Kesadaran akan Pentingnya Fokus.
Kita yang pernah memakai kamera untuk memotret sesuatu tentu tahu apa dan betapa pentingnya fokus yang tepat. Jikalau kamera kita difokuskan dengan tepat pada obyek yang sedang difoto, tentu hasilnya akan jelas dan tajam. Di pihak lain, jikalau kita lalai mengatur fokus kamera kita, hasil fotonya akan menjadi kabur. Kita semua tentu ingin mendapatkan hasil yang jelas dan tajam, sehingga mengatur fokus menjadi bagian penting di dalam kita memakai kamera.
Inilah yang dimaksudkan sebagai fokus kehidupan. Pada dasarnya, semua orang hanya mempunyai dua alternatif sebagai fokus, yaitu Allah atau selain Allah. Pilihan yang kedua mencakup segala hal yang bukan Allah, misalnya diri sendiri, Iblis, uang, dan lain-lain. Yang menjadi pertanyaan sekarang adalah, apakah yang menjadi fokus hidup kita?
Ada beberapa hal yang bisa mengalihkan perhatian kita, dan membuat kita menyimpang dari tujuan yang semestinya dicapai:
1. Hal-hal yang baik menjadi musuh yang terbaik. Hal-hal yang baik belum tentu merupakan pilihan yang tepat. Kita perlu berupaya mengerti kehendak Tuhan agar kita benar-benar melakukan pilihan yang terbaik (Efesus 5 : 17)
2. Hal-hal yang rutin namun tanpa pengertian. Tidak semua hal yang rutin itu salah dan buruk. Yang perlu diwaspadai adalah tatkala kita melakukan semua rutinitas tersebut sebagai sesuatu yang tanpa arah dan tujuan.
3. Hal-hal yang mempesona mata. Bila kita mengamati kemajuan teknologi industri, maka kita akan menemukan satu prinsip yang hampir sama. Prinsip tersebut adalah ciptakanlah produk yang menarik untuk dilihat, walaupun kegunaannya tetap sama. Sebagai contoh, cobalah perhatikan teknologi telepon seluler dalam 4 bulan terakhir. Dengan kemajuan teknologi yang hampir sama di antara beberapa produsen telepon seluler, merka melakukan persaingan di dalam bentuk produk yang menarik. Dunia penuh dengan obyek yang berusaha menarik perhatian mata kita.
4. Kekuatiran hidup. Banyak hal yang semakin tidak pasti di waktu-waktu mendatang. Hal ini tentu saja akan memunculkan kecemasan tentang keadaan hidup di masa mendatang. Seseorang yang tidak mendasarkan hidupnya dalam iman kepada Tuhan, akan secara mudah dikuasai kekuatiran.
5. Rasa puas dan nyamannya hidup. Keberhasilan dan raihan hidup ternyata tidak selalu postif. Menjadi ancaman yang membahayakan bila hal –hal ini membuat kita puas dan berhenti untuk maju. Kita merasa kenyamanan hidup sebagai titik akhir. Maka disinilah kita sedang mundur dan terhanyut dari tujuan yang semestinya dicapai.
Perlunya Mengatur Ulang Fokus
Menyadari begitu banyak hal yang bisa membuat perhatian atau fokus hidup kita teralih dari tujuan semula, maka adalah hal yang penting dan mendesak bagi kita untuk senantiasa mengatur ulang fokus kita. Salah satu langkah praktis guna mengatur ulang fokus kita adalah melatih hidup kita memiliki waktu teduh yang benar. Bukan sekedar melakukannya sebagai kewajiban ataupun rutinitas. Namun menjadikan waktu teduh sebagai kesempatan bagi Tuhan menyegarkan ulang rohani kita. Juga membuka kesempatan bagi Tuhan agar lebih mempertajam mata rohani kita.

Di dalam Injil tercatat contoh dari kehidupan orang-orang yang tidak berfokus pada Allah. Misalnya, kelompok orang Farisi. Walaupun mereka dikenal oleh masyarakat Yahudi sebagai pemimpin-pemimpin agama, namun kehidupan mereka sangat dicela oleh Tuhan Yesus. Yesus sering memanggil mereka "munafik" (Mat. 23), yang membawa gambaran seperti seorang aktor memakai topeng, sehingga penonton hanya melihat gambaran topeng itu tanpa mengenal wajah si aktor yang sesungguhnya. Salah satu penyebab mereka dijuluki "munafik" oleh Yesus adalah karena walaupun mereka kelihatan sangat rohaniah, tetapi sebenarnya kegiatan-kegiatan agama yang mereka lakukan adalah untuk kebesaran diri sendiri, bukan untuk Allah (Mat. 23:5-7). Hal ini menyatakan bahwa hidup mereka berfokus pada diri sendiri, bukan pada Allah.
