Natal, Panggilan mengosongkan Diri

Normal
0

false
false
false

EN-US
X-NONE
X-NONE

MicrosoftInternetExplorer4

/* Style Definitions */
table.MsoNormalTable
{mso-style-name:"Table Normal";
mso-tstyle-rowband-size:0;
mso-tstyle-colband-size:0;
mso-style-noshow:yes;
mso-style-priority:99;
mso-style-qformat:yes;
mso-style-parent:"";
mso-padding-alt:0in 5.4pt 0in 5.4pt;
mso-para-margin:0in;
mso-para-margin-bottom:.0001pt;
mso-pagination:widow-orphan;
font-size:11.0pt;
font-family:"Calibri","sans-serif";
mso-ascii-font-family:Calibri;
mso-ascii-theme-font:minor-latin;
mso-fareast-font-family:"Times New Roman";
mso-fareast-theme-font:minor-fareast;
mso-hansi-font-family:Calibri;
mso-hansi-theme-font:minor-latin;
mso-bidi-font-family:"Times New Roman";
mso-bidi-theme-font:minor-bidi;}

Natal, Panggilan “Mengosongkan Diri”

Laporan meningkatnya penjualan
asesoris Natal, meski dengan alasan
“iming-iming” diskon besar yang telah sukses meningkatkan kegairahan
belanja mereka yang memiliki uang, untuk sejenak melupakan bahaya resesi yang lebih
besar lagi, sedang pada sisi yang
lain krisis yang melanda dunia telah
menciptakan banyak orang miskin baru, serta lonjakan pengangguran,
mengindikasikan bahwa berita Natal yang adalah berita damai sejahtera untuk
semua orang itu kini makin tergerus, kalau tidak ingin dikatakan lenyap sama
sekali.

Natal rupanya telah menjadi
tawanan monster konsumerisme. Mungkin lantaran hal itulah Natal kini makin
kehilangan kemampuan untuk mendekatkan nisbah antara yang kaya dan yang miskin,
bahkan sebaliknya telah menambah lebar jurang pemisah itu, karena Natal telah
menjadi perayaan untuk kalangan tertentu. Padahal, peristiwa Natal sesungguhnya
adalah narasi tentang solidaritas terhadap mereka yang menderita yang diwakili
oleh gembala-gembala yang berada di padang penggembalaan, serta “palungan”,
kandang binatang, tempat Yesus dilahirkan.

Mungkinkah kita bisa merayakan
Natal dengan kemewahan tanpa solidaritas terhadap mereka yang lapar,
penyakitan, kesepian, teraniaya, dengan tetap berpegang pada makna Natal yang
sesungguhnya? Atau masih mungkinkah kita merayakan Natal dengan berpegang pada
makna Natal yang sesungguhnya ditengah badai konsumerisme yang menggila ini?
Mengenang kembali peristiwa Natal yang historis dalam hal ini menjadi kebutuhan
yang harus dipenuhi.

Berita Natal

Berita Natal adalah berita damai
sejahtera (syalom, Irene) mengandung dua
pengertian, pertama, sejahtera dalam arti memiliki hubungan yang diperdamaikan
dengan Tuhan, kedua, hidup dalam kecukupan secara ekonomi. Kedua hal itu
berasal dari Tuhan, berdasarkan hal itulah dapat dimengerti, mengapa manusia harus mengusahakan kesejahteraan
sesamanya? Karena sesungguhnya sang pencipta manusia itu menginginkan semua
ciptaannya hidup sejahtera dan semua ciptaan wajib memenuhi ketetapan pencipta
untuk memberikan kesejahteraan pada semua umat manusia.

Kesejahteraan manusia bukan hanya
tanggung jawab orang tertentu saja, tetapi semua penghuni dunia ini, karena
tanpa usaha bersama kesejahteraan semua umat manusia itu tidak akan terwujud.
Jika manusia hanya mengusahakan kesejahteraan pribadinya saja yang terjadi
adalah kesenjangan sosial, bukannya keseimbangan, padahal yang seharusnya
terjadi adalah keseimbangan.

Tuhan menempatkan semua manusia
pada tempat yang sama, yaitu pada dunia milik Tuhan, yang dianugrahkan Tuhan
untuk semua orang. Oleh sebab itu semua manusia harus bekerja keras
mengusahakan kesejahteraan pribadi dan sesamanya. Ini sangat beralasan, jika
semua orang mengusakan kesejahteraan sesamanya dan mengendalikan nafsu
serakahnya, niscaya keseimbangan akan tercipta dengan sendirinya, jurang antara
yang kaya dan miskin akan makin menyempit.

