Kesukaanku mengamati anak-anak dan mencoba menyelami dunia mereka
membawaku memilih topik kedua dari seminar yang diadakan oleh YLSA dan
LK3, yaitu Tidak Ada Anak yang Sulit. Jauh sebelum aku mengikuti
seminar ini,sudah ada konsep ini di kepalaku. Dari apa yang aku
perhatikan sehari-hari, kebanyakan anak diperlakukan dengan tidak
"sepantasnya" oleh orang tua. Maksud tidak sepantasnya disini bukanlah
kekerasan atau penganiyaan terhadap anak, akan tetapi bagaimana orang
tua mereka berbicara, menegur, mendisiplin, mendidik, atau menerapkan
aturan-aturan main dalam diri anaknya.
Memang, menurut Pak Julianto Simanjuntak, pembicara seminar ini, tidak
ada sekolah untuk orang tua sehingga orang tua sering "tidakpintar"
dalam mendidik anaknya. Oleh karena itu, orang tua harus belajar untuk
menjadi orang tua yang pintar, salah satunya adalah dengan mengetahui
bahasa cinta yang dimiliki anak-anak mereka.
Banyaknya komunikasi yang tidak harmonis atau keributan antara orang
tua dan anak disebabkan karena orang tua tidak memahami bahasa cinta
anaknya. Jika dibiarkan berlarut-larut, maka bisa saja terjadi
kerusakan relasi antara mereka. Jadi, orang tua harus benar-benar
mencurahkan perhatian pada bahasa yang paling membuat anak merasa
dicintai. Apa itu bahasa cinta? Ada lima bahasa cinta, dan bahasa-
bahasa itu cukup sederhana, yaitu melayani, sentuhan fisik, hadiah,
waktu berbagi bersama, dan pujian. Kita harus belajar mengungkapkan
kasih kita atau berkomunikasi dengan menggunakan kelima bahasa
tersebut. Untuk memastikan bahwa anak mengerti benar bahwa kita
mencintainya, penting untuk mengungkapkan bahasa cinta utama mereka.
Orang tua yang cukup dekat dan mau memerhatikan anaknya, pastinya
dengan sangat mudah dapat mengetahui bahasa cinta utama anak-anaknya.
Misalnya, seorang anak yang senang dipeluk atau dibelai ketika akan
tidur pastinya memiliki bahasa cinta utama berupa sentuhan fisik. Jika
anak kerap meminta kita untuk menghabiskan waktu bersamanya itu
berarti mereka memiliki bahasa cinta waktu untuk berbagi bersama.
Pak Julianto juga mengatakan bahwa lima bahasa cinta ini bukan hanya
dimiliki anak saja, tetapi bisa diterapkan pula dalam hubungan suami
isteri. Belajar untuk mengenal bahasa cinta utama pasangan kita akan
sangat membantu dalam menciptakan komunikasi dan relasi yang harmonis
antarpasangan.
Lumayan juga, aku jadi berusaha untuk lebih mengetahui lagi bahasa
cinta utama anak-anak sekolah mingguku, soalnya belum bisa diterapkan
kepada anakku sendiri karena belum punya
. Jadi terpikir dan
bersemangat untuk membuat kreasi cerita-cerita yang dapat
mengombinasikan lima bahasa cinta di atas dalam satu sesi ibadah
sekolah minggu.
Berkat lain lagi yang kuterima melalui seminar ini adalah kita harus
selalu berusaha memenuhi kebutuhan dasar anak, yang salah satunya
adalah terpenuhi bahasa cintanya, karena dengan itu akan semakin mudah
mengenalkan dan membawa seorang anak kepada Sang Juru Selamat.
So, apa bahasa cintamu? Kalau bahasa cintaku adalah sentuhan dan waktu
untuk bersama 
- Log in to post comments