(Keluaran 20:1-17, Mazmur 19, 1 Korintus 1:18-25, Yohanes 2:13-22)
 
Divisi/pembedaan sempit pernah terjadi di Gereja-Gereja Korintus. Jemaat begitu menokohkan pemimpin gereja masing-masing. Petrus, Paulus, Apolos, bahkan Kristus menjadi begitu “asing” satu sama lain. Paulus menanggapi hal ini. Baginya Allah tidak bekerja dalam kuasa, kompetisi dan kebanggaan diri manusia. Dunia manusia mencari hikmat, wisdom (sophia), sementara sebaliknya efektifitas Allah nampak dalam “kebodohan” (mōria).
 
Dengan jujur Paulus mengatakan sophia, atau “persuasi verbal” bukanlah pilihannya dalam mengabarkan Injil Kristus (1 Kor 1:17). Paulus tidak ingin agar pendengarnya terkesima semata-mata karena kemampuan berbicaranya (1 Kor 2:4-5). Menerima dan percaya kepada Injil Kristus bukanlah perkara intelektualitas belaka, tetapi menjadi sebuah aktualisasi yang nyata dalam kehidupan seseorang yang telah diperbarui karena karya penebusan dosa yang telah diterima saat Yesus mati di kayu salib (Lihat juga Yes 29:13-14).
 
Sebagai seorang yang dibesarkan dalam iklim Yahudi, Paulus tentu menghargai hikmat/sophia. Ia sendiri mengakui diri sebagai orang yang berhikmat dalam menginterpretasikan misteri Allah. Tetapi hikmatnya itu, ia gunakan agar bermuara kepada pemuliaan hikmat Allah (1 Kor 2:7). Karena Yesus Kristus, Paulus tidak lagi hidup sebagai orang yang mempertuhankan perbuatan baik untuk datang kepada Tuhan, melainkan orang yang mengimani dan mengamini Tuhan yang karena kasih sayang-Nya berbuat baik menyelamatkannya dari belenggu dosa, yang karena-Nya kini ia hidup dalam kebaruan hidup sesuai dengan kehendak-Nya.
 
Memang, orang Yunani itu cepat sekali bertindak pada saat ada persuasi yang meyakinkan dan orang Yahudi cepat sekali bertindak pada saat ada tanda-tanda dan bukti-bukti yang bersifat ilahi. Persuasi dan bukti, dua segi ini memang pada satu sisi berguna, namun pada sisi yang lain dapat juga mengarah pada potensi negatif. Kematian “Kristus” di salib misalnya, orang Yahudi sulit menerima ini karena mereka mengharapkan “Mesias” itu sebagai yang berjaya dan bukan mati di salib. Padahal, Yesus sendiri telah memenuhi “standar” sebagai mesias yang menderita untuk kemudian dimuliakan Allah dan memberikan keselamatan bagi banyak orang sesuai dengan gambaran Yesaya (Yes 53:5-7). Juga perkara persuasi dalam iklim Yunani, Paulus tentu menyadari keterbatasan upaya persuasi yang hanya efektif pada saat yang memberikan persuasi itu hadir, selebihnya? Oleh sebab itu bagi Paulus, tindakan memberi diri (salib) itu lebih berkuasa dalam menghadirkan komunitas yang langgeng, tanpa kehadiran para retoris.
 
Paulus menjadi teladan kita dalam mendayagunakan hikmat, yaitu dalam menginterpretasikan misteri Allah. Hikmat Allah harus tetap yang menjadi prioritas. Allah terus berkarya di sepanjang sejarah dunia ini, dan kita harus tetap awas mengenali dan menerima hikmat-Nya. Sepuluh Hukum adalah perkataan Allah, tetapi tetap interpretasi yang benar atasnya perlu ditempuh dalam terang keseluruhan Kitab Suci, sebagaimana Yesus Kristus mengajarkannya (Kel 20:1-17). Dalam peristiwa “pembersihan bait di Yerusalem” Yesus juga memperlihatkan, betapa hikmat Allah harus tetap menjadi prioritas dalam beribadah (Mar 11:17).
 
Penyaliban Yesus, adalah tanda penolakan manusia terhadap hikmat Allah tetapi juga bukti kasih Allah yang berkorban untuk kebaikan manusia. Penyaliban Yesus, adalah tanda manusia lebih menginginkan bukti keajaiban ketimbang menghidupi iman, mementingkan kenyamanan, hikmatnya sendiri, ketimbang pengorbanan untuk kebaikan dan ketaatan kepada Allah, tetapi juga bukti Allah yang memberi diri dan mengajak ketimbang menuntut dan mendendam. Secara menyeluruh, salib bukanlah akhir. Kebangkitan menjadi tanda bahwa Allah jauh lebih kuat ketimbang keinginan manusia yang memberontak terhadap-Nya. Oleh sebab itu benarlah: “Salib adalah kekuatan Allah!”