Sekolah Minggu Adalah Kebutuhan Anak-Anak Kristen

Aku masih ingat obrolan dari teman gerejaku yang sama-sama melayani di Sekolah Minggu, bahwa menjadi guru Sekolah Minggu emang tidak semudah dari apa yang dipikirkannya. Bebannya lebih berat, karena yang kita hadapi adalah anak-anak yang notabene harus kita memberikan pemberitaan dan pengajaran akan Firman Tuhan yang benar.

Satu hal yang menjadi pergumulan saya, bahwa disadari atau tidak kerinduan anak-anak untuk datang ke Sekolah Minggu mulai sedikit berkurang. Anak susah untuk duduk selama 1,5- 2 jam guna mendengarkan Firman Tuhan dan melakukan berbagai kreatifitas. Guru harus putar otak dan terus menggali dan belajar banyak untuk semakin menjadikan Sekolah Minggu semakin menarik. Lepas dari hal tersebut, saya ingin berbagi tentang buku yang saya baca dan ternyata menjadi jawaban atas beberapa pertanyaan besar saya dan teman sepelayanan anak di mana saya tinggal. Buku berjudul "Guruku Sahabatku" karangan Novelina Laheba mampu memberikan batasan yang jelas kepada para guru Sekolah Minggu dalam mengajar dengan konsep aktif, partisipatif, menyenangkan, kreatif, dan sederhana. Wah, mengucap syukur sekali karena beberapa modul di dalamnya dapat saya pakai sebagai referensi dalam mengajar di tempat saya. Tetapi, satu hal yang saya belajar dari buku tersebut, yaitu tentang bagian Sekolah Minggu adalah sebuah kebutuhan.

Kita menyadari bahwa Sekolah Minggu adalah sebuah kebutuhan. Jika kita amati, kata kebutuhan menunjukkan bahwa Sekolah Minggu suatu hal yang sangat dibutuhkan bagi perkembangan anak-anak layan kita. Jika dilihat dari dua sisi, Sekolah Minggu mampu mengakomodir akan dua kebutuhan. Kebutuhan teologis dan kebutuhan psikologis.

Dari aspek teologis bahwa kerajaan Allah adalah kebutuhan inti dari kehidupan manusia dan dunia. Allah menganugerahkan kerajaan Allah bagi kita dan semuanya akan digenapi pada akhir zaman. Manusia harus berpartisipasi merealisasikan akan hal tersebut, tanpa terkecuali anak-anak.

Dari aspek kebutuhan psikologis, pendidikan agama Kristen yang dalam hal ini terdapat juga dalam Sekolah Minggu, merupakan hak dari anak-anak Kristen itu sendiri. Di sana terjadi proses pengembangan diri dan kepribadian. Anak-anak membutuhkan cara berpikir, cara perilaku, pengetahuan, emosi, dan mental yang sehat, karena hal tersebutlah yang dikehendaki Allah. Sekolah Minggu jangan sampai monoton, tetapi di dalamnya ada sebuah kegiatan yang hidup, penuh sukacita, dan ucapan syukur. Sekolah Minggu mampu memenuhi kebutuhan anak akan kerajaan Allah yang kekal dan menjadi tempat yang baik untuk perkembangan anak.

Akhir kata, semoga hal di atas bisa menjadi sebuah perenungan kita bersama, terlebih para pelayan anak. Selamat melayani!

Comments

dianpra's picture

Bener banget

Aku setuju sama blog di atas.

Aku jadi inget waktu dulu aku juga sekolah minggu.

Guruku kreatif banget, dulu dia kupanggil Bu Eli. Cara ngajarnya macem-macem, jadi aku ngga bosan, sampai-sampai aku ikut di sekolah minggu itu sampai aku jadi anak sekolah minggu paling senior .... ha... ha....

tapi memang bener, dari bersekolah minggu, kebutuhan teologis dan psikologisku terpenuhi, meski belum terisi penuh

Jangan anggap enteng anak-anak!

