Akhir-akhir ini Lampat coba merenung (ceilah) tentang kematian. Lampat tidak takut mati, yang Lampat renungkan adalah nasib manusia yang sama. Yakni semua manusia mati. Lampat sedih jika ada orang-orang hebat (versi Lampat) yang meninggal dunia, karena Lampat bertanya-tanya siapakah gerangan yang akan mampu meneruskan perjuangan beliau dan terus menghadirkan kontribusi terhadap dunia ini ?Lampat melihat adanya kesenjangan jalan hidup antara yang sakit dan yang sehat. Lampat melihat banyak yang membiarkan hidupnya berlalu tanpa pernah menjadi dirinya sendiri, tentu yang selaras dengan kehendak BAPA dan jalan hidup Kristiani. Kadang juga Lampat melihat hidup ini seperti mimpi, yakni saat Lampat menemukan kenyataan kalau teman yang Lampat ajak bicara belum begitu lama tiba-tiba sudah terbang ke surga pada hari-hari kedepan. Lucu, Lampat seperti melihat melodrama dan konserto kehidupan. Belum sempat untuk berpikir, bahkan hanya mampu terbengong-bengong menghadapi kenyataan tersebut.
Lampat tahu, nanti semua manusia akan berada dalam hamparan luas, tertidur dibalik hijaunya rumput REST IN PEACE.
Pelajaran ala Lampat:
Yesus adalah jalan kebenaran dan hidup, master key menuju Bapa Surgawi. Status ngontrak dalam dunia ini menyadarkan kita kalau ternyata banyak hal yang harus diinvestasikan, banyak hal yang mungkin jauh lebih penting dibandingkan kenikmatan rutin monoton mengenai kenikmatan hidup dan tujuan-tujuan jangka pendek kehidupan.
Bermimpilah..dalam bermimpi itu kita coba melupakan siapa kita saat ini, segala keterbatasan kita. Kita bermimpi sampai tidak memiliki pilihan lain selain mewujudkannya, bermimpilah sejauh mana kita ingin menjadi seseorang yang berkontribusi kepada dunia sesuai dengan maksud Tuhan. Bukankah sebelum kita ada di dunia ini, kita sudah lama mengantri untuk hal ini? Lahir dan hidup bukan pilihan, tetapi karena kita sudah lahir, mengapa tidak kita nikmati saja perjalanan hidup ini dengan begitu baiknya sampai menuju FINISH ?