Surat Bebas AIDS Syarat Menikah

Bebas HIV/AIDS Syarat Menikah

Oleh Binsar Hutabarat

Melejitnya pertambahan jumlah penderita HIV/AIDS di Indonesia telah mengkhawatirkan banyak pihak, terutama keluarga-keluarga yang memang sangat menjunjung tinggi nilai-nilai moral dan kesucian pernikahan.

Sejak tahun 2000, Indonesia telah termasuk negara dengan tingkat epidemi terkonsentrasi karena terdapat kantung-kantung dengan prevelensi HIV lebih dari 5%. Pertambahan jumlah penderita HIV/AIDS sangat mengkhawatirkan, karena jumlah yang tidak terdata jauh lebih besar dibandingkan data yang ada, seperti fenomena gunung es. Jumlah penderita HIV/AIDS di Indonesia menurut estimasi saat ini mencapai 200.000 kasus, suatu kenyataan yang sesungguhnya kemungkinan masih lebih besar lagi. Jika tidak diwaspadai, Indonesia akan menyusul Afrika sebagai rekor penderita HIV/AIDS tertinggi di dunia.

Pertambahan jumlah tersebut terutama terjadi di kota-kota besar dengan kasus terbesar lewat jarum suntik pada para pengguna narkoba, disusul seks bebas dengan berganti-ganti pasangan. Kasus HIV/AIDS di Papua, misalnya, terbesar adalah melalui hubungan seks dengan berganti-ganti pasangan. Tidaklah mengherankan bahwa kemudian ada gugatan untuk menyelematkan banyak orang dari bahaya tertular HIV/AIDS melalui pembatasan pernikahan dengan pemberlakuan syarat bebas HIV/AIDS untuk menikah. Apalagi 73% penderita HIV/AIDS di Indonesia adalah laki-laki.

Berdasarkan data di atas dapat dipahami, wanita dan anak-anak adalah komunis yang paling rentan dari penularan terhadap HIV/AIDS, karena itu muncul desakan terhadap Departemen Agama untuk mengeluarkan peraturan surat bebas HIV/AIDS sebagai syarat menikah. Lantas, apakah ini bukan merupakan pembelengguan terhadap hak privat seseorang? Kita semua tahu, menikah adalah hak privat yang tidak boleh dicampuri apalagi dicabut oleh negara.

Penyebab Tuntutan

Adanya tuntutan surat bebas HIV/AIDS sebagai pembatas pernikahan yang ditujukan kepada Departemen Agama mengindikasikan bahwa lembaga keagamaan masih merupakan institusi paling strategis dalam menekan lajunya pertambahan penderita HIV/AIDS. Ini tentu saja sangat membanggakan. Survei terkini melaporkan, tokoh-tokoh agama memang masih lebih dipercaya dibandingkan tokoh-tokoh politk. Namun, pada sisi lain hal itu juga mengindikasikan sikap ketidakdewasaan masyarakat Indonesia, yakni mengizinkan campur tangan pemerintah untuk mendikte dengan siapa seseorang menikah. Rekomendasi itu bisa menyebabkan mengguritanya tangan pemerintah pada bidang-bidang privat lainnya.

Tingginya pertambahan jumlah penderita AIDS umumnya disebabkan melemahnya lembaga keluarga di Indonesia yang menafikan pembimbingan pranikah dari lembaga agama. Karena itu, jika Depag mengeluarkan syarat bebas HIV/AIDS untuk menikah, pasangan yang akan melangsungkan pernikahan mau tidak mau harus menerima pembimbingan pranikah dari lembaga keagamaan.

Harus diakui, banyak kasus perceraian terjadi karena dasar utama pernikahan mereka adalah “suka sama suka”. Dengan dasar suka sama suka inilah kemudian tercipta kecenderungan pendustaan yang dilakukan penderita HIV/AIDS untuk menikahi pasangannya yang tidak mengidap HIV/AIDS. Dalam kondisi ini, tingkat penularan HIV/AIDS akan semakin tinggi. Itulah sebabnya timbul desakan untuk digulirkannya surat bebas HIV/AIDS sebagai syarat menikah. Hal ini dilakukan guna melindungi wanita dari tipu daya atau pendustaan oleh pasangannya. Pada gilirannya hal ini akan berakibat langsung terhadap anak-anak.

