Ketagihan ini ternyata harus dibayar mahal karena banyak ikan Lampat yang mati saat mati listrik, yakni saat terjadi pemadaman bergilir oleh Pemerintah. Lampat berjuang dengan gigih untuk mempertahankan hidup dari ikan-ikannya. Setelah berjuang sedemikian kerasnya Lampat cuma bisa pasrah.Banyak korban-korban berjatuhan, sedihnya hati Lampat. Akhirnya sejak saat itu Lampat berhenti dari penyakit ketagihan belanja ikan.
Ikan Lampat tinggal tersisa sedikit, tetapi semuanya awet terurus dan hidup dalam damai. kelihatannya ikan-ikan Lampat hidup lebih bahagia sekarang. Lampat sadar ambisinya yang suka belanja tersebut sebaiknya dianalisa dari segi resikonya, dengan kata lain sebaiknya Lampat kudu menjadi risk manager dari setiap aksi Lampat. Kenekadan Lampat untuk mengacuhkan resiko-resiko yang mungkin terjadi akhirnya berkibat fatal. Tapi untuk melakukan anlisa resiko banyak orang malas, bahkan ada yang alergi.
Pelajaran ala Lampat:
Manusia itu memang unik, mereka memiliki nilai-nilai yang diukur berdasarkan suatu hal yang ia yakini dan dipahami menurut kontex mereka. Lampat tidak pernah memikirkan resiko-resiko yang ada, Lampat hanya mencoba berpikir untuk optimis dengan "belanjaannya" dan setelah itu berharap "sang invincible hands" meneruskan perbuatannya. Banyak hal-hal yang tidak bisa dijelaskan dengan gamblang mengenai "penyakit-penyakit" kehidupan manusia. Mungkin ada yang ketagihan makan(hehehe rasanya banyak),pornografi, rokok.
Hal-hal yang terkadang cuma berhenti kalau dihantam hal-hal yang membuat kita kapok. Tapi terkadang setelah rasa kapok itu menjadi kenangan, maka sesorang bisa kembali lagi seolah-olah tidak pernah terjadi hal-hal yang membuatnya kapok tersebut. Untuknya si Lampat tidak begitu, ia masih mencoba menjadi Lampat yang bijaksana, yang selalu belajar dari pengalaman masa lalu. Pengalaman adalah guru yang terbaik,sayangnya tidak semua orang suka belajar dan "mengintip" dari pengalaman.