Inti Peristiwa Natal itu sendiri sesungguhnya
adalah berita bahwa Tuhan, Sang Maha Pencipta, ingin mencukupkan semua
kebutuhan manusia. itu dikonfirmasikan dalam pelayanan Yesus ketika di dunia.
Yesus bukan hanya mengampuni dosa manusia melalui kematiannya, tetapi juga
memberi makan dan memberi kesembuhan bagi manusia. Mengacu pada kondisi manusia
pada waktu Yesus hadir di dunia yang penuh dengan ketidak adilan, yang terbaca
jelas pada kondisi bangsa kepada siapa Yesus datang yaitu bangsa terjajah dan
sedang menantikan pembebasan. Jelaslah, kedatangan Yesus adalah untuk memuaskan
kehausan manusia akan kesejahteraan.

Pembantaian anak-anak seusia
Yesus yang adalah usaha untuk membunuh Yesus merupakan lukisan paling memilukan
dari kekejaman penguasa dalam merespon peristiwa Natal. Manusia dalam
ketamakannya tidak menginginkan sesamanya mereguk kesejahteraan yang sama,
manusia cenderung menjadi srigala atas sesamanya. Namun, Yesus tetap mengasihi
mereka yang menentangnya, dan menyengsarakannya, karena kedatanganNya juga
untuk pengusaha yang bengis yang jauh dari sejahtera yang dalam hatinya haus
akan kesejahteraan itu, karena kebutuhan untuk hidup adil dalam relasi dengan
sang pencipta dan sesame merupakan bagian yang terpisahkan dari keberadaan
sebagai manusia.

Merayakan Natal berarti
mengabarkan kepada semua orang bahwa Tuhan ingin mencukupi kebutuhan manusia
secara seutuhnya supaya manusia mengalami damai sejahtera, sebagaimana yang
telah diperjuangkan Yesus pada masa hidupnya di dunia. Berpijak pada hal itu, sesungguhnya
menyampaikan berita Natal secara benar tidak bisa dipisahkan dengan kepedulian
terhadap sesama dalam hal berbagi dengan sesama, dan itu hanya mungkin jika
kita mengikuti panggilan untuk mengosongkan diri.

Panggilan “Mengosongkan diri”

Untuk dapat mengerti penderitaan
dan kesedihan manusia Yesus melakukan pengosongan diri. Yesus tidak menampakkan
kemulianNya, meski Yesus tak pernah kehilangan kemuliaanNya. Yesus yang mulia
itu mengenakan rupa manusia yang paling
hina dan yang paling menderita, bahkan mati dengan cara yang sangat menderita.
Yesus solider terhadap penderitaan manusia, karena Yesus mengerti penderitaan
manusia yang terdalam dan tahu jawaban yang tepat atas persoalan manusia itu.
Teladan ini seharusnya dilakukan oleh setiap orang yang ingin merayakan Natal. Pengosongan
diri Yesus itu sama sekali tak menghilangkan kemulian-Nya, bahkan sebaliknya,
karena tindakan pengosongan diri itu Yesus makin dimuliakan.

Panggilan mengosongkan diri bagi
manusia adalah panggilan untuk menganggap diri tiada, meski ia tetap ada, namun
yang ada itu tidak menjadi alasan untuk memegahkan diri. Apa yang ada pada
manusia sesungguhnya berasal dari pencipta. Panggilan mengosongkan diri ini
akan membuat manusia bisa melihat sesamanya sebagaimana adanya, tidak
membeda-bedakan manusia, dan hanya dengan itulah kerjasama yang harmonis dapat
tercipta. Ini adalah jawaban yang dibutuhkan oleh negeri ini, terlebih lagi
ditengah trauma pengangguran, kemiskinan yang masih mengancam negeri ini.

Binsar A. Hutabarat

Peneliti pada Reformed center for Religion and Society (RCRS)

Kategori: Kepemimpinan Kristen

Comments

Ah seandainya ini yang menjadi komitmen

Saya membayangkan, kalau saja setiap gereja/institusi/pribadi yang ber"natal"an tahu, merasa, dan melakukan semangat ini ya pak Binsar? :)
---

"Kristus Yesus datang ke dunia untuk menyelamatkan orang berdosa," dan di antara mereka akulah yang paling berdosa." (Kata-kata Saulus, seorang ahli agama Yahudi yang menjadi Kristen)