Pendidikan Seks

Tuntutan dikeluarkannya peraturan pemilikan surat bebas HIV/AIDS oleh Departemen Agama sebagai syarat menikah jelas merupakan pelarian dari tanggung jawab keluarga serta penyangkalan terhadap hak dan kebebasan individu. Negara dapat saja mewajibkan setiap pasangan yang akan menikah untuk memeriksakan kesehatannya sebagai usaha melindungi warganya, namun kebebasan memilih seharusnya tetap ada pada individu.

Seandainya keluarga dan pemerintah mampu menyadarkan akan bahaya dari HIV/AIDS tentunya tak ada seorang pun yang ingin berspekulasi menikah dengan penderita HIV/AIDS. Demikian juga penderita HIV/AIDS tidak akan bernafsu menikahi orang yang dicintainya apabila ia tahu bahwa kondisinya akan membahayakan pasangannya.

Pada titik ini terlihat pentingnya pendidikan seks dalam keluarga. Sebagaimana tujuan dari pendidikan adalah untuk memfasilitasi peserta didik dengan pengetahuan yang benar, maka mestinya pendidikan seks dalam keluarga, sekolah, dan lembaga lainnya tetap terjaga dengan baik. Dengan demikian, pembatasan kebebasan individu melalui persyaratan surat bebas HIV/AIDS untuk menikah tidak diperlukan.

Pemeriksaan terhadap pasangan yang akan menikah serta ibu hamil yang kemungkinan terjangkit HIV merupakan langkah lain untuk membebaskan masyarakat dari penyakit yang mematikan itu. Apalagi kemajuan kedokteran kini memungkinkan anak dalam kandungan serta istri dari penderita HIV/AIDS dapat bisa terdeteksi dengan baik. Jika pekerjaan ini dilakukan, anak pasangan yang mengidap HIV/AIDS tidak akan mewariskan penyakit itu pada anaknya.

Pernikahan adalah hak individu. Oleh karena itu, negara tidak dapat melarang atau mencampurinya. Ada banyak cara untuk menjauhi masyarakat dari penyakit yang mematikan ini. Salah satu cara yang “murah” sekaligus sangat efektif dalam memerangi perkembangan HIV/AIDS, yakni dengan menguatkan peran keluarga dan agama serta kampanye berkala mengenai bahaya HIV/AIDS.

Penulis adalah peneliti pada Reformed Center for Religion and Society, Jakarta; alumnus MCS dari Institut Reformed.

Kategori: Bahan Renungan Alkitab

Keywords Artikel: Bebas AIDS, Syarat Menikah

Topic Artikel: Renungan dan Artikel

Comments

Saya Setuju! Surat Bebas HIV Bagi Orang Kristen Sebelum Menikah

Halo bang Binsar,

Tulisan anda walau panjang namun enak dibaca dan menyampaikan informasi dengan jelas dan lengkap. Sepuluh tahun terakhir ini saya banyak terlibat dengan para pecandu narkoba dan penderita HIV dan AIDS. Saya setuju dengan anda, namun membatasinya pada orang Kristen saja. Saya setuju surat keterangan bebas HIV AIDS bagi orang Kristen yang hendak menikah. Hal itu akan menjadi salah satu cara untuk menghambat penyebaran HIV.

Test HIV AIDS adalah cara untuk membuktikan bahwa yang benar adalah benar! Apabila anda percaya tidak tidak terjangkit maka lakukanlah test, itu hanya akan membuktikan bahwa anda memang tidak terjangkit.

Aku berdosa, namun tidak berani berbuat jahat, mustahil menentang kehendakNya!
Kebaikan dirimu, tak berani kusembunyikan, kejahatan diriku, tak berani kuampuni!

