Toleransi Militan

"Toleransi Militan"

Istilah “Toleransi Militan” kini makin popular di Indonesia, seiring dengan kian maraknya kehadiran kelompok-kelompok radikalisme yang menapikan keragaman, yang bermuara pada konflik yang mengakibatkan korban yang tidak sedikit, khususnya dalam konflik antar agama di era kebangkitan agama-agama yang juga disebut kebangkitan radikalisme agama, yang terbaca jelas baik dalam hal politisasi agama maupun agamaisasi politik, “Toleransi Militan” itu kini dianggap sebagai solusi penting bagi terciptanya penghargaan terhadap keragaman yang adalah realitas dari keindonesiaan yang kini berada pada titik kritis. Kehadiran Aliansi Kebangsaan dan Kebebasan Beragama dan Berkeyakinan (AKKBB), dan juga individu maupun lembaga-lembaga lain yang bersuara lantang menyerukan sikap toleran serta penghormatan terhadap kebebasan beragama, dan mengkritisi pembiaran pemerintah terhadap tindakan anarkis terhadap perusakan dan penutupan tempat ibadah, serta mereka yang dianggap bidat akhir-akhir ini, menurut penulis bisa dikelompokkan pada sepak terjang kaum toleransi militan.

Timbul pertanyaan, apakah “Toleransi Militan” itu tidak bertentangan dengan jiwa toleransi yang sering kali dimaknai sebagai sikap pasif bahkan dianggap sebagai sikap yang menerima apa saja (sinkretisme), dan apakah sikap itu tidak makin mengeraskan kelompok radikal yang sangat militan ketika bertemu dengan kelompok toleransi militan, apalagi dalam kondisi negara yang seakan tidak lagi memiliki otoritas seperti didengungkan banyak orang, terkait ketidakberdayaan pemerintah untuk melindungi warganya dari tindak kekerasan yang tidak pernah berhenti sejak era reformasi, dan masih saja ada pembenaran sebagai sesuatu yang dianggap biasa terjadi di era transisi, meski reformasi itu telah berlangsung selama sepuluh tahun. Pertanyaan yang paling penting adalah, apakah semangat toleransi militan itu juga bersemayam dalam hatinya founding fathers Indonesia yang telah meletakkan dasar bagi negeri dengan banyak agama ini, dan yang dulu terkenal dengan semangat toleransinya.

Tentang Toleransi

Toleransi berasal dari kata “toleran” kata itu sendiri berarti bersifat atau bersikap menenggang (menghargai, membiarkan, membolehkan), pendirian (pendapat, pandangan, kepercayaan, kebiasaan, dan sebagainya) yang berbeda dan atau yang bertentangan dengan pendiriannya. (Kamus Umum Bahasa Indonesia). Jadi, dalam hubungannya dengan agama dan kepercayaan, toleransi berarti menghargai, membiarkan, membolehkan kepercayaan, agama yang berbeda itu tetap ada, walaupun berbeda dengan agama dan kepercayaan seseorang.

Toleransi tidak berarti bahwa seseorang harus melepaskan kepercayaannya atau ajaran agamanya karena berbeda dengan yang lain, tetapi mengizinkan perbedaan itu tetap ada. Toleransi seperti ini, menjadi jalan bagi terciptanya kebebasan beragama, apabila kata tersebut diterapkan pada orang pertama kepada orang kedua, ketiga dan seterusnya. Artinya, pada waktu seseorang ingin menggunakan hak kebebasannya, ia harus terlebih dulu bertanya pada diri sendiri, “Apakah saya telah melaksanakan kewajiban untuk menghormati kebebasan orang lain?” Dengan demikian, setiap orang akan melaksanakan kebebasannya dengan bertanggung jawab, dan toleransi jauh dari sikap pasif yang menerima apa adanya tanpa perjuangan.

Benyamin Intan dalam bukunya, Public religion and the Pancasila-Based State of Indonesia mengutif David Little membagi pengertian toleransi dalam dua bagian, pertama, dalam definisinya yang minimal, “jawaban pada seperangkat kepercayaan, praktek atau atribut, yang pada awalnya dianggap sebagai menyimpang atau tidak bisa diterima, dengan ketidaksetujuan, tetapi tanpa menggunakan kekuatan atau paksaan.” Kedua, Di dalam bentuknya yang paling kuat, toleransi bisa didefinisikan sebagai “[sebuah] jawaban kepada seperangkat kepercayaan, praktek atau atribut, yang awalnya dianggap sebagai menyimpang atau tidak bisa diterima, dengan ketidaksetujuan yang disublimasi, tetapi tanpa menggunakan kekuatan atau paksaan”. Menurut Little“, ketidaksetujuan yang disublimasi” adalah “ada sesuatu yang bisa dinilai, sesuatu yang membangun, baik di dalam bagian kepercayaan-kepercayaan yang menyimpang itu sendiri atau di dalam proses memberi-menerima yang terjadi di antara para pendukung ide-ide yang sedang bertikai, betapapun besarnya ketidaksepakatan yang ada.”

Dalam definis Little yang pertama ada hidup bersama, namun tak ada kebersamaan, sedang dalam definis yang kedua, hidup bersama itu diwarnai dengan kebersamaan, suatu kehidupan yang saling memberi dan menerima. Kehidupan bersama yang harmonis tentu saja mensyaratkan penerimaan definisi yang kedua. Dengan demikian jelaslah, sikap toleran itu bukan hanya membutuhkan kesadaran, tetapi juga semangat, gairah, perjuangan dalam bersikap toleran demi hidup bersama yang lebih baik.

