Kegairahan Melayani Tuhan
Dan didalam agama Yahudi aku jauh lebih maju dari banyak teman yang sebaya dengan aku diantara bangsaku, sebagai orang yang sangat rajin memelihara adat istiadat nenek moyangku. (Gal 1:14)
Sebelum Paulus mengenal Yesus, tradisi Farisi sangat mempengaruhinya, itulah yang membuatnya bergairah untuk mendalaminya dan berusaha mentaatinya. Jadi, penolakan Paulus terhadap Yesus dan pengikut-pengikutnya didasarkan pada kesetiaannya pada tradisi Farisi. Disini terlihat, pemahaman yang salah sesungguhnya dapat saja membuat orang bergairah untuk mentaatinya, namun, kegairahan pada yang salah tetap saja akan menghasilkan penghukuman. Kegairahan saja tidak cukup untuk melayani Tuhan, tetapi kita membutuhkan pengetahuan yang benar tentang Tuhan.
Oleh anugerah Tuhan, Paulus dirubah oleh Allah, kegairahan Paulus kini beralih pada Injil, bahkan, Paulus tampak jauh lebih bergairah melayani Tuhan, meski ia harus mati demi kesetiannya pada Injil. Kegairahan melayani Tuhan semestinya jauh lebih berkobar-kobar dibandingkan kegairahan kita ketika melayani dosa.
Pelajaran ini seharusnya menyadarkan kita, jika pada waktu yang lampau kita pernah bergairah hidup dalam kegelapan, maka seharusnya ketika hidup dalam Kristus, kegairahan untuk melayani Tuhan semestinya terus berkobar-kobar, karena hadiah hidup kekal telah menjadi bagian dalam hidup kita.
Doa. Tuhan, berikanlah padaku kegairahan untuk melayani engkau pada hari ini lagi, Amin.