Saya tidak setuju dengan pelaksanaan Surat Bebas HIV/AIDS

Salam kasih dalam Kristus, Wow!! Tulisan anda cukup lengkap dengan menampilkan 2 sisi yang berbeda antara pro dan kontra secara imbang dan objektif memberikan kesempatan bagi pembaca untuk memilih mana yang terbaik secara objektif pula. Topik ini menarik, namun menurut pendapat saya, pelaksanaan Surat Bebas HIV/AIDS sebagai syarat pernikahan bisa jadi sangat sulit dilakukan dan bukan tidak mungkin akan menjadi sumber permasalahan di masa depan karena akan terjadi perilaku negara yang diskriminatif terhadap OHIDA (Orang yang Hidup dengan AIDS) dengan merampas hak mereka untuk menikah atau hidup bersama orang yang ia cintai. Saat ini pun sudah terjadi perilaku diskriminatif dari masyarakat yang mengakibatkan OHIDA mulai menyerang balik. Salah satu contoh kasus, dulu kita sempat mendengar ada jarum yang terinfeksi virus HIV/AIDS ditinggal di tempat umum dengan maksud agar melukai dan menularkan HIV/AIDS pada orang yang sehat. Menurut saya yang terbaik saat ini, menekankan fungsi pemimpin agama dan keluarga untuk mencegah penggunaan narkoba dan seks bebas dengan menanamkan cinta, kasih sayang, dan kebebasan untuk menyuarakan pendapat secara baik dalam keluarga agar penerus bangsa ini bisa tercegah dari keinginan untuk mencoba narkoba ataupun seks bebas. Lagipula kejahatan terjadi karena ada niat dan kesempatan. Kalau kesempatan tidak ada, tapi niat sudah ada, tinggal menunggu kesempatan datang saja bukan? Tapi kalau kesempatan ada, niat tidak ada, kesempatan2 juga cuma akan lewat begitu saja. Menurut saya, untuk melindungi wanita dan anak2 dari terkena HIV/AIDS, boleh saja pemerintah mewajibkan semua pria dan wanita sebelum menikah harus melampirkan Surat Bebas HIV/AIDS, tapi keputusan untuk tetap melanjutkan menikah atau tidak, dikembalikan kepada para calon mempelai. Apakah mereka siap menerima calon suami/istri mereka dengan keadaan seperti itu, bahkan mungkin tidak bisa mendapatkan keturunan sama sekali. Kalau mereka siap dan memang bermaksud menikah karena rasa cinta satu dengan yang lain dan siap untuk menerima kekurangan pasangan dan tidak memiliki keturunan (paling tidak mungkin mereka bisa mengadopsi), saya rasa tidak ada salahnya untuk hidup bersama orang yang dicintai sampai ajal tiba bukan?

Aneh sekali

Aneh sekali, jika menikah pun harus memiliki surat bebas AIDS/HIV.

Percayakan anda jika saya katakan ia yang mengidap penyakit kelamin akan menutup diri rapat-rapat? Percayakan anda jika saya katakan ia yang mengetahui dirinya terjangkit penyakit kelamin lebih dari 20%nya menyangkal diri terjangit penyakit tersebut?

Namun satu lebih aneh, isteri Magic Jhonson tetap setia pada suaminya yang secara publik mengakui dirinya mengidap AIDS.

Banyak terjadi dua sejoli menikah masih menutupi sesuatu dari dirinya pada pasangannya. Banyak juga pasangan yang sebelum menikah terbuka ttg siapa dirinya kepada calon suami/isterinya. Tapi apa yang terjadi jika ia memberitakan bahwa dirinya mengidap penyakit tersebut?

Ada banyak cara untuk menjauhi masyarakat dari penyakit yang mematikan ini. Salah satu cara yang “murah” sekaligus sangat efektif dalam memerangi perkembangan HIV/AIDS, yakni dengan menguatkan peran keluarga dan agama serta kampanye berkala mengenai bahaya HIV/AIDS.

Cara yang anda tuliskan begitu ideal.Mungkin anda saat ini sudah hidup dalam surga.

Kehidupan diluar gereja begitu berwarna. Keluarlah dan buka mata. Nikmatilah bagaimana Tuhan juga berkuasa atas kehidupan mereka yang diciptaNYa.

Menurut saya, hanya orang yang tidak mengerti arti cinta yang berani menulis bebas HIV/AIDS syarat menikah!

Bebas HIV Syarat Menikah

Tampaknya saya mesti memberikan penjelasan lebih rinci mengenai tulisan saya tentang, Bebas HIV Syarat Menikah, karena adanya komentar yang tidak utuh. Tulisan saya pada dasarnya mencoba menganalisa suatu usulan tentang bagaimana ara menekan penularan HIV, khususnya penularan terhadap istri, usulan itu adalah tentang perlunya setiap yang menikah memberikan surat bebas HIV/AIDS. Kemudian saya memberikan pandangan, bahwa usulan itu jika dibuat undang-undang bisa melanggar hak individu, yaitu hak untuk menikah. Namun, pemeriksaan seseorang tertular HIV atau tidak adalah keharusan untuk mencegah penularan yang tidak disadari. kemudian saya mengatakan, sebenarnya pemeriksaan apakah seseorang tertular HIV atau tidak sebelum menikah adalah keharusan, sedang keputusan menikah, tergantung pasangan yang akan menikah, tapi seorang yang terkena HIV tidak boleh mendustai calonnya bahwa dia tidak terkena HIV. Kemudian saya berikan pemikiran juga bahwa, masalah moralitas itu tidak perlu dipaksakan dengan undang-undang, cuku menajdi tanggung jawab keluarga. Untuk mengerti ini kita perlu mengetahui relasi antara negara dan agama. Mudah-mudahan dapat lebih jelas dan kita bisa melanjutkan diskusi ini dengan lebih terarah, terima kasih untuk semua yang telah memberi komentar.