Jangan anggap enteng anak-anak! Banyak kasus yang terjadi pada orang dewasa ternyata berasal dari pengaruh apa yang terjadi di masa kanak-kanak. Begitu pun yang saya yakini, bahwa mengajar anak-anak seperti mengajar di SM bukanlah suatu kegiatan bermain semata. Tapi lebih kepada pembekalan atas rohani mereka.
Setiap kali mendapat tugas untuk mengajar mereka, saya tidak bisa main-main. Saya harus mempersiapkan dengan matang apa yang akan saya sampaikan sehingga dapat dimengerti dan tertanam di hati mereka. Karena saya yakin, apa yang tertanam di hati akan terus mereka ingat dan terapkan dalam kehidupan mereka.
Ini juga terjadi waktu saya ber-SM di masa kecil dulu. Saya ingat bahwa hari Minggu pagi adalah saat-saat yang saya nanti-nantikan. Semua anak SM dikumpulkan dalam satu aula besar untuk berdoa dan memuji Tuhan. Setelah itu kami akan dibagi ke kelas-kelas menurut tingkatan usia. Di kelas kami akan didampingi 2-3 guru, 1 guru mengajar dan yang lain membimbing kami.
Itulah kerinduan saya, bisa memberikan suasana yang menyenangkan dan apa yang saya sampaikan juga bisa menjadi berkat bagi anak-anak SM yang saya ajar.

Jangan anggap enteng! Memang Benar....

Aduh mbk Pipin, Anda benar sekali. Bgaimanapun anak-anak adalah seseorang yang harus mendapatkan perhatian yang besar. Menjadi orang tua, seorang guru, ternyata tidaklah semudah membalikkan telapak tangan. Tapi kemauan untuk memberi diri mengajar itu modal dasar sebagai pelayan Anak.

Terkadang banyak alasan dan benturan ketika kita melakukan pelayanan anak. Kerjaan saya ga bisa ditinggal, sekolah saya akan berantakan. Tapi ketika saya melihat dan teringat anak-anak itu kembali, saya jadi diingingatkan untuk ingat bahwa "Jangan lakukan itu buat kamu, tapi buat Aku". Keceriaan anak-anak, seperti penambah energi saya untuk tetap bertahan.

Tetap semangat para pelayan anak... Tuhan akan selalu pegang tangan kita. Aminnnnnnnnn :)) Tetap semangatttttttt

 

 

Belajar dari Pengalaman

Mau sharing aja, bener banget kalo jadi guru SM itu harus kreatif,punya kesabaran yang plus plus, dan bener-bener punya hati yang mengasihi anak-anak. Saat ini guru-guru SM di gerejaku sedang di"ug grade" karena dari pengalaman yang sudah-sudah ternyata memang kurang kreatif dalam menyampaikan FirTu alias monoton. Hasilnya, anak-anak jadi tidak tertarik saat guru bercerita. Pertama kali ngajar, sempet kaget juga.."kok serem amat sih, rame bener!!!" Tapi puji Tuhan, kini kami sedang berusaha memperbaiki metode pengajaran dan sedikit-sedikit mulai telihat hasilnya. Anak-anak ga lagi serame dulu dan ga semau gue lagi klo guru ada di depan kelas buat nyampein FirTu. Maju terus Kristin, usaha kita ga sia-sia bila bersama Tuhan :)

Be Creative! How?

Bagi kita yang sudah berkecimpung di dunia SM tentu sudah tahu bahwa menjadi guru SM memang harus kreatif. Saya yakin, dengan kreatif bisa meminimalisasikan kebosanan anak-anak dalam mengikuti SM. Lantas, bagaimana supaya bisa kreatif? Apakah kreatif itu bisa lahir dengan sendirinya alias bakat? Atau karena kita yang mau belajar untuk mengajar lebih baik lagi dan menggali bahan-bahan untuk mengajar? Saran saya, tanamkan dahulu rasa kecintaan kita pada anak-anak. Bagaimanapun, mereka perlu diberi pengajaran yang baik. Latih juga diri kita untuk terus menggali potensi dalam proses belajar-mengajar ini. Dan, carilah sebanyak-banyaknya sumber bahan mengajar. The last, training Guru SM tetap perlu untuk diikuti. Selain menambah bekal, kesempatan ini juga baik untuk bisa membagikan pengalaman kita dalam mengajar SM. Bravo Guru SM! Laughing

metode pengajaran??

aQ setuju ama semua GSM2 diatas, kadang aQ jg pusing kalo harus menghadapi anak2 yang sering buat onar dikelas SM, buat tman2 yg pux trikx bagi dong disini... @mba ratri metode pengajaranx bs di share nggak??