswald Sanders.