Sanggahan ke-2

Dear Bpk Binsar yang saya tidak kenal,

Tulisan saya pada dasarnya mencoba menganalisa suatu usulan tentang bagaimana ara menekan penularan HIV, khususnya penularan terhadap istri, usulan itu adalah tentang perlunya setiap yang menikah memberikan surat bebas HIV/AIDS.

Dari yang saya mengerti dari tulisan bapak, tidak mennyetujui atau menolak akan surat bebas HIV/AIDS sebagai syarat menikah. ini saya tilik dari paragraf terakhir anda.

Pernikahan adalah hak individu. Oleh karena itu, negara tidak dapat melarang atau mencampurinya. Ada banyak cara untuk menjauhi masyarakat dari penyakit yang mematikan ini. Salah satu cara yang “murah” sekaligus sangat efektif dalam memerangi perkembangan HIV/AIDS, yakni dengan menguatkan peran keluarga dan agama serta kampanye berkala mengenai bahaya HIV/AIDS.

Sebagai peneliti, pasti anda tahu di daerah mana kemungkinan besar penyakit ini akan dengan mudah menyebar. Saya pernah memiliki program Tes STD bagi mereka yang hidup di "jalan raya", dan anak yang tiggal dipelabuhan. Perempuan/wanita yang merupakan target tes program ini sama sekali tidak peduli.

Setelah mereka mengetahui hasil tes, mereka akan menutup diri dan menyimpan hasil tes tsb sebagai rahasia.

Bahkan ada kemungkinan mereka menikah bawah tangan, surat bebas HIV/AIDS sebagai syarat menikah bagi saya tetap guyon yang tak lucu.

Apakah sepasang kekasih batal menikah dikarenakan salah satu pasangannya tak lulus syarat ini? Pasti orang gerejaan bilang itulah karena menemukan tulang rusuk yang busuk. (Aneh khan) Padahal pasangan hidup itu yang menyediakan Tuhan.

Dear bapak penulis, keluarlah dari tempat indah anda, dan pandanglah dunia. Bukankah masalah ini pun diakibatkan mereka tidak memiliki "keluarga" ideal seperti yang semua orang idam-idamkan? Bisa berbicara mengenai sex dgn anggota keluarga terdekat.

Saya tidak akan heran jika anda bisa berbicara mengenai sex ini kepada putra dan putri bapak. Bisakah anda pastikan orang lain melakukan hal tersebut dalam kelurga mereka?

 

HIV Adalah Fakta

5 tahun yang lalu, sSuatu malam seorang teman menelpon saya. Dia cerita tentang hidupnya setahun terakhir, dia mendapat pencerahan dan lahir baru serta memiliki anugerah melakukan mujizat. dia baru saja melakukan mujizat 3 hari sebelumnya, dengan menumpangkan tangan kepada seorang pecandu narkoba yang hiv positif, mujizat terjadi, orang itu sembuh. Test lab membuktikan bahwa di dalam darahnya tidak ada kandungan shabu-shabu (methamphetamine) lagi dan tesh hiv-nya negatif.

Saya berusaha menjelaskan kepadanya bahwa shabu-shabu paling lama ada di tubuh 2X24 jam, test negatif bukan jaminan dia tidak kecanduan lagi. Saya juga coba menjelaskan bahwa virus HIV di dalam tubuh itu ada siklusnya, ketika siklusnya rendah, maka adrenalin bisa menyebabkannya tidak terdeteksi. Saya memohon dia untuk melakukan test lagi beberapa hari kemudian. Dia marah dan menyebut saya tidak beriman.

