Teks yang Menyebut Yesus adalah Allah

Ini tentang penyelidikan beberapa teks Perjanjian Baru yang secara tidak langsung, namun jelas menyatakan “ke-Allah-an” Yesus.  Tetapi penyelidikan ini dibatasi hanya pada tiga bagian teks yang secara eksplisit menggunakan kata “Allah” untuk Yesus.

1. Ibrani 1:8-9

Penulis Ibrani berkata bahwa Allah menyatakan Yesus, Anak-Nya dengan mengutip Mazmur 45:6-7, “Takhta-Mu, ya Allah, tetap untuk seterusnya dan selamanya, dan tongkat kerajaan-Mu adalah tongkat kebenaran. Engkau mencintai keadilan dan membenci kefasikan; sebab itu Allah, Allah-Mu telah mengurapi Engkau dengan minyak sebagai tanda kesukaan, melebihi teman-teman sekutu-Mu.”

Penulis Ibrani mengutip Mazmur berdasarkan Septuaginta, biasa disimbolkan dengan ‘LXX’.  Masalah yang timbul di ayat ini, yaitu apakah ‘ho theos’ di ayat 8 adalah bentuk nominatif atau vokatif? 

Beberapa ahli, misalnya, Westcott, menyarankan bentuk Nominatif dengan interpretasi “God is Your throne is ever.” Namun interpretasi seperti ini kurang disukai. Menurut versi LXX, pembacaannya adala, “Your weapons, O Mighty One, are sharpened.”

Hukum paralelisme mengindikasikan bahwa teks ini harus dibaca, “Your Throne, O God, is for ever and ever.” Di samping itu, bentuk paralelisme dari Mazmur yang dikutip di ayat 8, “and the righteous scepter is…,” menyarankan, bahwa ‘throne’, ‘tahta’ bukan ‘God’,’Allah’ yang menjadi subjek dari ayat tersebut.

O. Cullmann,  menyarankan, bahwa penulis Ibrani dengan tidak ragu-ragu dalam mengimplikasikan gelar Allah ini bagi Yesus. Karena acuan ayat 8 ini adalah Yesus.

Taylor,  juga menerima bahwa ayat 8 ini dengan ekspresi, “O God” adalah dalam bentuk vokatif yang membicarakan tentang Yesus. Tetapi, perlu dicatat, bahwa penulis Ibrani yang mengutip Mazmur dan menggunakan terminologi ini tidak bermaksud membahas dan menyarankan bahwa gelar ini mengacu kepada Yesus!

Jika teks ini ditujukan kepada Yesus dengan gelar Allah, rujukan itu benar! Sebab terlihat kekontrasan antara Anak yang memiliki dominasi kekekalan dengan para Malaikat sebagai hamba-Nya.

Memang tidak banyak bukti yang mendukung bahwa ayat ini mengacu kepada Yesus dengan Gelar Allah. Harus disadari bahwa penulis Ibrani juga tidak akan mempermasalahkan acuan ini. Bandingkan dengan situsi dalam Ibrani 1:10, di mana aplikasi terhadap “Anak” dari Mazmur 102:25-27 memiliki pengaruh yang menyebutkan Yesus dengan gelar “Tuhan”.

Namun, bagimana mendapatkan penafsiran yang lebih baik lagi untuk memastikan tentang apakah yang dimaksud “O God” oleh pemazmur dan dikutip oleh penulis Ibrani, yang kemudian dapat diaplikasikan kepada Yesus?

Tanpa mengabaikan retorika ini, pandangan bahwa rujukan ayat ini adalah mengacu kepada Yesus sebagai yang memiliki gelar Allah adalah sebuah kesimpulan yang kuat. Dasarnya adalah “pembukaan” surat Ibrani, khususnya di 1:1-3, yang memproklamasikan keberadaan Yesus sebagai yang berhak atas segala ciptaan.  Selian itu, Mazmur 45 yang dikutip oleh penulis Ibrani adalah Mazmur Kerajaan, Royal Psalm. Dengan demikian, sebut “O God”, sangat aplikatif ditujukan kepada Yesus sebagai “Mesias anak Daud.”

Sebagai kesimpulan pemahaman ayat ini, Wycliffe berkomentar demikian:

“Christ is addressed as God and as king, or sovereign. As promised in the Davidic covenant, here is David's greater Son ruling as king, and his rule is eternal. The qualities of His kingship are justice, righteousness, and hatred of wickedness - qualities which can only characterize a just reign. In this position Christ is above or superior to all, and particularly to angels. To this exalted and honored position Christ has been anointed rather than appointed, and this anointing is that of Christ Victor - the victorious one ruling eternally.”

2. Yohanes 1:1

“Pada mulanya adalah Firman; Firman itu bersama-sama dengan Allah dan Firman itu adalah Allah.”

Kata-kata Yunani yang penting ialah, “kai ho logos en pros ton theon kai theos en ho logos.”

Perdebatan muncul karena kata ‘theos’ di baris ketiga tidak menggunakan artikel. Sepintas, jelas bahwa kata ‘ho theos’ di baris kedua mengacu kepada Allah Bapa, tetapi dengan adanya kata ‘theos’ yang tidak menggunakan artikel ‘ho’pada baris ketiga, timbul nuansa bahwa ‘logos’, ‘word’, agaknya lebih rendah dari Bapa, ‘The Father.’ Bandingkan dengan Yohanes 14:28.

Berdasarkan peraturan gramatikal bahasa Yunani yang sederhana, bahwa predikat kata benda secara umum mengurangi artikel. Dan, apabila subyek telah memiliki artikel, maka predikatnya tidak perlu memilikinya.