Apakah yang seharusnya menjadi fokus hidup kita? Tuhan Yesus menghimbau, "Carilah dahulu Kerajaan Allah dan kebenarannya" (Mat. 6:33), di mana Kerajaan Allah adalah kedaulatan pemerintahan Allah dalam hidup kita. Di bagian-bagian lain Alkitab juga menyatakan perlunya kita memusatkan hidup kita pada Allah (Mat. 6:1,4,24; Filipi 2:5). Jadi, hidup kita haruslah difokuskan pada Allah, dan bukan pada apa pun juga yang lainnya. Hal ini berarti segala yang kita pikirkan, rasakan, dan lakukan harus mempunyai pangkalan pada Allah. Segalanya harus dievaluasi menurut standar Allah, sesuai dengan kehendak dan hakekat Allah, dan dilakukan untuk kemuliaan Allah (I Pet. 4:11; Kol. 3:17). Tidak ada hal lain yang boleh mempengaruhi hidup kita lebih dari pada Allah.
Banyak dari antara kita yang mungkin sedang bergumul dengan kesulitan finansial, atau sedang mencari pekerjaan, atau sedang mengalami krisis di dalam suatu relasi dengan teman atau keluarga, dan lain-lain. Semua kemelut hidup ini bagaikan angin topan yang mengancam akan menenggelamkan kita. Tetapi ketika Petrus memandang Yesus, dia dapat berjalan di atas gelombang yang berkecamuk. Segera setelah dia mengalihkan pandangannya dari Yesus kepada angin ribut itu, dia tenggelam (Mat. 14:22-33). Adakah fokus kita terpaut pada Allah ketika topan ganas melanda hidup kita dalam bentuk krisis dan kesulitan?
Memfokuskan hidup pada Allah lebih mudah dikatakan dan dituliskan dari pada dilaksanakan. Hal ini karena Allah itu Roh (Yoh. 4:24), sehingga Dia tidak kelihatan. Sedangkan kita hidup di dunia materi yang serba kelihatan, sehingga apa yang tidak kelihatan sering kali kita abaikan. Bagaimana kita dapat dengan mudah menjadikan sesuatu yang begitu abstrak sebagai pusat hidup di dunia yang serba konkret ini?
Tentu saja sangat sulit. Lagipula, Allah tidak lagi bertindak seperti di masa Perjanjian Lama, di mana Dia menyatakan kehadiranNya dengan tiang awan dan tiang api (Kel. 13:21), sangkakala dan guruh (Kel. 19:16-19), dan hal-hal lain yang begitu nyata. Meskipun demikian, kita harus dengan iman percaya bahwa Allah itu ada dan dekat dengan kita (Maz. 139:1-12; Ibr. 13:5). Dan dengan kekuatan Roh Kudus kita harus hidup berpusat pada Dia, sebagaimana seharusnya.
Bila kita telah terus-menerus mendisiplin hidup kita untuk terfokus pada rencana Tuhan, maka kita akan semakin diperteguh atas visi yang sejati. Begitu banyak orang yang mengaku-ngaku memiliki visi dari Tuhan. Namun ujian waktu akan membuktikan apakah benar visi tersebut benar-benar visi sejati dari Tuhan.
Visi sejati dari Tuhan seperti bahan bakar dan motor penggerak bagi hidup kita. Seberat apapun tantangn yang kita hadapi, acapkali visi sejati dari Tuhan justru membuat kita semakin tahan banting. Penting sekali bagi setiap orang memastikan dirinya memiliki visi yang sejati dari Tuhan.
Bila visi sejati dari Tuhan sudah diperoleh, peganglah itu, bergeraklah terus untuk mewujudkannya bersama Tuhan. Fokuskan hidup bagi penggenapan visi tersebut. Tak ada kebahagiaan yang dapat menandingi tatkala seseorang mengalami sendiri bahwa visi hidupnya telah tercapai. Tak ada pujian yang lebih membahagiakan selain kepuasan bahwa rencana Tuhan telah tuntas terwujud di dalam hidupnya. Di dalam mata rohaninya, ia seolah melihat Tuhan di sorga tersenyum atas terselesaikannya rencana Tuhan dengan tuntas.
Marilah kita mulai hidup sebagai orang Kristen sejati, dengan Kristus berada di pusat. Amin.