Semangat dan cita-cita besar meraih juara dunia Thomas dan Uber Cup. Itulah yang ada di benak Rakyat Indonesia melihat tahun 2008. Kita lihat di berita; setiap hari wong cilik teriak-teriak atas dampak dari kebijakan-kebijakan Pemerintah. Diharapkan kemenangan tim Thomas dan Uber bisa menjadi obat pelipur lara sesaat, seperti yang dalami oleh rakyat Iraq.
Dari observasi permainan; sungguh ironis permainan dari pemain nomor satu dunia Lin Dan di semifinal, sama sekali bukan seperti julukannya "Super Dan". Memang lawan dari Lin Dan adalah tunggal pertama dari Malaysia Lee Chong Wei yang menempati posisi dua dunia. Tapi beruntung bagi China karena Bao Chunlai sang peringkat tiga dunia mampu tampil apik, walau pada set awal kurang meyakinkan melawan Wong Hann dari Malaysia.
Lee Hyun Il pemain kidal Korsel peringkat sepuluh dunia. Sebelum menghadapi Taufik tampak terlihat beberapa kali pertandingan Lee di penyisihan, menampilkan permainannya cukup efektif, dengan footwork dan defense yang kokoh. Lee mampu membaca permainan dan menempatkan posisi dengan baik. Wajar saja Taufik yang diharapkan menjadi eksekutor titik balik membuka peluang Indonesia sangat kerepotan dan terlihat hilang akal menghadapi Lee Hyun Il. Belum lagi komentar dari para komentator yang menyatakan kalau persiapan Taufik kurang profesional dan matang.
Target dari tim Thomas adalah juara, sedangkan target dari tim uber adalah semifinal. Tapi pada fakta dilapangan, tim uber sudah melaju ke final. Mari kita lihat apakah tim uber Indonesia bisa menjadi juara menjelang 100 tahun hari Kebangkitan Nasional. Yang pasti niat mengadakan pesta perkawinan dari piala Thomas dan Uber Cup, pupus sudah. Walau begitu, permainan tim Uber sangat cantik, terutama pada gandanya Jo Novita/Greysia Polii dan Liliyana Natsir/Vita Marissa. Kredit tersendiri bagi Adriyanti Firdasari tunggal kedua Indonesia yang belum terkalahkan dan beberapa kali menang cukup telak.
Indonesia memang luar biasa dari prestasi di lapangan bulutangkis, banyak legenda Bulutangkis dunia berasal dari negri ini. Mulai dari Rudi Hartono Kurniawan sang legenda All England, Icuk Sugiarto pemain dengan defense menawan, Iie Sumirat dengan gaya main yang stylish dan dijuluki "sang penakluk raksasa".Di tim putri ada Ivana Lie dan Susi Susanti. Sampai hari ini Indonesia belum memiliki pemain kaliber dengan konsistensi dan disiplin luar biasa seperti Rudi Hartono.
Belum genap satu tahun kita melewati Piala Asia 2007, dimana Indonesia yang sempat tampil menjanjikan pada pertandingan awal di group mampu memetik kemenangan tapi melempem pada pertandingan berikutnya, walau para supoter sudah penuh membeludak dan serak kehabisan suara. Orang banyak menyebut Indonesia memiliki potensi seperti Brazil dalam hal sepak bola karena secara geografis Indonesia mirip dengan Brazil. Tapi belum ada yang bilang Brazil punya potensi sebaik Indonesia dalam hal Badminton he he he.
Aneh??.. Ajaib?? anak-anak di Brazil sudah begitu hebat bermain dengan si kulit bundar. Brazil punya "darah" sepak bola. Indonesia juga memiliki "darah Badminton." Menjadi juara dan melahirkan legenda baru hanya tinggal menunggu waktu saja, TENTU dengan catatan adanya keseriusan komitmen pembinaan dan fasilitas dari semua pihak baik swasta maupun pemerintah.
Setiap orang telah diberikan Talenta oleh Tuhan, yang digunakan dan dipersembahkan demi hormat kemuliaanNya, kenali dan gali talenta anda selaras Firman Tuhan. Entah itu abstrak entah itu konkret. Dengan demikian hidup akan lebih efektif dan bermanfaat. Itulah Garam dan Terang Dunia.
Indonesia dengan Badminton dan Brazil dengan sepak bolanya adalah contoh gambaran yang ideal.