Jika dalam teks ini, ‘theos’ adalah kemungkinan suatu predikat, itu artinya tidak perlu di gunakan sebagai suatu pernyataan indentitas. Contohnya di formula: “Aku adalah…” di Yohanes 11:25 dan 14:6 yang diikuti oleh predikat kata benda yang mempunyai artikel.

Untuk menghindari nuansa penafsiran yang keliru dari ‘theos’ ini, Moffat telah menterjemahkan menjadi “the word was divine”. Tetapi terjemahan ini sangat lemah! Karena Yohanes sendiri tidak memilih kata ‘theios’, ‘Ilahi’dalam bacaannya.

Di New English Bible frasenya berbunyi, “What God was, the word was,” ini tentunya lebih baik dari pada Ilahi, tetapi kehilangan ketegasan gaya prolognya.

Barangkali penjelasan yang lebih baik, berkaitan dengan mengapa pengarang prolog ini memilih menggunakan ‘theos’ tanpa artikel yang mengacu kepada ‘logos’, ‘firman’, adalah, bahwa ia hendak untuk menjaga kualitas ‘firman’, ‘ho logos’, yang berbeda dengan Bapa, ‘ho theos’.

Catatan penting untuk memahami konsep teologi berkenaan dengan pengurangan penulisan artikel dalam bagian ini. Bahwa, “teks Yohanes 1:1 ini adalah bentuk prolog dan merupakan inklusi menyeluruh, seperti yang terdapat di Yohanes 1:18, ”(ho) monogenes theos”, “God the only Son”. 

Sebaliknya, tidak ada satu kata pun yang mendukung inklusi bahwa di dalam tulisan Yohanes, “theos” lebih kecil dari “ho theos”. Bandingkan dengan klaim Yesus sendiri yang menyebut dirinya adalah “Allah” di Yohanes 10:33, 5:18.

3. Yohanes 20:28

Pada sore minggu itu sesudah hari paskah, Yesus menampakkan diri kepada murid-murid-Nya dan Thomas mengakui Dia: “Ya Tuhanku dan Allahku!”

Pengakuan yang berupa seruan ini muncul dari seorang murid Yesus yang bernama Thomas. Thomas dapat disebut sebagai seorang yang “skeptis” terhadap kebangkitan Yesus. Artinya ia juga skeptis terhadap keilahian Yesus.

Secara literatur, seruan Thomas ini adalah klimaks dari pesan Injil Yohanes tentang Kristologi, tetapi secara teologi, pengakuan Thomas ini justru sebuah peneguhan keilahian Yesus. 

Yohanes 20:20 ini adalah salah satu teks yang menggunakan sebutan Allah secara langsung. Mungkin ada yang berpikir bahwa, seruan Thomas ini dilakukan secara tidak sadar terungkap karena tersentak atau terkejut dengan peristiwa yang tiba-tiba? Misalnya, orang yang terkejut biasanya berteriak, “my God!”

Tetapi “teriakan” ini tidak mungkin dilakukan jika menyimak latar belakang dan kehidupan Thomas sebagai orang Yahudi yang “naif” jika menyebut nama Allah dengan sembarangan, bahkan mengekspresikan Allah pun, tidak sesuai dengan kebudayaan Yudaisme.

Menurut Bultmann, dalam tradisi Yudaisme adalah naif mengekspresikan Allah, baik secara mithologi maupun anthropomorphisme. 

Di sisi lain, seruan Thomas ini justru merupakan pengungkapan iman dalam “level” yang tinggi, yang dicatat oleh Yohanes, sekaligus menyingkapkan konsepsi Yohanes terhadap keilahian Yesus yang tidak mungkin salah dan suatu konklusi pengalaman dan pengenalan Yohanes sendiri.

Perlu diketahui juga, bahwa tujuan Injil Yohanes ini adalah untuk membimbing pendengarnya supaya mengenal siapakah Yesus dan agar orang yang percaya dapat mewarisi hidup yang kekal. 

Tidak dapat dihindari bahwa secara teologi seruan Thomas ini justru meneguhkan bahwa Kristus adalah yang ilahi.  Narasi ini menunjukkan bahwa Yesus hendak memberikan kesempatan kepada Thomas untuk menghilangkan sikap skeptisnya ketika ia diperhadapkan dengan kenyataan kebangkitan Yesus. Sehingga Thomas sendiri memiliki persepsi yang luar biasa dalam pengenalannya akan Yesus.

Oleh sebab itu, dalam teks ini Yesus disebut sebagai Allah, ”ho theos mou.” Dapat dikatakan bahwa teks ini merupakan klimaks berita Injil. Perkataan Thomas yang mengikuti formula konfesi dalam Perjanjian Lama diterapkan kepada Yesus. Contoh terbaik dari Perjanjian Lama yang menyebutkan pengakuan ini adalah Mazmur 35:23, di mana sang pemazmur berkata: “...ya Tuhanku, ya Allahku.” Pengakuan Thomas ini adalah pengakuan yang otoritatif yang mengungkapkan apa arti percaya.  Allah yang dipercayai itu adalah Yesus Kristus.
 
Demikian,

Sola Gracia,
Riwon Alfrey

Kategori: Teologi

Keywords Artikel: Interpretasi, Kristologi

Topic Artikel: Teologi dan Alkitab

Comments

Dalam Yohanes 17:11-12

Dalam Yohanes 17:11-12 disitu jelas sekali bahwa nama Yesus adalah nama Allah yang diberikan kepada Anak Nya.