Akibat iman teman saya dan pecandu narkoba itu serta keluarganya serta beberapa orang lainnya, adalah: Pecandu itu kembali kecanduan, dia menikah dan menulari istrinya. Ketika dia mati karena AIDS, istrinya tidak tahu bahwa dia ketularan. Dia menikah, suaminya ketularan dan anaknya mati karena AIDS. Suaminya sudah mati sekarang dan wanita itu juga sudah mati sekarang.

Ada seorang wanita, cantik, Kristen, pecandu narkoba dan HIV positif. Suatu hari dia merantau ke Jepang untuk bekerja. di sana dia berhubungan dengan banyak lelaki lalu menikah dengan salah satu atasannya. Suaminya ketularan dan mati, anak mereka juga ketularan dan mati. Dia lalu dideportasi karena seseorang yang pernah merawat wanita itu memberi informasi kepada dokter jepang yang merawat suami dan anak wanita itu.

di Indonesia, wanita itu kembali kecanduan lalu masuk panti rehabilitasi. Di sana dia terlibat hubungan badan dengan beberapa mentornya lalu menikah dengan salah satu darinya. Suaminya mati, satu orang mentornya yang lain juga mati. Dia lalu menika dengan seorang penginjil dan dia mati. Penginjil itu lalu berhubungan dengan beberapa wanita.

Kedua kisah tersebut adalah kisah nyata. Anda mau kisah nyata lainnya? Seorang pecandu narkoba, HIV positif, lelaki, Kristen. Ketika hidup di panti rehabilitasi, dia berhubungan dengan seorang wanita muda di kampung tempat panti itu berada. Dia mati karena AIDS. Kekasihnya lalu menikah dengan seorang pak haji, menjadi istri keempat. Suatu hari dia membawa bayinya yang berumur 3 bulan berobat ke dokter yang saya kenal baik. Dokter itu kenal lelaki HIV itu. Untuk membuktikan dugaannya dia lalu membawa wanita dan bayinya untuk tes HIV, positif. Beberapa bulan kemudian bayi itu mati. Wanita itu lalu bercerai dengan pak haji itu dan membina asmara dengan pemuda lainnya. Dokter itu bertanya kepada saya, apa yang harus dia lakukan? Istri ke empat yang baru dari pak haji itu datang berobat dengan bayinya. Test darah membuktikan keduanya HIV positif. Bayi itu lalu mati beberapa bulan kemudian.

Nah, kawan-kawan, tolong bantu saya untuk memberitahu dokter itu apa yang harus dia lakukan.

HIV adalah FAKTA. 10 tahun yang lalu saya memberitahu seorang teman, orang Papua. Saya memohon agar dia menjelaskan kepada para pemimpin di Papua tentang bahaya HIV/AIDS. Teman saya bilang saya bermimpi karena meramalkan Papua akan menjadi salah satu daerah yang perkembangan HIV-nya paling pesat. Hal itu menjadi kenyataan.

Tahun 2003 saya ke Medan, sambil menerima ajakan teman-teman untuk bersenang-senang, saya melakukan survey ke diskotek dan tempat-tempat hiburan malam di Medan. Waktu itu saya bilang kepada teman-teman, dalam waktu 5 tahun Medan akan kebanjiran pecandu narkoba dan pendertia HIV. Saya menghubungi beberapa orang teman yang memiliki akses ke pemerintahan dan LSM untuk megnadakan kampanye anti narkoba dan HIV/AIDS. Teman-teman itu bilang, "Ini Medan Bung!"

Sejak 2003 setiap tahun saya selalu menyempatkan diri ke Medan,  menasehati teman-teman, memberi penyuluhan dari kampung ke kampung tentang Narkoba dan HIV/AIDS. Tentu saja saya melakukannya sambil bercerita tentang Yesus Kristus. Setiap tahun berganti, kondisi Medan makin parah. Pecandu Narkoba makin banyak, penderita HIV makin banyak.

Saudara,  HIV/AIDS adalah fakta. Apa yang gereja lakukan? Sepuluh tahun yang lalu, banyak sekali panti rehabilitasi narkoba yang didirikan oleh gereja. Banyak sekali kesaksian tentang orang-orang yang dibebaskan dari kecanduan narkoba. Banyak sekali pecandu narkoba yang lalu jadi penginjil atau sekolah Theologia lalu melayani. MUJIZAT terjadi atas para pecandu NARKOBA.