Toleransi Militan

Kita tentu setuju, toleransi adalah kunci penting untuk terciptanya hidup bersama yang harmonis, tanpa itu hidup bersama rawan dengan konflik. Karena itu dapat dipahami, menipisnya semangat toleransi masyarakat Indonesia menjadi sebab kehadiran konflik yang mengerikan diberbagai daerah di Indonesia. Karena itu usaha untuk menyuburkan semangat toleransi, perlu semangat, militansi, namun tidak boleh mengeksklusikan yang lain, kecuali mengembalikan pihak-pihak yang menyimpang itu ke jalan yang benar. Dalam konteks inilah mestinya toleransi militan diartikan, bukan sebagai semangat radikal yang ingin menyingkirkan segala hal yang berbeda. Tetapi usaha untuk menegakkan aturan yang fair, yang memberikan kebebasan bagi tiap individu dan kelompok dalam negara yang sangat beragama ini. Wajar saja jika semangat toleransi militan ini menjadi harapan bagi usaha menciptakan Indonesia yang lebih damai, setelah cukup lama terpuruk menjadi negara yang tergolong tidak toleran, secara khusus dalam hubungan antar suku, ras dan antar agama (SARA).

Semangat Founding Father.

“Toleransi Militan” sesungguhnya telah bersemayam dalam hatinya bangsa Indonesia sejak lama, dan semangat itulah yang kemudian berhasil mewujudkan Negara Kesatuan Republik Indonesia, sebagai salah satu negara yang paling baragam di bumi ini. Kesediaan menerima bahasa Melayu menjadi bahasa Indonesia, sebagai bahasa persatuan merupakan fakta bahwa suku-suku lainnya rela untuk tidak menonjolkan bahasa sukunya demi persatuan, demikian juga yang terjadi pada penetapan Pancasila dan UUD 45.

Founding fathers Indonesia adalah teladan dari sikap toleransi militan ini, mereka telah berhasil menggalang persatuan dengan menggelorakan semangat toleransi militan ini. Perjuangan menyatukan kelompok-kelompok yang berbeda, bahkan sempat meruncing, merupakan bukti bahwa semangat toleransi militan telah bereperan penting menghadirkan Indonesia sebagai negara yang beragam dalam kesatuan. Perbedaan tidak dihapuskan, namun persatuan bisa diwujudkan. Indonesia bisa selamat dari bahaya disintegrasi bangsa jika kita mampu terus menggelorakan semangat “Toleransi Militan”yang juga bersemayam dalam hatinya founding fathers Indonesia.

Binsar Antoni H
Peneliti pada Reformed Center for Religion and Society

Kategori: Bahan Renungan Alkitab

Keywords Artikel: militansi, religion, toleransi

Topic Artikel: Renungan dan Artikel

Comments

Militan Tanpa Kekerasan

Pak Binsar, saya justru selalu mengajak orang-orang untuk fanatik terhadap agamanya. Yakinilah agamamu sebagai satu-satunya kebenaran, yakinilah kitab sucimu sebagai satu-satunya kebenaran. Pelajarilah hingga tuntas.

Menurut saya, agak mustahil bagi seseorang untuk bersikap toleransi pada agama orang lain. Namun bila setiap orang fanatik dengan agamanya lalu mempelajari kitab sucinya dengan cara yang benar, maka akhirnya mereka akan mudah hidup damai dengan orang lain yang berbeda agama.

Dengan memperhatikan sejarah maka saya melihat bahwa kekerasan dengan alasan agama umumnya dipicu oleh perasaan terancam. Kita menyerang karena takut ajaran agama orang lain membuat para penganut agama kita disesatkan.

Di dalam masyarakat Kristen saya melihat walaupun orang-orang Kristen tidak melakukan kekerasan namun sebenarnya penyerangan terhadap penganut agama lain dan ajaran agama lain itu terjadi secara konsisten baik melalui kotbah di mimbar maupun melalui buku-buku. Serangan yang paling dasyat saat ini dilakukan terhadap agama orang-orang Tionghua. Hal itu nampak jelas dari buku-buku yang saat ini beredar demikian juga vcd-vcd  kotbah.

Aku berdosa, namun tidak berani berbuat jahat, mustahil menentang kehendakNya!
Kebaikan dirimu, tak berani kusembunyikan, kejahatan diriku, tak berani kuampuni!

Toleransi Militan

Terima kasih untuk komentar iah iah, salam jumpa kembali. Meyakini agama yang kita yakini sebagai kebenaran mutlak (eksklusif) tidak salah, tetapi bukan berarti di dalam orang lain atau agama lain tidak ada kebenaran (inklusif), kita tahu Tuhan memberikan anugerahnya secara khusus dan umum. Dengan dasar itulah kita percaya semua manusia berada dalam kedaulatan Tuhan, karena itu Tuhan bisa pakai orang beragama lain menjadi pemimpin yang baik dalam bangsa ini, misalnya. Pada sisi yang lain ada orang-orang yang mengaku Kristen justru tidak baik. Disini seharusnya kita bisa saling belajar, dan itu membutuhkan toleransi. mengajar orang lain fanatik (Menerima ajaran tanpa mengerti) adalah tindak kekerasan, indoktrinasi tak akan membuat seseorang rohani, fanatik buta, justru sangat berbahaya, karena menjadikan pemimpinya sebagai Tuhan ,atau dirinya sebagai Tuhan, sehingga tak ingin belajar dengan yang lain. Ini adalah sumber masalah antar agama di negeri ini. Saling menjelekkan, menghina, untuk membenarkan diri, adalah perbuatan tidak benar. Berapologetika boleh, tapi bukan untuk menghina orang lain. GBU