Pada saat itu saya berkata, "Sekali pecandu, selamanya pecandu, tidak ada pecandu yang sembuh, yang ada adalah pecandu yang tidak pake!" Saya menjadi bahan tertawaan, tidak beriman. Dalam putus asa saya berkata, "MUJIZAT Allah belum sampai kepada para pecandu narkoba dan penderita HIV." Saya pun di tuduh SESAT. 

Berapa panti rehabilitasi Kristen yang bertahan hingga saat ini? Berapa jumlah pecandu yang bersaksi telah disembuhkan itu kembali menjadi pecandu? Berapa penderita HIV/AIDS yang telah mati?

Tahun lalu seorang teman dari teman bertanya padaku, apa yang harus dia lakukan mengenai jumlah pelacur di pulau Batam yang terinveksi HIV? Waktu itu saya bilang padanya, "Apabila Allah saja tidak peduli, kenapa kamu harus stress? Lakukan yang bisa kamu lakukan."

Saudara HIV/AIDS adalah fakta! Rata-rata 1 orang pecandu narkoba yang HIV positif dalam 1 tahun berhubungan minimal dengan 6 orang wanita. Satu orang pelacur HIV positif dalam 1 hari rata-rata berhubungan dengan 3 orang lelaki. Kita tidak tahu apakah ketiga lelaki itu orang Kristen atau bukan? Sudah menikah atau belum?

HIV menular lewat SEX dan jarum suntik.    

Saudara, anda mau tahu kemana HIV akan menyebar dengan pesat? Sulawesi, di kalangan orang Kristen dan Kalimantan di kalangan orang Tionghua. Di jakarta, anda akan kaget karena tidak pernah menyangka teman atau orang alim yang anda kenal tiba-tiba kecanduan narkoba dan ketika diperiksa, dia HIV positif.

Gereja mulai menjadi tempat dilakukannya transaksi narkoba. Gereja mulai dijadikan tempat untuk memakai narkoba. Karena gereja adalah tempat teraman untuk melakukan keduanya. Maaf, ini membuat anda tidak nyaman, namun itulah berita yang saya dengar dari jalanan dan itulah yang diceritakan di jalanan.

Anda mau berdoa, silahkan! Saya memilih, setelah berdoa lalu pergi ke jalanan. Menceritakan tentang Kristus kepada siapa saja di bawah bimbingan Roh Kudus dan menyerahkan hasilnya kepada Allah (terserah Allah). 

Aku berdosa, namun tidak berani berbuat jahat, mustahil menentang kehendakNya!
Kebaikan dirimu, tak berani kusembunyikan, kejahatan diriku, tak berani kuampuni!

iah-iah, benar HIV adalah fakta

Paparan yang anda tuliskan nyata dan benar.

Bahwa penyebaran HIV ditularkan melalui hubungan sex dan jarum suntik.

Kekusutan hubungan pernikahan, sex dan pemakaian jarum suntik tidak steril dan sembarangan dengan mudah membumbung penjumlahan pengidap baru virus ini.

Apa yang doter harus lakukan, memberitahu apa yang dia tahu itu pastinya. Melakukan pengecekan secara berkala lebih baik lagi. Mencegah terjadinya luka, hal yang dapat membuat penderita demam, atau segala hal yang dapat menyebabkan imun tubuh diperlukan harus diberitahu, ajar hingga mengeti, bahkan sampai paham benar. dokter itu perlu pendamping seperti penyuluh.

Bila semua cerita benar ini menjadi dasar anda setuju dengan Surat bebas HIV/AIDS sebagai syarat menikah, bukan kan dari tanggapan anda sendiri telah menuliskan dengan jelas banyak pasangan tidak peduli tentang hal yang satu ini.

Contoh:

Ada seorang wanita, cantik, Kristen, pecandu narkoba dan HIV positif. Suatu hari dia merantau ke Jepang untuk bekerja. di sana dia berhubungan dengan banyak lelaki lalu menikah dengan salah satu atasannya. Suaminya ketularan dan mati, anak mereka juga ketularan dan mati. Dia lalu dideportasi karena seseorang yang pernah merawat wanita itu memberi informasi kepada dokter jepang yang merawat suami dan anak wanita itu.

di Indonesia, wanita itu kembali kecanduan lalu masuk panti rehabilitasi. Di sana dia terlibat hubungan badan dengan beberapa mentornya lalu menikah dengan salah satu darinya. Suaminya mati, satu orang mentornya yang lain juga mati. Dia lalu menika dengan seorang penginjil dan dia mati. Penginjil itu lalu berhubungan dengan beberapa wanita.

Mengenai penggunaan jarum suntik narkoba, saya tidak memiliki banyak pengetahuan pun referensi.

Walau demikian bagi saya sebuah surat bebas HIV/AIDS sebagai syarat menikah adalah kelucuan besar. (Aneh rasanya)Apakah Amerika, Eropa, Asia, Afrika atau Australia sebagai asal dari pencetus ide ini?

GEREJA Harus Peduli HIV & Narkoba

Penularan HIV lewat jarum suntik adalah yang paling banyak terjadi di dunia ini. Umumnya itu terjadi ketika para pecandu NARKOBA menggunakan jarum suntik yang sama untuk menyuntikkan narkoba ke dalam tubuhnya. Saya mengunggah sebuah tulisan mengenai Narkoba di SABDAspace dengan judul Jalan Pintas Ke Neraka -Bubuk Kristal Dewa, bila anda berminat silahkan membacanya.

Surat BEBAS HIV/AIDS sebagai syarat menikah di gereja. Itu ide original saya karena sudah MUAK melihat KETIDAK PEDULIAN orang-orang akan penyebaran HIV/AIDS di Indonesia. Anda tahu berapa jumlah penderita HIV/AIDS di Indonesia yang tercatat saat ini? jumlahnya HANYA 3% dari penduduk Indonesia. Anda tahu 3% dari jumlah penduduk Indonesia itu berapa orang? 3% X 200.000.000,= 6.000.000.

BERAPA BANYAK YANG BELUM TERDAFTAR?

Mungkin bang Binsar bisa memberi tahu anda berapa jumlah penderita HIV di Papua sekaligus memberi tahu anda siapa-siapa saja mereka itu?

Penyebaran HIV terjadi karena jarum suntik dan Sex. PEMICU utama penyebaran HIV adalah penggunaan NARKOBA. Apa yang sudah dilakukan oleh gereja untuk mencegah penggunaan Narkoba dan penyebaran HIV? Maaf, tanpa mengurangi rasa hormat, hampir NOL BESAR.

Silahkan tertawa karena menganggap surat bebas HIV untuk syarat menikah lucu bagi anda. komentar anda itu hanya berarti satu hal, anda tidak tahu bahwa anda tidak tahu. Anda tidak tahu apa itu HIV, anda tidak tahu apa itu menderita HIV bahkan anda tidak tahu apa itu menikah dengan penderita HIV. Anda belum pernah bertemu dan hidup bersama dengan para penderita HIV, apalagi mereka yang juga pecandu narkoba. Anda juga belum pernah bertemu dan ngobrol dengan lelaki atau perempuan yang mendapat HADIAH virus HIV di malam pertama pernikahan mereka kan?

Pemikiran saya sederhana. Apabila Surat Bebas HIV menjadi syarat menikah, maka mau tidak mau gereja akan terlibat dalam penyuluhan HIV, dengan begitu juga terlibat dalam penyuluhan NARKOBA. Apabila Jemaat mengetahui apa itu HIV dan NARKOBA, maka mereka akan berusaha untuk mencegahnya dan memperlakukan para penderita HIV dan atau NARKOBA sebagaimana mestinya.

Aku berdosa, namun tidak berani berbuat jahat, mustahil menentang kehendakNya!
Kebaikan dirimu, tak berani kusembunyikan, kejahatan diriku, tak berani kuampuni!

Peduli HIV

Terima kasih untuk tanggapan iah iah, saya pernah meneliti ke Papua, bahkan tahu di Papua (Manokwari) selain ada perda Miras, juga ada perda HIV, saya langsung mewawancarai Kabag Hukum dan HAM, juga sekda, pada waktu itu Bupati Manokwari sedang tidak ada. Saya juga mewawancarai tokoh-tokoh agama, ketua badan kerja sama Gereja, Gembala Sidang, rektor Sekolah teologi dan akademisi lainnya, bahkan di Papua (Jayapura) saya ketika menjadi salah satu pembicara seminar, sempat berdialog dengan tokoh-tokoh disana.
Meningkatnya penderita HIV memang mesti menjadi tanggung jawab pemerintah, tapi jangan membuat aturan yang melanggar Hak-hak individu. Di papua dalam perda AIDS dicantumkan pernyataan bahwa wanita dilarang keluar malam, ini kan perlu didiskusikan, keluar malam untuk apa? Jangan semua wanita yang keluar malam lewat jam 12 dianggap penular HIV, itu kan melanggar hak orang lain dan tidak benar. jadi maksud saya peduli HIV harus, Gereja harus mengkampanyekan bahaya itu, namun dengan cara-cara yang benar.

Mereka juga manusia...

saya makin berpengetahuan dengan membaca artikel2 bang Binsar serta tanggapan2 pembaca yang lain.. Semoga iman saya smakin bertumbuh didalam Tuhan. Amin.
Btw, khusus artikel ini, saya jadi bingung, kita lagi bicarakan apa ya... saya paham HIV atau ODHA.
Tapi perspektif kita memandang kayaknya agak gak kena deh.. Maaf ya, mungkin saya salah menilai. Tapi saya kuatir dengan dampak tulisan ini & tanggapannya.
Pada dasarnya saya gak bersoal dengan surat bebas HIV. Toh, di republik ini terlalu banyak legalitas yg gak sesuai dengan realitas.. Ujung2nya bisa diduitin koq.. Maklum pemerintahnya mayoritas pebisnis. Maaf..saya memilih untuk tidak menjadi munafik atas kehidupan.
Yg jadi masalah, harus ada solusi dalam menghadapi problem yg mendunia ini dus otomatis juga solusi mengenai keberadaan saudara2 kita yg sudah terjangkit.
Saya pernah dengar kegelisahan2 mereka, dari yg menutup diri, memilih bunuh diri, bahkan ada yg bertindak agresif dengan menulari orang lain melalui fasilitas publik. Kesemuanya, karena merasa tidak diterima oleh lingkungan.
Selain itu, pertanyaan mendasar... Mengapa Tuhan ijinkan penyakit itu ada dan menghinggapi umatNya, ciptaanNya; Ditengah kita yg juga umatNya, tapi yg gak terjangkit. Sama seperti Tuhan ijinkan atas penyakit lain atau fenomena ganjil lainnya.
Semoga artikel Bang Binsar bisa memberi inspirasi kepada anak2 Tuhan untuk bisa meminimalisir pertambahan jumlah ODHA; Sekaligus menjadi jembatan kasih bagi mereka untuk menjalani hidup dalam penderitaannya. Bukankah kasih yang menjadi ciri dari pengikut Kristus.
maaf atas kelemahan saya.
Salam dari hambaNya yg hina & miskin ini. GBU.

Tampaknya saya mesti

Tampaknya saya mesti memberikan penjelasan lebih rinci mengenai tulisan saya tentang, Bebas HIV Syarat Menikah, karena adanya komentar yang tidak utuh.
Tulisan saya pada dasarnya mencoba menganalisa suatu usulan yang diajukan beberapa orang tentang bagaimana cara menekan penularan HIV, khususnya penularan terhadap istri, usulan itu adalah tentang perlunya setiap yang menikah memberikan surat bebas HIV/AIDS.
Kemudian saya memberikan pandangan, bahwa usulan itu jika dibuat undang-undang bisa melanggar hak individu, yaitu hak untuk menikah. Namun, pemeriksaan seseorang tertular HIV atau tidak adalah keharusan untuk mencegah penularan yang tidak disadari. kemudian saya mengatakan, sebenarnya pemeriksaan apakah seseorang tertular HIV atau tidak sebelum menikah adalah keharusan, sedang keputusan menikah, tergantung pasangan yang akan menikah, tapi seorang yang terkena HIV tidak boleh mendustai calonnya bahwa dia tidak terkena HIV.
Saya juga memberikan pemikiran bahwa, masalah moralitas itu tidak perlu dipaksakan dengan undang-undang, cukup menjadi tanggung jawab keluarga. Untuk mengerti ini kita perlu mengetahui relasi antara negara dan agama.
Memang ada banyak tanggapan yang tidak mengkritisi bahasan saya, dan ada yang ingin mendapatkan penjelasan lain, itu sebenarnya tak masalah, hanya saja tidak perlu menyimpulkan bahwa yang tidak saya jelaskan dianggap saya tidak mengerti atau dinilai saya menganggap tidak penting, karena konteks bahasannya sekali lagi, "perlukah surat bebas HIV sebagai syarat menikah"singkatnya saya tidak setuju, untuk yang setuju silahkan saja, kalu ada masukan lain, bagus sekali untuk memperluas bahasan. tapi saya berterima kasih untuk semua tanggapan yang diberikan, terima kasih.